5 Surat Terakhir Yang Dibuat Para Pidana Mati di Indonesia

Detik-detik jelang eksekusi hukuman mati selalu menjadi saat yang mengharukan. Para terpidana mati menjalani hari-hari ditemani rohaniwan untuk mempersiapkan diri sebelum ajal menjelang. Biasanya, momen ini selalu digunakan untuk mencurahkan segala hal yang selama ini masih mengganjal di hati dan pikiran.

Umumnya, para terpidana mati selalu menyampaikan pesan atau wasiat terakhirnya. Mulai dari permintaan maaf pada orang-orang tertentu sampai keinginan tempat peristirahatan terakhir. Kebanyakan meminta disemayamkan di tanah kelahiran mereka.

Di saat-saat menunggu waktu eksekusi hukuman mati itu, ada beberapa terpidana yang mencurahkan isi hatinya melalui sepucuk surat. Surat terakhir para terpidana yang biasanya dibacakan oleh keluarga, pengacara atau rohaniwan. Isinya ada yang mengharukan, ungkapan kekecewaan, pembelaan, hingga ungkapan cinta. Merdeka.com mencatat beberapa terpidana mati yang membuat surat terakhir sesaat sebelum ditembak mati. Berikut paparannya.

Apa karena kami kulit hitam?

lensaterkini.web.id - Empat terpidana kasus narkoba telah dieksekusi mati pada Jumat (29/7) dini hari. Mereka adalah Freddy Budiman (Indonesia), Michael Titus Igweh (Nigeria), Humprey Ejike (Nigeria), dan Gajetan Acena Seck Osmane (Nigeria).

Sebelum dieksekusi mati ketiga terpidana asal Nigeria itu menyuarakan suara hati mereka dalam sebuah surat yang disampaikan melalui pendamping rohani, Karina. Menurut Karina, tak banyak ketiga kliennya inginkan selain meminta pemerintah Indonesia mendengar suaranya."Saat memimpin doa, saya tanya apa yang mereka ingin? mereka ingin menyuarakan suara mereka" ujar Karina saat membacakan surat berbahasa Inggris itu di RS St Carolus, Jumat (29/7).

Berikut surat terakhir terpidana mati asal Nigeria yang diterjemahkan merdeka.com:

Kita akan mencoba untuk menyuarakan suara hati kami dan kami ingin mengungkapkan perasaan kami sebagai tahanan di Indonesia. Kami sudah diisolasi dan diberikan pemberitahuan, kita akan segera menghadapi eksekusi.

Kami ingin tahu mengapa Indonesia ingin membunuh kita (Orang Nigeria) tanpa memberi kami keadilan yang sesungguhnya. Tujuan kita belum selesai bahkan kami belum diberi kesempatan untuk mendapatkan grasi dari Presiden Indonesia.

Jadi mengapa Indonesia tetap membunuh kami seperti ayam? Sementara terpidana dari negara lain, yang telah gagal mendapat grasi, mereka telah dihapus dari daftar eksekusi.

Apakah karena kami orang kulit hitam?
Atau itu karena kami berasal dari negara yang tanpa kerja sama dengan Indonesia?

Sayangnya pemerintah kita tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkan kita. Sementara kita tahu ada banyak orang Indonesia yang bekerja dengan gaji yang baik di Nigeria.
Apa hubungan kita dengan Indonesia?

Sekitar 20 warga Nigeria, berbaris menunggu kematian. Mereka telah dieksekusi 12 orang dan sekarang mereka akan semua sisa 8 tanpa menyelesaikan proses kasus kami.
Apakah itu bukan kejahatan? Atau apa yang bisa kita sebut ini ?

Tertanda
Humprey Ejike, Okonkwo Nongso Kingsley, Eugene Ape, dan Seck Osmane

Berkelakuan baik tak cukup

Gembong narkoba Namaona Denis (48), salah satu terpidana yang dieksekusi regu tembak pada Maret 2015. Sebelum dieksekusi mati, dia menuliskan surat terakhirnya. Bukan ditujukan untuk istrinya, tapi justru untuk Presiden Joko Widodo.

Dengan isak tangis, istri Namaona membaca surat yang ditulis tangan oleh suaminya. Berikut isi surat Namaona Denis:

Assalamuaikum, saya Namaona Denis, orang miskin yang bangkrut dan terpaksa menjadi kurir, saya bukan bandar.

Kepada Bapak Preseden, dan seluruh rakyat indonesia saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kesalahan saya, karena sebagai manusia saya tidak lepas dari kesalahan.

Perubahan hukuman saya dari hukuman seumur hidup menjadi pidana mati telah 14 tahun keadilan yang sampai saat ini masih saya perjuangkan. Saya mohon masyarakat memahami perjuangan saya memperoleh keadilan agar tidak ada orang lain mengalami perlakuan seperti saya.

Karena ternyata berkelakuan baik dan patuh pada aturan negara ini saja tidak cukup untuk memperoleh keadilan.

Karena itu melalui surat ini (surat dari komnas) saya masih terus memperjuangkan keadilan yang tidak pernah saya dapatkan.

Dan atas nama saya dan keluarga berkali-kali saya memohon ampun kepada Alloh dan meminta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Wasalam Mualaikum Warohmatulahi Wabarokatuh.

Angela tetap hidup dalam kasih Tuhan

lensaterkini.web.id - Raheem Agbaje Salami, salah satu terpidana mati kasus narkotika yang dieksekusi April 2015. Sebulan sebelumnya, dia dipindahkan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Madiun, Jawa Timur ke Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Sebelum dieksekusi mati, Raheem menulis surat cinta yang ditujukan pada kekasihnya. Saat itu Angela diketahui masih duduk di bangku kelas XII Sekolah Menengah Kejuruan Kota Madiun. Isinya cukup menyentuh hati.

Berikut beberapa kutipan isi surat cinta terakhir Raheem untuk sang kekasih.

Angela tetap hidup dalam kasih Tuhan, bertekun dalam doa dan pendalaman iman. Aku doakan agar Angela dapat menyelesaikan ujian akhir nasional SMA dan lulus dengan nilai yang baik.

Terima kasih untuk segalanya, kebersamaan yang tercipta dengan baik sebagai anugerah Tuhan, saya boleh mengenal dan mencintai kamu. Walau singkat, semua memiliki makna sangat mendalam dalam hidupku. Kamu bisa menerima aku apa adanya.

Namamu sudah kutato dalam hatiku

Tiga hari sebelum dieksekusi mati di Nusakambangan pada 28 April 2015, salah satu dari gembong narkoba duo Bali Nine, Andrew Chan menulis surat yang isinya cukup mengharukan. Surat itu ditujukan untuk Kai, keponakannya yang saat itu masih berusia delapan bulan.

Ini isi surat terakhir Andrew Chan untuk Kai

25-04-2015

Kai sayang,
Hai Kai, ini pamanmu Andrew. Saat kamu membaca surat ini mungkin kamu sudah sudah bisa bicara dan berjalan. Terakhir aku melihatmu, kamu baru bisa berguling-guling di dalam pondok ketika kamu mengunjungiku di Bali.

Ini adalah perjalanan panjang Kai, aku melakukan hal buruk ini ketika aku masih muda yang mengakibatkanku mendekam di dalam penjara. Saat ini, surat ini yang kutujukan untukmu adalah satu-satunya surat yang akan kamu baca hingga tiba saatnya kita bertemu di surga nanti.

Aku sering bermimpi tentangmu, bahkan suatu saat nanti saat kamu dewasa aku bisa menyaksikan pernikahanmu, namun hal itu tidak akan pernah terjadi.

Aku banyak belajar ketika berada di dalam penjara mengenai betapa berharganya sebuah kehidupan. Aku sungguh berharap dapat mengenalkanmu kepada Jesus yang telah menyadarkanku dan mengasihiku dengan cara yang luar biasa.

Kai, aku sangat menyayangimu. Namamu sudah ku tato di dalam hatiku, kamu akan selalu menjadi keponakan favoritku. Tolong, selalu dengarkan apa kata ibu dan ayah. Mereka adalah orangtua yang sangat baik dan selalu menyayangimu bagaimanapun keadaannya.

Aku berdoa agar suatu saat nanti aku dapat melihatmu kembali di surga, Kai. Kamu kuberi nama panggilan kesayangan 'piggytron' saat kamu lahir dulu.

Aku menyayangimu Kai, teruslah percaya dan berada di jalan Jesus, dan belajarlah dari kesalahanku.

Aku yang selalu menyayangimu,
Pamanmu, Andrew Chan

Sampaikan kasih mesra ananda kepada keluarga

lensaterkini.web.id - Usman dan Harun dua prajurit TNI AL dieksekusi mati pada 17 Oktober 1968 di Penjara Changi, Singapura. Mereka dieksekusi setelah menjalani hukuman penjara hampir 3 tahun sejak ditangkap Polisi Peronda laut Singapura 13 Maret 1965.

Changi Prison 14 Oktober 1968

Dihaturkan Yang Mulia Ibundku, Aswiani binti Bang, Yang Diingati Siang dan Malam.... "Ibunda yang dikasihani, surat ini berupa surat terakhir dari ananda Tohir. Ibunda, sewaktu ananda menulis surat ini, hanya tinggal beberapa waktu saja ananda dapat melihat dunia yang fana ini. 

Pada tanggal 14 Oktober 1968 rayuan ampun perkara ananda kepada Presiden Singapura telah ditolak, jadi mulai dari hari ini ananda hanya tinggal menunggu hukuman yang akan dilaksanakan tanggal 17 Oktober 1968.

"Mohon Ibunda, ampunilah segala dosa-dosa dan kesalahan ananda selama ini. Sudilah Ibundaku menerima ampunan dan sembah sujud dari ananda yang terakhir ini. Tolong sampaikan kasih mesra ananda kepada seisi kaum keluarga. Ananda tutup surat ini dengan ucapan terimakasih dan selamat tinggal untuk selama-lamanya. Amin." (petikan surat Harun Said Tohir Mahdar).

Sedang Usman menulis surat untuk ibunya pada 16 Oktober 1968 setelah diberi tahu permohonan ampunannya ditolak oleh Presiden Singapura, yakni satu hari menjelang eksekusi mati dengan cara digantung.

Changi Prison 16 Oktober 1968

Dihaturkan Bunda ni Haji Mochamad Ali, Tawangsari "Ananda berharap dengan tersiarnya kabar yang menyedihkan ini tidak akan menyebabkan akibat yang tidak menyenangkan bahkan sebaliknya ikhlas dan bersyukurlah sebanyak-banyaknya rasa karunia Tuhan yang telah menentukan nasib ananda sedemikian mustinya".

"Dihaturkan Yang Mulia Ibundaku Aswiani binti Bang Yang diingati siang dan malam.... Hukuman yang akan diterima oleh ananda adalah hukuman digantung sampai mati. Di sini Ananda harap kepada Bunda supaya bersabar karena setiap kematian manusia adalah tidak siapa yang boleh menentukan. Satu-satunya yang menentukan ialah Tuhan Yang Maha Kuasa dan setiap manusia yang ada di dalam dunia ini tetap kembali kepada Illahi."

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
LensaTerkini
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola