7 Fakta Pahlawan Dari Dayak Jadi Sosok Bergabungnya Kalimantan Dengan Indonesia

Tidak banyak yang tahu siapa itu Tjilik Riwut meski namanya telah diabadikan menjadi bandar udara di Palangkaraya. Padahal, ia adalah sosok yang sangat berjasa bagi Indonesia dan merupakan tokoh hebat dari suku Dayak, Kalimantan.

Tidak hanya aktif di bidang militer saja, ia juga menjadi sosok berjasa yang di balik bersatunya Kalimantan dengan Indonesia. Berikut ini beberapa fakta tentang kehidupan tokoh hebat tersebut. Mari simak ulasan dari 7 Fakta Tjilik Riwut.

Pria Tangguh yang Mengelilingi Kalimantan Hanya dengan Jalan Kaki

lensaterkini.web.id - Tjilik Riwut adalah orang asli Kalimantan yang berasal dari suku Dayak Ngaju. Dengan bangga ia menyebut dirinya sebagai orang hutang karena terbiasa hidup di alam liar Kalimantan. Bahkan semasa hidupnya, ia sudah 3 kali mengelilingi pulau Borneo tersebut hanya dengan jalan kaki serta menggunakan sampan.

Sejak kecil ia memang merupakan sosok yang sangat dekat dengan alam. Tanpa ragu ia akan memasuki hutan tanpa baju dan alas kaki serta hanya mengenakan celana panjang. Mungkin hal itu pula yang membuatnya begitu lincah bertempur di medan perang meski harus berada di dalam hutan.

Pernah Bekerja Sebagai Pers yang Menyuarakan Perjuangan Nasional

Ketertarikannya dalam dunia tulis menulis membuatnya memutuskan untuk menjadi wartawan. Tahun 1940, ia sudah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Suara Pakat. Di kurun waktu yang sama, ia juga bekerja sebagai koresponden Harian Pemandangan.

Dalam bidang jurnalisme itulah Tjilik Riwut turut menyumbangkan tenaga dan pikiran dengan menyebarkan berita seputar pergerakan nasional di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Tapi kiprahnya di dunia pers tidak berlangsung lama karena Jepang mendarat di Balikpapan tahun 1942.

Mengumpulkan Informasi dengan Bekerja Pada Intelijen Jepang

lensaterkini.web.id - Ketika Jepang menguasai Indonesia, Tjilik Riwut beralih profesi menjadi intelijen militer Jepang. Tugasnya adalah untuk mengumpulkan data-data tentang keadaan di Kalimantan, tapi bukan berarti dia sedang berkhianat. Dia melakukan tugas penting demi Indonesia.

Ia mendapatkan jabatan dari pemerintah pendudukan Jepang yang membuatnya punya akses ke seluruh daerah di Kalimantan. Hal inilah yang ia manfaatkan untuk menjalin komunikasi dan koordinasi dengan beragam suku di Kalimantan. Tjilik Riwut meyakinkan mereka agar tetap setiap dan mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Menjadi Wakil Kalimantan Setelah Indonesia Merdeka

Indonesia akhirnya merdeka dan Tjilik Riwut dipercaya menjadi Perwakilan Dewan Pimpinan Penyelenggaraan Ekspedisi ke Borneo di Yogyakarta. Tahun berikutnya, ia mewakil 185 ribu rakyat Dayak di pedalaman Kalimantan yang terdiri dari 142 suku, 145 kepala kampung, 12 kepala adat, 4 kepala suku, 3 panglima, 10 patih, 2 tumenggung, dan 2 kepala burung untuk menyatakan sumpah setia kepada Republik Indonesia.

Sumpah ini berarti Kalimantan telah menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para anggota suku ini juga bersumpah akan mempertahankan daerahnya masing-masing dari serangan tentara NICA yang berusaha merebut kembali Indonesia.

Terjun di Bidang Militer demi Mempertahankan Kemerdekaan

lensaterkini.web.id - Tjilik Riwut kemudian terjun ke dunia militer dan menjadi Komandan Pasukan MN 101 Mobiele Brigade MBT/TNI Kalimantan. Ia jua mencatatkan prestasi di bidang militer karena kesuksesannya sebagai komando Penerjung Payung Pertama AURI pada 17 Oktober 1947. Sejak saat itu 17 Oktober diperingati sebagai hari Pasukan Khas TNI-AU.

Sebagai tentara, ia memiliki pengalaman perang di sebagian besar pulau Kalimantan dan Jawa. Pangkat terakhirnya di bidang militer adalah Marsekal Pertama Kehormatan TNI-AU. Setelah era peperagan telah berakhir dan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, Tjilik Riwut beralih ke dunia politik demi membangun Kalimantan.

Tekad Besar Demi Membangun Kalimantan

Salah satu jasa Tjilik Riwut yang masih dikenang di bidang pembangunan adalah membuka hutan serta membangun daerah di sekitar Desa Pahandut menjadi Palangkaraya, Ibukota Kalimantan Tengah. Pembangunan kota Palangkaraya ini adalah salah satu obsesi Tjilik Riwut yang berhasil tercapai. Obsesi lainnya yaitu membangun 2 bandara internasional, meski saat ini yang terwujud baru satu bandara saja.

Tekad besar dan loyalitas Tjilik Riwut pada Kalimantan tidak hanya terbukti dari pembangunan yang ia pimpin saja. Ia bahkan menyumbangkan harta dan uang pribadinya untuk memberi makan orang yang ikut membangun Palangkaraya. Keluarganya sendiri bahkan sampai kehabisan jatah beras yang diperuntukkan baginya sebagai gubernur karena ia membagikan beras tersebut pada orang-orang yang bekerja. Tjilik Riwut juga ikut turun langsung menebang pohon bersama dengan para pekerja lainnya.

Memegang Teguh dan Melestarikan Kebudayaan Kalimantan

lensaterkini.web.id - Bukan saja nasionalis, ia juga sangat menjunjung tinggi kebudayaan dan leluhurnya. Ia selalu menekankan pentingnya untuk tetap mengingat asal-usul kita sebagai manusia. Baginya, kebugayaan adalah sebuah identitas yang harus dipelihara.

Ideologinya ini tertuang dalam beberapa karyanya berupa buku yaitu Kalimantan Memanggil (1958), Kalimantan Membangun (1979), dan Manaser Panatau Tatu Hiang: Menyelami Kekayaan Leluhur (2003). Lewat tulisannya, ia banyak mengenalkan dan mengabadikan kebudayaan suku Dayak yang perlahan mulai luntur.

Itulah sosok yang namanya kini telah diabadikan sebagai bandar udara di Palangkaraya. Sebagai seorang warga negara Indonesia, ia memiliki jiwa nasionalis yang tinggi dan turut berperan dalam persatuan Republik Indonesia. Sebagai seseorang dari suku Dayak, ia memiliki komitmen tinggi dan lebih mementingkan kemajuan daerahnya. Tidak heran jika beliau menjadi sosok yang begitu dihormati karena perilakunya yang mulia tersebut.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
LensaTerkini
Tag : Fakta
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola