6 Fakta Tentang Film Bangsa Asing Yang Menjajah Layar Televisi Indonesia

Film merupakan hiburan yang masih digandrungi masyarakat Indonesia. Animo masyarakat untuk sekedar antri di bioskop ataupun duduk manis bersama keluarga di depan televisi bisa dibilang cukup tinggi. Meski demikian, di tengah jaya-jayanya industri film tanah air seperti saat ini, ternyata banyak menyimpan sejarah pasang-surut yang membuat industri perfilman nasional benar-benar lesu.

Faktor utama lesunya perfilman tanah air adalah derasnya impor film dari luar negeri. Hal ini tak pelak pernah membuat film nasional tak laku di negeri sendiri. Nah, paling tidak ada 6 fakta yang harus kamu tahu bahwa film luar negeri juga turut pernah menjajah panggung-panggung Indonesia. Kira-kira apa saja fakta-fakta tersebut? Berikut ulasannya.

Film India, Bersaing Sejak Masa kemerdekaan di Pasar Tanah Air

lensaterkini.web.id - Naiknya rating film India di layar televisi Indonesia akhir-akhir ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Sebab, di masa awal kemerdekaan Indonesia, film India sudah bersaing keras dengan film-film lokal. Bioskop Indonesia tercatat sudah menayangkan film India pada tahun 1948. Dalam 100 Tahun Bioskop di Indonesia, Johan Tjasmadi menyebut bahwa saat itu sudah ada 5 film India yang masuk ke Indonesia. Tercatat film Chandraleka adalah film India pertama yang diputar di bioskop Indonesia.

Sama seperti sekarang, masyarakat Indonesia saat itu juga hangat menyambut kehadiran film India di Indonesia. Tema film yang diangkat pun juga tak jauh berbeda dengan tema saat ini, yakni tentang konflik antar anak raja di sebuah kerajaan dongeng. Pada tahun 1949 tercatat ada 34 film India yang masuk Indonesia. Untuk persaingan, pengusaha film lokal pun akhirnya menggenjot produksinya sehingga mampu menekan film India menjadi 12 dan 8 film pada tahun 1950 dan 1951.

Film Malaya, Keberadaannya Bahkan Sempat Mengancam Perfilman Nasional

Film Malaya pernah membuat ancaman serius terhadap keberlanjutan usaha perfilman nasional. Bersamaan ketika film Indonesia dihantam oleh film India, ternyata film Malaya juga ikut datang untuk menggempur pasar lokal. Menurut Alwi Shahab, seorang sejarawan Jakarta, keadaan ini membuat anak-anak muda Indonesia lebih kenal bintang film Malaya ketimbang Indonesia.

Tema yang diangkat film Malaya mencakup keseharian hidup manusia dan remeh-temeh  seputar perceraian, perselingkuhan, dan roman picisan. Film dibuat bebas dari muatan politik dan hal-hal berat. Film Malaya yang merajai panggung bioskop Indonesia saat itu sempat memaksa Usmar Ismail, seorang legenda perfilman Indonesia, menggagas agar pemerintah menerapkan kuota film impor 1:3, artinya tiap 3 film Indonesia yang diimpor ke Malaya, Malaya hanya boleh memasukkan 1 buah filmnya ke Indonesia.

Film Hollywood dan Hongkong, Sempat Membuat Film Nasional benar-benar Lesu

lensaterkini.web.id - Era tahun 90an ditandai dengan munculnya berbagai saluran televisi swasta di Indonesia. Di saat bersamaan Film Hollywood dan Hongkong juga mulai masuk menghiasi layar kaca nasional. Hal ini menyebabkan produksi film nasional kembali lesu setelah sebelumnya di era tahun 70an hingga tahun 80an film Indonesia menemukan kejayaannya. Kelesuan ini bahkan sampai membuat aktor dan aktris yang bermain di layar lebar harus turun gunung ke layar televisi.

Hal ini semakin diperparah dengan ditemukannya teknologi Laser Disc, VCD, dan DVD yang semakin memudahkan masyarakat Indonesia untuk menikmati film-film impor. Kondisi ini paling tidak bertahan sampai film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) dan Petualangan Sherina muncul dan menandakan kebangkitan perfilman nasional di awal tahun 2000. Saat itu, AADC mampu memikat 2,1 juta penonton dan Petualangan Sherina ditonton 1,4 juta orang.

Drama Korea dan K-Pop, Fenomena yang Melakukan Penetrasi ke Budaya Lokal

Sejarah masuknya K-Pop ke jagat hiburan tanah air diawali dengan munculnya beberapa drama seri Korea yang ditayangkan di siaran televisi Indonesia. Salah satu judul yang sangat digandrungi saat itu adalah drama Korea ‘Endless Love’. Setelah itu tak kurang dari 50 judul film korea memenuhi industri hiburan Indonesia. Populernya drama Korea tersebut tentu saja juga membuat segala sesuatu tentang budaya Korea semakin diminati di tanah air, salah satunya adalah bidang musik.

Wabah musik K-Pop semakin menjadi ketika memasuki tahun 2014-2015. Hal ini dapat dilihat bagaimana menjamurnya fenomena girlband dan boyband di Indonesia yang menyerupai apa yang ada di Korea. Sampai di titik ini, musik K-Pop ternyata bukan saja menggeser industri musik tanah air tapi ikut menyebarkan budaya a la Korea-nya.

Anime Jepang, Merajai Industri Kartun Nasional

lensaterkini.web.id - Industri film animasi tanah air boleh dibilang sedang mati kutu. Tak ada film animasi asli Indonesia yang muncul di layar kaca selain Sopo Jarwo & Adit serta Battle of Surabaya di layar lebar. Itupun jika dibandingkan dengan industri anime yang gencar beredar di Indonesia, masih ketinggalan jauh. Anime menjadi fenomena tersendiri bagi masyarakat Indonesia karena sekian lama hiburan satu ini bertahan, belum tampak tanda-tanda keredupannya baik dari sisi komik ataupun bentuk film animasinya.

Anime pertama kali masuk ke Indonesia di awal tahun 1980an. Sampai di tahun 1990an film anime benar-benar menguasai pasar film kartun nasional. Lihat saja di tiap akhir pekan, layar-layar televisi nasional justru ramai diputar film impor asal Jepang tersebut. Saat itu anime semacam Saint Saiya, Sailor Moon, dan Dragon Ball benar-benar menjadi favorit anak-anak Indonesia. Saat ini pun animasi Doraemon, Crayon Sinchan, Naruto, Pokemon, dan One Piece masih menguasai pasar Indonesia.

Kartun Malaysia Sudah Go Internasional, Indonesia? Belum

Selain anime yang berasal dari Jepang, tidak bisa dibohongi industri kartun nasional pun juga masih kalah dengan industri kartun negeri tetangga, Malaysia. Saat ini, anak-anak usia dini tentu akan sangat tertarik dengan kartun animasi Upin & Ipin, BoBoiBoy, dan Pada Zaman Dahulu yang tayang di salah satu saluran televisi swasta. Dan dari manakah kartun-kartun tersebut? Jawabnya adalah Malaysia.

Mirisnya, di tengah redupnya industri kartun tanah air, ada animator-animator Indonesia yang turut mensukseskan kartun animasi asal Malaysia tersebut. Hal ini tentu saja tidak sepenuhnya salah karena memang tidak ada peluang industri serupa yang ada di Indonesia.

Nah, itulah 6 fakta film luar negeri yang pernah menjajah panggung Indonesia. Sebagai sebuah hiburan, memang wajar setiap orang menginginkan sajian yang berkualitas. Dan sebagai sebuah nasionalisme, tentu saja kita harus turut mendukung perfilman nasional dengan datang dan menonton film-film tanah air dengan frekuensi lebih banyak ketimbang film luar negeri. Karena nafas film Indonesia yang menentukan adalah kita sendiri.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
LensaTerkini
Tag : Fakta
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola