4 Fakta Tentang Kerusuhan di Tanjungbalai

Pada Jumat (29/7) malam, suasana Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara (Sumut) mencekam. Ratusan massa membakar dan merusak sejumlah vihara dan klenteng di kota tersebut. Aksi massa tersebut dipicu protes seorang warga terhadap azan masjid di Jalan Karya, Tanjungbalai.

"Kejadian ini berawal dari adanya permintaan seorang warga Tionghoa, M (41), warga Jalan Karya Tanjungbalai Balai yang menegur nazir Masjid Al Makhsum yang ada di Jalan Karya dengan maksud agar mengecilkan volume mikrofon yang ada di masjid, di mana menurut nazir masjid bahwa hal tersebut telah diungkapkan beberapa kali," kata Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Rina Sari Ginting. Berikut ini merupakan fakta-fakta kerusuhan Tanjungbalai.

Sejumlah rumah ibadah dirusak

lensaterkini.web.id - Kerusuhan bernuansa suku agama ras dan antargolongan (SARA) terjadi di Kota Tanjungbalai, Sumut, Jumat (29/7) malam. Sejumlah vihara dan klenteng dibakar dan dirusak massa yang mengamuk.

Berdasarkan informasi dihimpun, aksi anarki terjadi sekitar pukul 23.00 WIB. Kejadian ini dipicu emosi warga terhadap sikap pasangan suami-istri di Jalan Karya, Tanjungbalai. Ribuan orang turun ke jalan setelah mendengar adanya kabar keluarga itu disebutkan melarang kumandang azan dari Masjid Al Makhsun.

Massa dilaporkan sempat mendatangi kediaman pasutri itu. Namun jawaban yang diterima membuat massa semakin emosi. Rumah dirusak dan dilempar bom molotov. Kedua pasutri langsung diamankan petugas kepolisian.

Jumlah massa semakin banyak. Mereka bergerak ke rumah ibadah di Jalan Asahan-Tanjungbalai. Sekurangnya 5 unit bangunan vihara dan klenteng dirusak. Perusakan dan pembakaran peralatan di rumah ibadah itu pun terjadi.

Polisi melansir, massa melakukan pembakaran terhadap isi dari 1 unit Vihara dan 3 unit klenteng 3 unit mobil, 3 unit sepeda motor dan 1 unit betor di Pantai Amor; merusak barang-batang 1 unit klenteng di Jalan Sudirman, merusak barang-barang dalam 1 unit klenteng dan 1 unit praktik pengobatan Tionghoa serta 1 unit sepeda motor di Jalan Hamdoko; merusak barang-barang 1 unit klenteng di Jalan KS Tubun dan 1 unit bangunan milik Yayasan Putra Esa di Jl Nuri; membakar barang-barang dalam 1 unit vihara di Jalan Imam Bonjol, merusak isi bangunan Yayasan Sosial dan merusak 3 unit mobil di Jalan WR Supratman, merusak pagar vihara di Jalan Ahmad Yani, membakar barang-barang yang ada dalam 1 unit klenteng di Jalan Ade Irma.

"Jenis barang-barang yang dibakar maupun yg dirusak massa di dalam Vihara dan Kelentang itu berupa peralatan sembahyang seperti dupa, gaharu, lilin, minyak dan kertas, meja, kursi, lampu, lampion, patung Budha, dan gong," kata Kabid Humas Polda Sumut AKBP Rina Sari Ginting, Sabtu (30/7)..

Kondisi keamanan di Kota Tanjungbalai mulai terkendali setelah ratusan personel Brimob Asahan membubarkan kerumunan. Warga yang masih berada di luar rumah diminta menghentikan penyisiran rumah ibadah.

Tak ada korban jiwa dalam kerusuhan di Tanjungbalai

Polisi memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kerusuhan bernuansa SARA yang terjadi di Kota Tanjungbalai, Sumut, Jumat (29/7) malam. Masyarakat diminta tenang dan tidak terprovokasi isu menyesatkan.

"Tidak ada korban luka. Sementara keluarga pemicu aksi massa masih diamankan di Polres Tanjungbalai," kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting, Sabtu (30/7).

Masyarakat Sumatera Utara diimbau agar tetap tenang, "Jangan mudah terprovokasi oleh isu-isu dan informasi yang belum jelas kebenarannya," imbau Rina. Dia memaparkan kondisi di Tanjungbalai saat ini sudah kondusif. Ratusan personel keamanan telah ditempatkan di sana.

Sebanyak 200 personel Polres Tanjung Balai dibantu TNI AL terus melakukan pengamanan di Tanjung Balai. Mereka juga dibantu 100 personel yang digerakkan Polres Asahan, 60 personel Brimob Subden 3B, 30 personel Polres Batubara, 75 personel Tebing Tinggi.

Sementara itu upaya meredam kerusuhan juga terus dilakukan. "Pertemuan antara tokoh agama dan tokoh masyarakat, pimpinan etnis, Kemenag, MUI dan FKPS segera digelar pagi ini," jelas Rina.

Polisi amankan 7 penjarah

lensaterkini.web.id - Pihak kepolisian mengamankan tujuh warga yang kedapatan melakukan penjarahan dalam kerusuhan di Kota Tanjungbalai pada Jumat (29/7) malam. Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting, mengatakan tujuh warga tersebut ketahuan mengambil barang milik warga lain ketika kerusuhan berlangsung sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari.

Sabtu (30/7) ketujuh penjarah tersebut langsung diamankan ke Mapolres Tanjungbalai untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, termasuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Namun Kombes Rina Sari belum menyebutkan identitas dan langkah lanjut yang akan dilakukan terhadap tujuh penjarah tersebut.

Pihak kepolisian terus menyiagakan personel di berbagai lokasi untuk mengantisipasi terjadinya kerusuhan susulan atau tindak kejahatan lain yang merugikan masyarakat. Pihak kepolisian juga terus mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi agar kerusuhan berbau SARA itu tidak berlanjut.

Menurut dia, pihak kepolisian dan pemerintah daerah setempat telah menyepakati pertemuan untuk membahas kerusuhan berbau SARA tersebut. Selain unsur pemerintah dan Kementerian Agama, pertemuan itu juga melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, pimpinan etnis, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tanjungbalai.

Sebelumnya, terjadi kerusuhan berbau SARA di Kota Tanjungbalai yang diduga karena adanya keberatan dari seorang etnis Tionghoa atas volume azan yang dikumandangkan di salah satu masjid. Tanpa diduga, informasi itu cepat menyebar dan berujung pada kerusuhan yang berbau SARA. Peristiwa itu menyebabkan sembilan rumah ibadah milik umat Buddha dirusak massa.

Polisi buru provokator di medsos

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan sejumlah orang sudah diperiksa terkait kerusuhan di Tanjungbalai, Sumatera Utara (Sumut), Jumat (29/7) malam hingga Sabtu (30/7) dinihari. Petugas keamanan juga tengah mencari pihak yang memposting konten provokatif di media sosial yang diduga turut memicu insiden itu.

"Ada beberapa orang yang telah dilakukan pemeriksaan. Nanti kita akan lihat perbuatannya, kalau perbuatannya melanggar hukum akan kita proses. Tapi kalau tidak ada, tidak diproses," kata Tito di Mapolda Sumut, Sabtu (30/7) sore.

Tito juga sempat menyinggung soal aktivitas di media sosial yang diduga turut menyulut kerusuhan itu.

"Peristiwa tadi malam itu juga karena adanya isu-isu provokatif di media sosial. Jangan sampai terpengaruh. Ada macam-macam gambar, itu jangan terpengaruh," ucapnya. Mantan Kapolda Metro Jaya ini juga meminta agar masyarakat menjaga kekompakan dan kerukunan umat beragama di Sumut yang selama ini sudah terjaga dengan baik.

"Masyarakat silakan terus melaksanakan aktivitasnya secara normal dan jangan sampai terprovokasi isu-isu negatif terutama melalui medsos," jelas Tito. Terkait pihak tidak bertanggung jawab yang memposting konten provokatif, Tito menyatakan, mereka masih menelusurinya. "Nanti akan kita cari kalau memang ada yang mengirimkan ke medsos (konten) yang berbau provokatif," ujarnya.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
Tag : Fakta
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola