4 Fakta Sulitnya Naik Haji Yang Dapat Menguji Kesabaran Kamu

lensaterkini.web.id - Berita tentang penggunaan dana haji Indonesia untuk pembiayaan infrastruktur cepat terdengar media. Memang, keputusan pemerintah memiliki tujuan positif, yakni menginvestasikan uang di tempat-tempat yang tidak memiliki risiko tinggi. Namun sebenarnya, keputusan tersebut justru menimbulkan pro kontra.

Tidak sedikit juga yang mengeluhkan keputusannya. Mengingat masalah jemaah haji sendiri sejak dulu juga menjadi masalah yang tak pernah mudah ditemukan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat Indonesia selalu mengalami kesulitan dalam melakukan ziarah. Berikut adalah beberapa contoh betapa sulitnya ziarah di Indonesia.

Banyak agen haji abal-abal

Jenderal Asosiasi Muslim Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri), Budi Firmansyah, mengatakan bahwa di Indonesia setidaknya ada ribuan agen umrah dan haji yang tidak resmi. Anda harus percaya pernyataan itu, bahkan mendapati diri Anda banyak orang yang gagal meninggalkan ziarah atau umroh karena tertipu agen abal-abal.


Memang, Amphuri telah bekerja sama dengan polisi dan otoritas agama untuk menekan jumlah agen palsu. Namun, begitu banyak agen palsu juga membuat dukun pemerintah. Ini juga salah satu masalah terbesar masyarakat Indonesia yang ingin berziarah.

Kuota terbatas

Kuota haji juga merupakan salah satu yang paling serius bagi Indonesia. Bisa dibayangkan, sebagai negara dengan kepadatan penduduk yang tinggi, tentu kepentingan umum untuk pergi ke Mekah juga tidak sedikit. Saat ini, jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 261,1 juta jiwa.

Sedangkan pada 2013-2016, kuota peziarah dibatasi hanya sekitar 168.800 orang saja. Memang, di tahun ini Indonesia mendapat kuota tambahan sekitar 10 ribu. Jadi total kongregasi tahun ini adalah 221 ribu dan bisa dikatakan angka terbesar dalam sejarah. Namun, kuotanya sangat terbatas bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang jumlahnya ratusan juta orang.

Biaya tidak murah

Banyak orang Indonesia merasa kesulitan untuk haji karena masalah biaya. Tentu saja, saat ini setidaknya dibutuhkan dana sebesar 34,9 juta untuk bisa pergi ke tanah suci. Bagi orang-orang yang, jumlahnya memang tidak ada. Tapi yang pasti menjadi masalah besar bagi kelas menengah ke bawah.


Seperti diketahui, hukum ziarah adalah wajib bagi yang berkemampuan. Mampu memiliki memang memiliki banyak arti, namun bagi masyarakat Indonesia bisa menjadi kekuatan ekonomi untuk sampai ke tanah suci.

Antrian sangat lama Hingga Bertahun - tahun

Selain biayanya tidak murah, panjang antrian untuk bisa berangkat juga tidak kira-kira. Semakin banyak tahun, lamanya antrian selalu menarik perhatian. Panjang rata-rata menunggu bisa mencapai 17 tahun. Namun, ada juga beberapa daerah yang masa tunggu lebih panjang.

Misalnya, daftar peziarah dari Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, memiliki masa tunggu hingga 41 tahun. Padahal, bila dilihat dari data Kementerian Kesehatan, sekitar 62% peziarah Indonesia pada 2016 berusia di atas 60 tahun. Belum lagi jumlah peziarah yang memiliki penyakit sekitar 43,5%.

Itulah empat kesulitan haji bagi masyarakat Indonesia. Maka tak heran sampai ada orang Indonesia yang sangat ingin pergi ke tanah suci dengan berjalan kaki. Ini membuktikan, sesulit apapun, jika ada kemauan akan difasilitasi.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
loading...
Tag : Fakta
Back To Top
Silahkan lanjut baca
Agen Bola