5 Fakta Mengerikan Tradisi Potong Jari Suku Dani

Setiap tempat punya ritualnya sendiri dalam menunjukkan rasa kehilangan ketika ditinggal salah satu anggota keluarga untuk selamanya. Ada yang mengadakan doa dan syukuran, sampai melakukan tradisi ekstrem yang bikin merinding seperti yang dijalani oleh Suku Dani di Papua. Ya, begitu ada orang dekat yang meninggal mereka akan langsung memutuskan salah satu ruas jarinya.

Bagi kita ritual ini mungkin ekstrem, tapi menurut masyarakat suku Dani, nggak ada cara yang lebih baik untuk mengungkapkan rasa kehilangan selain melakukan ritual berbahaya ini. Rasa sakit yang diterima bagi mereka melambangkan hati dan jiwa yang juga tercabik karena kehilangan.

Untuk mengetahui lebih dalam lagi soal ritual ngeri satu itu, berikut beberapa hal yang mungkin belum kamu ketahui tentang tradisi yang bernama Iki Palek tersebut.

Potong Jari Sebagai Perwujudan Rasa Cinta dan Kehilangan

lensaterkini.web.id - Keluarga bagi suku Dani adalah segala-galanya dan pokok dari kehidupan. Makanya, akan jadi rasa sakit luar biasa jika sampai salah satu dari keluarga ada yang meninggal. Untuk itu kemudian orang-orang di sana menerapkan tradisi Iki Palek alias pemotongan jari tersebut.

Pemotongan jari dimaksudkan sebagai lambang kehilangan yang amat sangat. Rasa sakitnya diumpamakan seperti menderitanya hati ketika saudara meninggal. Makanya, mereka pun seolah tak masalah melakukan ritual menyakitkan ini. Di samping itu, kemauan memutuskan salah satu ruas jari juga jadi bukti kesetiaan mereka terhadap keluarga. Orang-orang Dani tahu betul kalau ritual ini akan sakit, tapi mereka mau melakukannya atas nama kesetiaan.

Iki Palek Hanya Dilakukan Oleh Para Wanita

Awalnya kita mungkin akan beranggapan kalau ritual ini dilakukan oleh semua orang, tapi dalam praktiknya Iki Palek hanya dijalani oleh kaum wanita saja. Biasanya adalah para ibu atau wanita tertua. Jadi, ketika ada kerabat dekat, mungkin suami, anak, atau saudara kandung yang meninggal, maka jari merekalah yang akan diputus.

Mungkin karena hanya dilakukan oleh wanita tertua, maka kita bisa lihat kalau mayoritas ibu-ibu di sana banyak kehilangan buku jarinya. Bahkan ada yang sampai hanya memiliki tiga jari saja yang masih lengkap. Jari yang terputus dari para ibu suku Dani menandakan berapa banyak keluarga mereka yang sudah meninggal. Meskipun katanya hanya dilakukan para wanita, namun pria terkadang juga melakukannya.

Prosesi Pemotongan Jari yang Luar Biasa Ngeri

lensaterkini.web.id - Berbicara soal prosesi, sebenarnya nggak ada yang terlalu khusus dalam ritual Iki Palek ini. Asalkan bisa putus maka cara apa pun sah dilakukan. Biasanya orang-orang di sana menggunakan semacam kapak atau pisau tradisional.

Nggak hanya memakai alat, bahkan kadang ada juga yang memakai gigi alias digigit sampai putus. Soal rasa sakit, jangan tanya karena mereka jelas merasakannya. Tapi, sekali lagi, hal ini adalah tanda kesetiaan yang harus dilakukan. Dan mereka tidak merasa berat karena hal tersebut.

Para Pria Memotong Kulit Telinganya

Nggak hanya para wanita saja yang melakukan tradisi ekstrem sebagai lambang kehilangan, para pria suku dani pun melakukannya. Hanya saja mereka memiliki cara yang agak berbeda. Bukan potong jari, melainkan mengiris kulit telinga.

Prosesinya tidak jauh berbeda, jadi ketika ada saudara yang meninggal maka para pria akan memotong kulit kupingnya. Biasanya mereka melakukan ini dengan menggunakan semacam bilah bambu yang tajam. Nggak sampai situ saja, untuk melengkapi momentum berduka, ada juga ritual mandi lumpur sebagai lambang kalau semua yang hidup pada akhirnya akan kembali ke tanah.

Ritual Potong Jari Sudah Jarang Dilakukan

lensaterkini.web.id - Ritual satu ini konon sudah dilakukan sejak zaman dulu sekali. Dan orang-orang Dani tetap setia melakukannya bahkan di masa-masa sekarang. Tapi, belakangan diketahui jika ritual Iki Palek sudah jarang sekali dilakukan. Penyebab utamanya adalah lantaran pengaruh agama yang menyebar di daerah pelosok Papua.

Meskipun demikian, ada juga yang mengatakan jika ritual ini masih lestari sampai saat ini. Terutama di daerah-daerah yang lebih masuk dan terpencil lagi. Agak dilematis sebenarnya menyikapi ritual yang seperti ini. Di satu sisi hilangnya tradisi menyakitkan ini adalah hal yang baik karena tidak menyakiti, tapi di sisi lain Iki Palek yang tak dilakukan lagi juga seolah mengubur satu budaya asli tanah Papua. Jadi, dikembalikan ke masing-masing orang bagaimana menyikapi fenomena tradisi menyakitkan satu ini.

Setiap tempat punya adatnya sendiri yang mungkin saja sangat berbeda dengan yang kita punyai. Seperti suku Dani dengan ritual pemotongan jarinya ini. Memang ekstrem tapi tradisi mereka sejak lama sudah begitu. Jadi kita wajib menghormatinya. Soal pemotongan jari ini, ritual tersebut juga dilakukan oleh Yakuza lho. Bedanya, mereka memotong jarinya kalau gagal dalam melakukan tugas.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
loading...
Tag : Fakta
Back To Top
Silahkan lanjut baca
Agen Bola