7 Fakta Sejarah Bendera Pusaka Indonesia Yang Perlu Diluruskan

Saat di bangku sekolah, kita pasti sudah dikenalkan dengan Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih. Bendera Pusaka merupakan sebutan untuk bendera Indonesia yang pertama dan dijahit sendiri oleh Ibu Fatmawati, istri Presiden Soekarno. Bendera ini sangat bersejarah karena menjadi bendera pertama yang dinaikkan dan dikibarkan pada hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.

Saat ini Bendera Pusaka memang tak lagi dikibarkan di setiap peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Namun, masih disimpan dengan baik di Istana Negara. Ada banyak fakta dan kisah menarik di balik Bendera Pusaka ini. Sebagian besar pasti belum pernah kamu ketahui. Oh ya, ada sebuah info yang juga perlu diluruskan soal Bendera Pusaka. Selengkapnya, ikuti informasinya di sini.

Seorang Perwira Jepang Memberikan Kain Cikal Bakal Bendera Pusaka

lensaterkini.web.id - Suatu hari pada bulan Oktober tahun 1944, Fatmawati didatangi seorang perwira Jepang. Saat itu Fatmawati sedang hamil tua (anak yang kemudian lahir tanggal 3 November 1944 itu diberi nama Guntur). Perwira Jepang tersebut membawakan dua blok kain, warna merah dan putih.

Fatmawati berkata, “Yang satu blok berwarna merah sedangkan yang lain berwarna putih. Mungkin dari kantor Jawa Hokokai.” Kain itulah yang kemudian jadi cikal bakal Bendera Pusaka. Fatmawati menjahit sendiri bendera tersebut dengan mesin jahit tangan. Bukan dengan mesin jahit kaki karena saat itu sudah tak diperbolehkan lagi.

Fatmawati Menjahit Sambil Menitikkan Air Mata

Pemberi kain bendera tersebut rupanya berhubungan dengan pengumuman dari Perdana Menteri Koiso. Tanggal 7 September 1944, Jepang menyatakan berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Meski tak menyebutkan tanggal pastinya, janji tersebut jelas memberi harapan dan titik cerah sendiri bagi bangsa Indonesia.

Menurut penuturan Sukmawati Sukarnoputri, kala itu Fatmawati menjahit sambil menitikkan air mata. Fatmawati terisak karena tak mempercayai pada akhirnya Indonesia bisa merdeka serta punya bendera dan kedaulatan sendiri. Membayangkan bagaimana saat itu Indonesia akhirnya merdeka setelah bertahun-tahun dijajah pasti rasanya bahagia campur haru, ya.

Perwira Tersebut Bernama Chairul Basri

lensaterkini.web.id - Chairul Basri, itulah nama dan sosok perwira Jepang yang memberikan kain ke Fatmawati. Diceritakan bahwa Chairul mendapat kain tersebut dari Hitoshi Shimizu, kepala Sendenbu (Departemen Propaganda). Dalam memoarnya, Apa yang Saya Ingat, Chairul memaparkan “Pada kesempatan itulah ibu Fatmawati bercerita kepada Shimizu bahwa bendera pusaka kainnya dari Shimizu.”

Mundur beberapa tahun ke belakang, pada tahun 1978, Hitoshi Shimizu diundang oleh Presiden Soeharto untuk diberi penghargaan. Saat itu pemerintah Indonesia menganggap Hitoshi berjasa dalam usaha meningkatkan hubungan antara Indonesia dan Jepang. Setelah menerima penghargaan tersebut, Hitoshi lalu bertemu dengan rekan-rekannya semasa pendudukan Jepang.

Kain tersebut didapat dari sebuah gudang Jepang yang berada di daerah Pintu Air, Jakarta Pusat. Kurang lebih letaknya di depan bekas bioskop Capitol. Dan Chairul diminta untuk mengambil kain tersebut dan mengantarkannya ke Fatmawati.

