4 Fakta Tersembunyi Qatar Ternyata Dimusuhi Negara Arab Saudi Cs

lensaterkini.web.id - Uni Emirat Arab (UAE), bersama Arab Saudi, Bahrain, Mesir dan Yaman pada Senin (5/6) memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, menuduh negara Teluk itu mendukung dan membiayai terorisme serta mencampuri urusan dalam negeri mereka.

Langkah dramatis itu meningkatkan perselisihan mengenai dukungan Qatar terhadap Ikhwanul Muslimin, gerakan Islam tertua di dunia, dengan menambahkan tuduhan bahwa Doha bahkan mendukung pesaing utama negara Arab, Iran.

Ketiga negara Teluk itu mengumumkan penutupan jalur pengangkutan, yang menghubungkan wilayah mereka dengan Qatar, dan memberi tenggat dua minggu kepada warga Qatar, yang menetap dan berkunjung, meninggalkan negara mereka.

Arab Saudi menuduh Qatar mendukung kelompok garis keras dan menyebarkan paham kekerasan mereka, dengan menggunakan rujukan jelas melalui saluran satelit al Jazeera.

BACA JUGA : 5 Fakta Kekalahan Perang Negara China Melawan Myanmar di Era Kerajaan

"(Qatar) merangkul beberapa kelompok teroris dan sektarian yang ditujukan untuk mengganggu stabilitas di kawasan, termasuk Ikhwanul Muslimin, IS dan al-Qaeda, serta mempromosikan pesan dan skema kelompok tersebut melalui program media mereka secara terus menerus," kata kantor berita SPA seperti ditulis Antara.

Pernyataan itu kemudian menuduh Qatar telah mendukung petempur yang didukung Iran dalam pergolakan di sebagian besar daerah Qatif yang berpenduduk mayoritas Muslim Syiah dan di Bahrain.

Tidak ada reaksi dari pihak Qatar secara langsung menanggapi pengumuman tersebut, namun mereka telah membantah mendukung terorisme atau Iran beberapa waktu yang lalu. Melalui kantor berita negaranya, Mesir, negara Arab berpenduduk paling padat, mengatakan bahwa kebijakan Qatar mengancam keamanan negara Arab dan menabur benih perselisihan serta perpecahan di masyarakat Arab.

Para analis mengatakan keputusan sejumlah negara Arab untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar yang kaya gas akan memberlakukan isolasi regional ketat pada Doha, dan menimbulkan kekhawatiran tentang kesepakatan global untuk mengurangi produksi minyak.

Ekonomi tumbuh tinggi

Pesatnya pertumbuhan ekonomi Qatar disinyalir menjadi salah satu penyebab negara tersebut diboikot Liga Arab. Punya sumber daya alam besar, ekonomi negara dengan penduduk 2,6 juta jiwa ini terbang tinggi.

"Menurut negara liga Arab lainnya, pergerakannya yang terlalu cepat itu memunculkan kisruh diplomasi di Timur Tengah," kata pengamat ekonomi INDEF, Berly Martawardaya, dalam diskusi Populi Center di Gado-gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (10/6).

"Emir yang saat ini memimpin sadar, walau cadangan migas Qatar besar, tantangan di masa depan itu adalah inovasi," tambah Berly.

Pakar politik UIN Jakarta, Ali Munhanif, menambahkan Qatar memanfaatkan keuntungan dari hasil sumber daya alam mereka untuk membangun industri dan pusat keuangan syariah. Perubahan ini membuat Qatar menjadi salah satu raksasa ekonomi di kawasan teluk.

"Qatar adalah satu contoh yang paling tepat bagaimana sebuah negara kecil dengan kemampuan ekonomi luar biasa, mereformasi diri sejak awal. Reformasi ini berhasil, Qatar menjadi negara kecil tapi memiliki pengaruh besar," katanya.

Hal ini membuat negara-negara teluk lain merasa terancam. Perbedaan pandangan antara negara lain ditambah dengan ancaman dari kekuatan ekonomi, membuat Qatar akhirnya dimusuhi.

"Ini sebenarnya gesekan sudah lama. Cuma kebetulan ditemukanlah pemicunya berupa isu 'membantu kelompok teroris' lewat justifikasi dari pidato Donald Trump belum lama kemarin," kata Ali.

Punya ladang gas terbesar dunia

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Berly Martawardaya, menilai pemutusan hubungan negara liga arab dengan Qatar sebenarnya tidak hanya karena tuduhan pendukung terorisme. Perkembangan ekonomi Qatar yang cukup pesat disinyalir merupakan faktor lain, yang membuat Qatar dianggap dapat membahayakan posisi beberapa negara Timur Tengah.

"Dia (Qatar) di Timur Tengah memang sangat kaya, negara kecil dengan kemajuan ekonomi yang sangat pesat. Dia punya kemampuan melakukan inovasi, mengubah hasil penjualan migas menjadi sektor yang lebih banyak menghasilkan uang. Ini yang tidak dimiliki negara Timur Tengah lainnya," ujarnya di Gado-Gado Boplo, Jakarta, Sabtu (10/6).

BACA JUGA : 7 Konflik Paling Mengerikan Yang Masih Terjadi Hingga Kini

Ladang gas Qatar merupakan yang terbesar di dunia, bahkan ladang gas tersebut tidak akan habis hingga 56 tahun ke depan. Pengelolaan kekayaan alam ini membuat Qatar menjadi salah satu negara terpandang di dunia.

Kemampuan Qatar mengelola produksi gas alam, membedakannya dengan negara-negara Timur Tengah lain yang mengeksploitasi minyak bumi. Pembeda tersebut memungkinkan Qatar untuk mengambil jarak dari dominasi Saudi di Timur Tengah.

"Ini tentu membuat gerah negara-negara Timur Tengah lain, kok dia kecil tapi punya banyak duit. Bahkan 56 tahun ke depan tidak akan habis. Uang dari penjualan gas dibuat bangun industri lain, mereka punya beberapa kilang minyak. Mereka kelola semuanya, mereka bikin Airlines yang besar dan mereka bikin media. Mereka sadar punya uang banyak sehingga bangun link yang banyak, supaya bisa berkesinambungan," jelasnya.

Peningkatan ekonomi Qatar ini juga diperkirakan akan berlangsung panjang. Konflik yang terjadi saat ini diharapkan tidak mengganggu strategi bisnis yang telah tertata selama ini.

"Qatar juga punya nafas yang panjang, dia punya airline yang bisa menjadi supplai yang panjang. Jadi kita berharap semangat pembaharuan, transformasi, mudah-mudahan tidak terganggu dengan konflik yang berlangsung pada saat ini," katanya.

AS dan China paling merugi

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya mengatakan Amerika Serikat (AS) dan China merupakan negara yang paling merugi akibat adanya pemutusan hubungan Qatar dengan negara-negara teluk. Sebab, kedua negara tersebut merupakan negara pengekspor terbesar ke Qatar.

"Kalau impor banyakan dari AS dan China. Jadi AS dan China akan dirugikan kalau ini terjadi berkepanjangan," ujar Barley di Gado-Gado Boplo, Jakarta, Sabtu (10/6).

BACA JUGA : 4 Perbuatan Keji Australia Yang Terlupakan Orang Indonesia

Beberapa komoditas yang diekspor dari kedua negara tersebut adalah mobil dan barang mewah. "Dia beli barang barang mewah, beli mobil. Kan dia orang kaya, tidak mau pakai buatan sendiri. Seenggaknya pakai buatan China. Lalu Jepang dan AS," jelasnya.

Dari sisi impor gas, negara-negara yang diprediksi akan merugi adalah Jepang, China dan India. Sebab, sebagian besar kebutuhan gas ketiga negara tersebut dipasok dari Qatar.

"53 persen ekspornya gas. Seperempat di ekspor ke Jepang, seperdelapan ke India lalu ke China. Justru semakin berkepanjangan akan semakin gerah Jepang sama India khususnya, yang punya diplomasi besar di UN (United Nations). Mereka juga akan mendorong supaya cepat selesai," katanya.

Keuntungan bagi Indonesia

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya menilai blokade jalur darat ke Qatar berpotensi mendatangkan keuntungan bagi perdagangan Indonesia. Indonesia dapat memanfaatkan momen tersebut untuk menjalin kerjasama perdagangan agrikultur dengan Qatar.

"Qatar punya 2,5 juta orang tinggal ada disana, tadinya kebutuhannya di kirim lewat Saudi karena mereka berseberangan. Ini potensi bagi kita untuk menawarkan pundi-pundi kita khususnya agrikultur ke Qatar," ujar Berly di Gado-Gado Boplo, Jakarta Pusat, Sabtu (10/6).

Barley mengatakan dalam kondisi saat ini, sulit bagi Qatar untuk memperoleh kebutuhan agrikultur terutama pangan yang memadai. Selain karena supplai yang terus menurun, jalur yang semakin jauh juga menjadi faktor penghambat masuknya pangan ke negara tersebut.

"Jadi peluangnya cukup besar. Harusnya Kemendag segera menghubungi Dubes Qatar untuk menawarkan produk pangan kita. Sekarang di blok kan, daripada tidak ada kebutuhan, orang kan perlu makan. Jadi kita manfaatkan hal ini," jelasnya.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
loading...
Back To Top
Silahkan lanjut baca
Agen Bola