7 Teori Ilmiah Paling Rasis Dan Rendahkan Umat Minoritas

Ilmuwan punya jasa besar terhadap umat manusia, dalam membantu membuat penemuan dan diaplikasikan dalam berbagai teknologi yang membuat kehidupan manusia lebih mudah. Namun ada juga ilmuwan yang ternyata memanfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk menjustifikasikan ideologi rasisme yang ada dalam dirinya.

Semenjak ilmu pengetahuan adalah hal yang dipercaya oleh manusia, hal ini merupakan hal yang buruk. Bagaimana tidak, dampak dari ilmu pengetahuan yang rasis ini justru membuat kaum minoritas terpojok, bahkan tidak dianggap sebagai manusia.

Hal ini pun terjadi sejak lama, dan terjadi terus-menerus bahkan di era ilmu pengetahuan modern. Berikut beberapa kasus penelitian ilmiah yang berkesimpulan memojokkan kaum minoritas.

Teori kurva lonceng

lensaterkini.web.id - Kecerdasan manusia adalah hal yang selalu menarik bagi para ilmuwan. Salah satu yang populer dan kontroversial adalah teori kurva lonceng dari Sir Francis Galton. Menurut teori yang dipaparkan tahun 1869 dalam sebuah karya berjudul Hereditary Genius tersebut, kecerdasan manusia dapat diukur dan dituangkan dalam sebuah grafik yang berbentuk kurva lonveng.

Dalam karyanya tersebut, ada sebuah bagian di mana Galton mencoba untuk memberi peringkat kecerdasan berdasarkan ras dan etnis sebuah kelompok. Dalam hal ini, orang berdarah Afrika kecerdasannya dua tingkat lebih rendah ketimbang orang Eropa. Sementara orang dengan ras Aborigin dari Australia berada di tingkatan paling rendah.

Galton sendiri orang yang sangat berpengaruh dalam ilmu pengetahuan. Namun penelitiannya soal kecerdasan berdasarkan ras, makin mudah dibantah seiring perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Teori Pembersihan Ras dari Alfred Ploetz

Dulu di awal abad ke 20, seorang ilmuwan yang bertitel Eugenika bernama Alfred Ploetz adalah orang yang populer dan berpengaruh. Eugenika sendiri adalah ahli filosofi sosial yang bertujuan memperbaiki ras manusia dengan membuang orang-orang berpenyakit dan cacat serta memperbanyak individu sehat.

Titel yang mengerikan bukan? Benar. Ilmuwan inilah yang membantu Nazi menguasai Jerman dengan iming-iming negara berbasis ras. Hitler pun memberinya titel prestisius berupa profesor. Dari sinilah ide untuk menumpas jutaan Yahudi, orang Slovakia, dan Roma muncul.

Salah satu bukunya yang berjudul "The Efficiency of our Race and the Protection of the Weak", Ploetz menyerukan gagasan bahwa ras Arya adalah ras yang paling superior di muka Bumi. Ia juga menyebut bahwa jika ada persilangan ras dengan ras lain, maka akan ada penurunan kualitas masyarakat. Hal ini berujung pada pembunuhan anak-anak penyandang disabilitas dan pelarangan hubungan antar ras. Dia sendiri di era Partai Nazi masih berkuasa.

Gagasan kecantikan yang jadi standar hingga sekarang

lensaterkini.web.id - George-Louis Leclerc, Comte de Buffon adalah seorang aristokrat Prancis yang hidup di era abad ke 18. Dia disebut-sebut adalah orang yang memperkenalkan kata "ras" untuk pertama kalinya, dan yang pertama mengembangkan teori ras manusia jauh sebelum Charles Darwin. Masalahnya, gagasannya tentang ras masih sangat rasis.

Dalam karyanya, ras Nordik adalah manusia 'asli.' Orang memiliki kulit yang hitam adalah hasil adaptasi dengan cuaca atau iklim yang lebih panas. Dia berpendapat bahwa jika seseorang berpindah ke tempat yang lebih dingin, kulitnya akan lebih terang, yang mana hal tersebut dibantah di era modern.

Gagasannya paling kontroversial di era modern adalah hirarki ras manusia yang ditentukan oleh kecantikan. Gagasan tentang kecantikan sendiri muncul dari dirinya, di mana kecantikan masih Eropa-sentris yang mengacu pada mitologi Yunani. Buffon juga yang memopulerkan kata "Kaukasian" untuk orang kulit putih yang ia sebut sebagai ras dengan wanita tercantik di dunia. Hal tersebut mendarah daging hingga saat ini. Tanpa sadar, ia membuat wanita dari ras non kulit putih akan inferior terhadap kecantikan orang kulit putih.

Teori Skala makhluk hidup dari Sir William Petty

Seorang ilmuwan asal Inggris bernama Sir William Petty yang populer di era abad ke 17, menulis sebuah karya ilmiah yang mencoba menelaah rasisme secara ilmiah. Dia mempunyai gagasan bahwa beberapa ras tak hanya dibedakan dengan adanya perbedaan fisik, namun juga perilaku dan kecerdasan.

Dalam karyanya yang berjudul The Scale of Creatures atau Skala Makhluk Hidup, Petty menyebut bahwa semua makhluk hidup ciptaan Tuhan ada dalam sebuah piramida hirarki. Orang Kaukasian berada di paling atas, dan yang berada di bagian bawah adalah makhluk kecil seperti cacing.

Dalam piramida tersebut, ras manusia diurutkan dari tertinggi yang terrendah, di mana yang berada setelah Kaukasian adalah orang Eropa pertengahan, hingga yang paling rendah adalah orang kulit hitam di pesisir barat Afrika atau lebih dikenal dengan Khoikhoi atau orang Guinea. Bahkan oleh Petty ras manusia terendah tersebut disebut sebagai 'jiwa yang paling mirip dengan monster,' serta paling dekat dengan kera. Teori inilah yang digunakan sebagai justifikasi untuk memperbudak orang klit hitam di era tersebut.

Drapetomania

lensaterkini.web.id - Di abad ke 19, seorang ilmuwan Amerika Serikat bernama Samuel A. Cartwright membuat sebuah teori bernama 'Drapetomania'. Drapetomania mengacu pada kondisi mental yang menyebabkan budak lari dari majikannya. Cartwright punya pandangan bahwa orang kulit hitam adalah kaum yang penurut jika diperintah majikan kulit putih, dan jika lari, berarti dia sakit jiwa.

Cartwright berpendapat bahwa hal ini bisa dicegah dengan perhatian, keramahan, dan perlakuan manusiawi terhadap sang budak.

Parahnya, hal yang 'sok' ilmiah ini merupakan hal yang tak bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Bermodal menyebut struktur otak orang kulit hitam berbeda, hal ini langsung dijadikan justifikasi untuk menganggap budak yang lari adalah budak yang gila. Lebih parah lagi, cara menyembuhkan kegilaan ini adalah dengan 'mengeluarkan setan dari dalam diri budak tersebut,' dengan cara memukulinya.

Orang kulit hitam adalah 'orang kulit putih dengan penyakit kulit'

Di abad ke 18, para ilmuwan di Amerika Serikat sangat tertarik dengan sebuah pertanyaan sederhana: mengapa orang Afrika memiliki kulit hitam.

Meski sudah banyak sekali penelitian yang menyebut bahwa kulit hitam muncul karena faktor lingkungan, beberapa ilmuwan menyebut bahwa hal tersebut terjadi karena penyakit.

Salah satu teori muncul dari Benjamin Rush, yang merupakan salah satu pendiri negara Amerika Serikat. Ialah yang menyebut kata "Negroidism" atau 'negroisme' yang mengacu pada kondisi kulit yang terserang penyakit sehingga kulit menjadi hitam. Menurutnya, ini adalah salah satu jenis lepra yang jinak dan diturunkan ke anak cucu mereka.

Sebagai bukti dari teori anehnya ini, Rush memberi contoh seorang budak bernama Henry Moss, yang secara berkala kulitnya berubah menjadi putih dalam area-area tertentu. Hal ini banyak dipercaya sampai akhirnya ilmu pengetahuan modern membantahnya mentah-mentah. Hal yang dicontohkan Rush merupakan kasus Vitiligo.

Vitiligo sendiri adalah kondisi kulit yang umum terjadi akibat pigmentasi yang hilang pada kulit. Hal ini menyebabkan warna memutih pada area-area tertentu kulit, terutama pada punggung tangan, wajah, dan ketiak. Penyakit ini tidak mematikan dan tidak dapat disembuhkan, namun beberapa warna kulit pada wajah dan leher dapat kembali.

Ilmuwan Jepang gunakan penelitian untuk rasis

lensaterkini.web.id - Tahun 2011, seorang psikolog evolusi bernama Satoshi Kanazawa, menghebohkan dunia setelah mengunggah sebuah tulisan di website Psychology Today. Artikel yang seketika diturunkan dari situs ternama tersebut, menyebutkan bahwa wanita kulit hitam jauh lebih tidak menarik ketimbang orang Asia dan orang Asli Amerika (Indian).

Kanazawa mendasari teorinya tersebut melalui penelitian yang menyebut bahwa orang kulit hitam punya nilai rata-rata kemenarikan 3,5 dari 5, sementara ras lain rata-rata bernilai 3,7. Dari penelitian yang dianggap ilmiah ini, sang psikolog menyebut bahwa orang kulit hitam secara objektif tidak menarik. Hal ini disebut oleh Kanazawa disebabkan oleh ras Afrika yang kaum wanitanya punya kadar testosteron lebih tinggi dan lebih maskulin.

Kanazawa sendiri adalah ilmuwan kontroversial yang cukup sering mendiskreditkan wanita maupun agama tertentu.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
Back To Top
Silahkan lanjut baca
Agen Bola