Kain Bendera Pusaka Bukan Terbuat dari Kain Seprai Apalagi Kain Tenda Warung Soto

Inilah info yang perlu diluruskan. Mungkin kamu pernah membaca atau menerima kabar burung kalau Bendera Pusaka terbuat dari kain seprai dan kain tenda warung soto. Setelah ditelisik, pernyataan ini berasal dari Lukas Kustaryo, seorang tentara. Kepada Majalah Intisari, Agustus 1991, ia mengklaim kalau dirinya telah mendapatkan klarifikasi dari Fatmawati langsung.

Kebenaran akan rumor ini jelas diragukan. Namun, Fatmawati dalam bukunya Catatan Kecil Bersama Bung Karno, Volume 1, yang terbit tahun 1978 menjelaskan kalau kain untuk Bendera Pusaka didapat dari pemberian seorang perwira Jepang seperti yang sudah disebutkan di atas.

Desain Bendera Dibuat Berdasarkan Bendera Majapahit pada Abad ke-13

lensaterkini.web.id - Menurut Wikipedia, desain bendera ini dibuat berdasarkan bendera Majapahit pada abad ke-13. Desain bendera Majapahit itu sendiri terdiri dari sembilan garis berwarna merah dan putih yang tersusun selang-seling atau bergantian.

Warna merah dan putih juga punya artinya sendiri. Merah melambangkan keberanian dan putih melambangkan kesucian. Tapi ada juga arti atau makna lainnya. Warna merah konon melambangkan gula aren dan putih melambangkan nasi. Gula aren dan nasi sama-sama bahan penting dalam masakan Indonesia. Perbandingan atau ratio antara merah dan putih pada bendera juga ternyata bukan 1:1 melainkan 2:3 (merah di atas dan putih di bawah).

Bendera Pusaka Pernah Dibawa ke Yogyakarta

Dalam buku-buku sejarah, kita tahu kalau Bendera Pusaka pertama kali dinaikkan dan dikibarkan di rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, usai pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tapi tahukah kalau ternyata Bendera Pusaka juga pernah dibawa ke Yogyakarta?

Jadi setelah Belanda menguasai Jakarta pada tahun 1946, Bendera Pusaka dibawa ke kota Yogyakarta. Saat itu bendera dibawa dalam koper Soekarno. Bendera Pusaka juga pernah dipotong jadi dua lalu diberikan pada Husein Mutahar saat terjadi Operatie Kraai (Agresi Militer Belanda II).

Husein Mutahar ditugasi untuk mengamankan dan menjaga bendera itu dengan nyawa. Meski sempat ditangkap tentara Belanda, ia berhasil melarikan diri. Kemudian, ia membawa kembali bendera tersebut ke Jakarta dan menjahitnya kembali. Bendera itu kemudian diberikan pada Soedjono. Bendera itu kemudian oleh Soedjono diberikan kepada Soekarno yang sedang diasingkan di Bangka.

Setelah Tahun 1968, yang Dikibarkan di Istana Saat Upacara Kemerdekaan adalah Bendera Duplikat

Tercatat setelah tahun 1968, bendera yang dikibarkan di Istana saat upacara kemerdekaan bukan lagi Bendera Pusaka asli melainkan bendera duplikatnya. Bendera Pusaka yang asli memang masih menjadi bagian dari acara tapi disimpan di kotak penyimpanan. Kondisi Bendera Pusaka yang sudah lapuk tak memungkinkannya lagi untuk dikibarkan. Kalau robek, jelas akan menimbulkan masalah sendiri.

Bendera duplikat ini terbuat dari sutra dan dibuat pertama kali tahun 1969. Kemudian tahun 1984, bendera duplikasi pertama tersebut sudah kusam. Akhirnya Husein Mutahar mengirim surat pada Soeharto untuk membuat duplikasi yang kedua. Dan bendera duplikasi ketiga dibuat 30 tahun kemudian yang dikibarkan pada Detik-Detik Proklamasi tanggal 17 Agustus 2015.

Bendera mungkin fisiknya hanya secarik kain berwarna, tapi di balik itu ada perjuangan besar yang tak karuan. Indonesia pada akhirnya bisa mengibarkan sang Pusaka setelah mengalami penjajahan yang keras dan lama. Semoga, sampai kapanpun bendera kita ini akan tetap berkibar dan jadi lambang Indonesia yang semakin kuat dan hebat.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
LensaTerkini
Tag : Fakta
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola