6 Fakta Raja Wanita Majapahit Yang Dapat Memperluas Nusantara

Ketika membahas tentang Majapahit, sering kali yang terlintas pertama kali adalah Gajah Mada dengan Sumpah Palapa-nya atau Hayam Wuruk yang menjadi Raja dalam masa keemasan Majapahit. Kedua tokoh ini memang memiliki peran penting dan berjasa besar dalam perkembangan Kerajaan Majapahit.

Meski begitu, tidak hanya dua tokoh ini saja yang punya peran besar dalam kerajaan Majapahit. Sosok lainnya adalah Tribhuwana Tunggadewi, seorang wanita yang bertakhta sebagai Raja di Majapahit dan merupakan pionir dalam usaha perluasan Nusantara. Mari simak ulasan dari 6 fakta raja wanita majapahit yang jadi pelopor perluasan nusantara.

Merupakan Putri Dari Pendiri Majapahit

lensterkini.web.id - Raden Wijaya adalah sosok yang mendirikan kerajaan Majapahit. Dalam naskah Nagarakretagama, ia menikahi 4 orang putri Kertanegara yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Namun menurut Pararaton, istrinya dari Kertanegara hanya dua, dan dua lainnya dari kerajaan Malayu yaitu Dara Petak dan Dara Jingga.

Dari Tribhuwaneswari, Raden Wijaya memiliki anak yaitu Jayanegara. Namun menurut kitab Pararaton, ia adalah putra dari Dara Petak. Sedangkan menurut Nagarakretagama, ia adalah putra Raden Wijaya dari Indeswari. Sedangkan dari Gayatri, Raden Wijaya memiliki dua orang putri yaitu Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat.

Diangkat Menjadi Raja Bawahan Majapahit dan Dilarang Menikah

Setelah Raden Wijaya meninggal dunia, Jayanegara naik takhta menggantikan sang ayah. Pada masa kekuasaannya, saudari tirinya yaitu Dyah Gitarja diangkat sebagai penguasa bawahan di Jiwana dengan gelar Bhre Kahuripan. Meski diangkat sebagai penguasa bawahan, kitab Pararaton mengungkapkan bahwa sebenyarnya Jayanegara takut tahtanya terancam oleh dua orang adik tirinya ini.

Khawatir adiknya merebut kekuasaan, Jayanegara melarang kedua adik perempuannya menikah. Namun setelah Jayanegara tewas dibunuh oleh tabibnya sendiri, para ksatria berbondong-bondong datang berusaha melamar dua putri ini. Setelah diadakan sayembara untuk menentukan siapa yang layak, maka didapatkanlah Kudamerta yang menikah dengan Dyah Wiyat dan Cakradhara yang menikah dengan Dyah Gitarja.

Menjadi Raja Majapahit Menggantikan Ibunya

lensterkini.web.id - Sepeninggal Jayanegara, maka seharusnya Gayatri-lah yang naik tahta. Meskipun ia adalah anak bungsu Kertanegara, kemungkinan istri Raden Wijaya yang lain telah wafat, sehingga kekuasaan jatuh ke tangan Gayatri karena Jayanegara tidak memiliki keturunan.

Meski begitu, Gayatri sudah memutuskan untuk menjadi pendeta Budha sehingga ia tidak bisa menjadi raja. Maka atas perintah ibunya, Dyah Gitarja naik menggantikan ibunya sebagai Raja Majapahit. Ia menjadi raja ketiga Majapahit dengan gelar Sri Tribhuwanatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani. Dengan didampingi suaminya, ia memerintah kerajaan sejak 1328-1351.

Berani Maju Perang Melawan Pemberontak

Meski ia adalah wanita dan seorang raja, namun Tribhuwana ternyata juga memiliki keberanian tinggi di medan perang. Pada tahun 1331, terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta. Karena Gajah Mada dan Ra Kembar ribut sendiri untuk memperebutkan posisi panglima dalam misi menumpas Sadeng, ia akhirnya berangkat sendiri sebagai panglima perang.

Dengan didampingi sepupunya, Adityawarman, Tribhuwana berangkat mengalahkan Sadeng. Tahun 1347, Adityawarman kemudian dikirim kembali untuk menaklukan sisa kerajaan Sriwijaya dan Malayu. Selanjutnya, ia diangkat sebagai Uparaja atau raja bawahan di Sumatera yang masih merupakan kekuasaan Majapahit.

Melakukan Perluasan Wilayah

lensterkini.web.id - Majapahit mulai melakukan perluasan wilayahnya pada masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi. Ia pula yang mengangkat Gajah Mada sebagai Mahapatih. Pada masa pemerintahan ini pulalah Gajah Mada mengucapkan sumpah Palapa yang menyatakan bahwa ia takkan memakan makanan enak sebelum mempersatukan Nusantara.

Kitab Pararaton menyebutkan bahwa sumpah tersebut diucapkan saat ia belum menjadi Mahapatih. Namun, beberapa orang berpendapat bahwa sumpah tersebut diucapkannya dalam upacara penobatan sebagai Mahapatih Gajah Mada oleh Rajaputri Tribhuwanatunggadewi.

Turun Tahta Sepeninggal Ibunya

Tahun 1350, Gayatri Rajapatni meninggal dunia, bersamaan dengan itu, berakhir pula masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi. Kekuasaan Majapahit kemudian diwariskan ke putranya, Hayam Wuruk. Setelah turun tahta, ia kembali menjadi Bhre Kahuripan.

Kematian Tribhuwana sendiri tidak diketahui secara pasti. Namun setelah meninggal dunia, ia didharmakan dalam candi Pantarapura. Sedangkan suaminya didharmakan di candi Sarwa Jayapurwa.

Meski hanya berperan sebagai raja pengganti untuk menggantikan posisi ibunya, ia tetap memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan Majapahit. Ia adalah sosok yang menjadi pionir dalam usaha perluasan Majapahit dan terus berkembang hingga mencapai masa keemasannya pada pemerintahan Hayam Wuruk, putranya.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
LensaTerkini
Tag : Fakta
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola