5 Kudeta Militer Yang Gagal Paling Dramastis Dalam Sejarah Modern

Kudeta militer adalah salah satu manuver politik ekstrem yang bisa dialami negara manapun. Elit tentara, entah didukung rakyat atau tidak, mengambil alih pemerintahan karena perbedaan visi. Tentara memaksimalkan keuntungan sebagai pemegang senjata resmi, untuk mempengaruhi atau malah merebut kekuasaan.

Indonesia pernah mengalami kudeta militer pada 30 September 1965. Demikian juga negara-negara lain, mulai dari Filipina, Kenya, Mesir, hingga Turki yang baru saja selamat dari percobaan perebutan kekuasaan oleh tentara.

Namun, tidak semua upaya kudeta berhasil. Seringkali tentara gagal merebut simpati rakyat saat merebut pemerintahan. Hasilnya tak cuma gagal total, tentara yang terlibat pun rentan dijatuhi hukuman mati atau penjara seumur hidup karena berkhianat.

Banyak faktor yang bisa menjelaskan tingkat keberhasilan kudeta militer. Namun setidaknya dukungan rakyat akan sangat menentukan. Contohnya Mesir dan Thailand, sosok pemimpin pemerintahan tak punya massa yang cukup kuat pada saat genting, sehingga akhirnya terguling. Sedangkan di Turki atau Venezuela, rakyat bersatu padu bersama sang pemimpin menggagalkan upaya perebutan kekuasaan.

Namun, dalam daftar ini, terlihat juga ada pemimpin yang selamat dari kudeta berkat nasib baik belaka. Di mana saja kudeta militer gagal secara dramatis karena sang pemimpin tetap didukung rakyat atau kebetulan sedang sangat mujur?

Kudeta Filipina 1989

lensaterkini.web.id - Corazon Aquino, akrab disapa Cory, awalnya cuma ibu rumah tangga biasa di Filipina. Kebetulan, suaminya adalah Benigno Aquino, senator yang populer di kalangan rakyat kecil.
Peruntungan Cory berubah setelah sang suami ditembak mati oleh orang suruhan Presiden Ferdinand Marcos di Bandara Manila sepulang dari pengasingan pada 1983.

Cory Aquino dan senator Salvador Laurel dengan berani turun langsung mengambil alih kepemimpinan oposisi menentang Marcos. Sang diktator Filipina itu kemudian tersingkir setelah kalah dalam pemilu 1985, disusul unjuk rasa besar yang kerap disebut people power dalam sejarah Filipina.

Ketika berkuasa, Cory ternyata menghadapi banyak cobaan. Dia setidaknya mengalami tujuh kali upaya kudeta oleh militer dari Juli 1986 sampai Desember 1989. Upaya kudeta paling dramatis terjadi pada 1 Desember 1989. Pelakunya adalah Kolonel Gregorio Honasan, perwira yang dianugerahi bintang kehormatan Revolusi EDSA oleh Cory lantaran membantunya menggulingkan Marcos.

Honasan dibantu Jenderal Edgardo Abenina, dan Purnawirawan Jenderal Jose Zumel menggalang pasukan loyal, dengan niat menyandera Cory di Istana Malacanang. Pasukan Honasan awalnya tampak akan berhasil melakukan kudeta. Bandara Manila dan gedung-gedung pemerintah dikuasai kurang dari sehari. Cory hampir pasti terguling, karena dukungan rakyat juga terbelah. Para tentara itu mengkritik maraknya korupsi dan kesenjangan sosial di masa pemerintahan Cory Aquino.

Ternyata upaya enam kudeta sebelumnya sudah memberi Cory pengalaman menghadapi situasi krisis. Presiden perempuan pertama di Asia Tenggara itu meminta bantuan militer Amerika Serikat. AS bergegas mendukung Cory, dengan mengirim pesawat tempur untuk memulihkan keadaan.

Hanya dalam dua hari, situasi berbalik. Seluruh tentara yang loyal pada Presiden Cory Aquino mengerahkan senjata berat, termasuk jet tempur, menggempur basis tentara pengkudeta. Lebih dari 99 orang tewas dam 570 lainnya luka-luka dalam pertempuran lima hari. Kudeta 1989 berakhir setelah tujuh hari perlawanan.

Kudeta Kenya 1982

Kenya di penghujung era 70-an dipimpin oleh Daniel Arap Moi, presiden yang berjanji melakukan reformasi ekonomi pada rakyat. Rupanya janji tinggal janji, Moi menjadi sangat otoriter setelah berkuasa. Kenya diubah menjadi negara satu partai.

Pada 1982, sekelompok tentara sepakat menggulingkan sang diktator Kenya. Upaya kudeta ini terutama didukung oleh tentara dari Angkatan Udara.

Masalahnya, walau niat mereka sejalan dengan ketidakpuasan rakyat, ternyata pasukan pemberontak tidak disiplin saat beraksi. Tentara itu bertindak serampangan, mabuk, bahkan menjarah toko ketika menyerbu Ibu Kota Nairobi. Lebih tragis lagi, walau statusnya angkatan udara, mereka justru menyerang lewat darat tanpa memakai pesawat pembom atau jet tempur.

Simpati rakyat pun gagal terbangun. Hanya segelintir mahasiswa di Nairobi yang mendukung upaya kudeta. Alhasil, Moi berhasil mengonsolidasikan kekuatan dengan milisi sipil serta tentara lain yang masih loyal.

Moi terusir beberapa hari saja dari Nairobi, kemudian memukul balik pasukan pemberontak. Total korban tewas mencapai 600-an orang. Moi berkuasa 24 tahun, paling lama sepanjang sejarah Kenya. Dia baru turun tahta sebagai presiden pada 2002.

Kudeta Soviet 1991

lensaterkini.web.id - Uni Soviet pada 19 Agustus 1991 tiba-tiba mengalami krisis politik yang akan mengubah nasib bangsa itu selama-lamanya. Sang pemimpin republik unitaris komunis, Mikahil Gorbachev, tiba-tiba ditahan oleh beberapa pejabat partai serta tentara berhaluan garis keras. Sejumlah menteri serta pejabat keamanan negara ikut terlibat dalam kudeta ini.

Gorbachev dibawa paksa dari Istana Kremlin, menuju rumah peristirahatan di Semenanjung Crimea. Dia dijadikan tahanan rumah. Para penculik menganggap Ketua Partai Komunis Rusia itu berkhianat terhadap cita-cita sosialisme, karena hendak melakukan reformasi ekonomi, membuka arus informasi, serta memberi otonomi yang lebih besar bagi negara bagian Soviet.

Kudeta itu justru digagalkan oleh Boris Yeltsin, seteru abadi Gorbachev. Yeltsin sebagai tokoh reformis menyerukan pembebasan Gorbachev secara dramatis, dengan menaiki tank menuju Kremlin. Rakyat di Moskow, melihat sosok Yeltsin terlibat, turut menolak upaya kudeta Gorbachvev. Aktor kudeta lantas menyadari tidak punya dukungan di akar rumput maupun elit partai lainnya.

Setelah tiga hari, kudeta ini gagal total. Menteri Pertahanan Dmitri Yazov dan Kepala Badan Intelijen KGB Vladimir Kryuchkov dihukum penjara. Sedangkan Menteri Dalam Negeri Boris Pugo bunuh diri sebelum ditangkap aparat.

Malang bagi Gorbachev, popularitasnya justru malah turun setelah penculikan itu. Dua pekan berikutnya, Estonia, Latvia dan Lithuania memisahkan diri dari Uni Soviet. Negara komunis terbesar di muka bumi itu bubar pada Desember 1991. Yeltsin, yang membela musuh politiknya pada saat genting, populer di mata rakyat. Dia menjadi presiden pertama Rusia setelah Soviet bubar.

Kudeta Venezuela 2002

Hugo Chavez adalah pemimpin Venezuela yang berangkat dari latar militer. Pada Februari 1992, Chavez pernah memimpin usaha untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Carlos Andres Perez yang dianggap tak becus mengurus ekonomi. Gerakan kudeta para perwira muda itu ditumpas dalam waktu singkat. Namun Chavez justru menjadi sosok yang lebih populer di mata rakyat. Cemas Dan Berpikiran Negatif, Atasi Aja Dengan Makanan Ini!

Pada 1998, Chavez berhasil memenangkan pemilu. Dia mengubah Venezuela menjadi negara sosialis yang mengedepankan program populis bagi rakyat. Chavez secara cepat mendapatkan dukungan luas, tidak hanya dari kalangan masyarakat miskin di masyarakat Venezuela. Tetapi juga dari kalangan kelas menengah.

Namun kebijakan sosialis itu membuat Chavez dimusuhi oleh oligarki pengusaha serta politikus sayap kanan. Pada 11 April 2002, tentara pembangkang yang didukung korporasi memaksa sang presiden keluar Istana Negara. Mereka menyerang ibu kota, serta mencanangkan status darurat sipil. Kudeta ini sempat didukung oleh pemerintah Amerika Serikat dan Spanyol.

Ketua Federasi Kamar Dagang Venezuela (Fedecamaras) Pedro Carmona memproklamirkan diri sebagai presiden baru. Siapa sangka, ternyata rencana kelompok kanan direspon dengan unjuk rasa serta perlawanan balik tentara loyalis Chavez.

Kelompok pengkudeta cuma bertahan di istana selama 47 jam. Camonara ditangkap dalam waktu singkat. Pasukan Pengawal Presiden merebut Istana Miraflores dari tangan kelompok militer yang mendukung kudeta Carmona tanpa melepaskan satu butir peluru.

Kudeta Turki 2016

lensaterkini.web.id - Tak ada angin dan hujan, militer Turki tiba-tiba melakukan kudeta terhadap pemerintahan Presiden Reccep Tayyip Erdogan. Pergerakan militer keluar dari barak terjadi Jumat (15/7) pukul 22.00 waktu setempat di Ibu Kota Ankara dan Istambul.

Perdana Menteri Turki Binali Yildirim membenarkan adanya kudeta. Dia memperoleh informasi intelijen jika aksi penggulingan pemerintah ini didalangi oleh segelintir pejabat militer.

"Pemerintah yang sah masih berdiri, kami akan melakukan segala cara untuk mempertahankan diri," ujarnya. Presiden Erdogan aman, walau hotel tempatnya menginap di kota lain dikabarkan dibom. Kudeta ini terjadi ketika Erdogan sedang berada di Kota Marmaris untuk liburan.

"Saya mengimbau rakyat Turki untuk berkumpul di alun-alun dan bandara melawan kudeta. Saya selalu percaya, kekuatan rakyat lebih besar dari apapun," ujarnya. Ribuan rakyat Turki turun ke jalan pada Sabtu (16/7) dini hari, memprotes penggulingan Erdogan. Beberapa polisi yang loyal pada Erdogan ikut berusaha menangkap tentara. Tembak menembak, ledakan, serta bentrok terjadi di Ankara, menewaskan 60 orang. Pada akhirnya, Erdogan menang. Sebanyak 335 tentara yang terlibat kudeta ditahan.

Angkatan Bersenjata Turki ternyata punya sejarah khusus terkait upaya perebutan kekuasaan lewat cara kekerasan. Tentara Turki tidak asing dengan kudeta sebagai upaya mengganti rezim yang dirasa berseberangan dengan agenda elit militer. Kudeta pertama terjadi pada 1961. Kudeta kemarin adalah upaya kelima dalam sejarah, dan satu-satunya yang gagal karena aksi dramatis rakyat Turki membela Erdogan.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
LensaTerkini
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola