6 Fakta Kaisar Wu Zetian, Wanita Cantik Paling Sadis di Tiongkok

Begitu banyak wanita cantik nan legendaris di muka bumi ini dan di dalam sejarah. Nama Wu Zetian mungkin terdengar asing bagi kebanyakan orang, tapi tidak di negeri Tiongkok. Pasalnya, ia adalah satu-satunya kaisar wanita dalam sejarah kekaisaran dan dinasti negeri Tirai Bambu tersebut.

Sebagai kekaisaran yang dulunya tidak mengijinkan wanita duduk di kursi pemerintahan, apa yang dilakukan Wu Zetian ini tentu luar biasa. Namun kedudukan tertinggi di Tiongkok tersebut ia dapatkan dengan taktik dan pengorbanan besar. Inilah Wu Zetian, wanita licik dan sadis yang mampu membawa dirinya sendiri ke tahta kekaisaran Tiongkok. Mari simak ulasan dari 6 fakta tentang wu zetian, kaisar wanita tiongkok tersadis.

Cerdas Sejak Masih Anak-anak

lensaterkini.web.id - Wu Zetian terlahir dari keluarga bangsawan kaya. Ia memiliki banyak dayang yang membantunya mengerjakan segala keperluan sehari-hari sehingga Wu tidak perlu belajar urusan rumah tangga sama sekali. Karena itulah, ayah Wu mendorongnya untuk membaca buku dan belajar, sesuatu yang saat itu tidak umum dilakukan wanita dan apalagi sampai didorong ayahnya.

Wu bukanlah tipe anak yang suka menyulam dan minum teh sepanjang hari seperti yang banyak dilakukan wanita. Ia lebih suka membaca dan belajar politik, urusan pemerintahan, menulis, karya sastra, serta musik. Hingga saat diangkat menjadi selir kaisar di usia 14 tahun, ia juga masih mendapatkan kesempatan untuk terus belajar dan bekerja sebagai semacam sekertaris.

Memulai dari Posisi Selir

Di usia 14 tahun, Wu dipanggil sebagai selir Kaisar Taizong namun bukan menjadi favorit sang kaisar. Kemudian setelah kaisar meninggal, putra termudanya, Li Zhi menggantikan posisi sebagai kaisar dengan nama Kaisar Gaozong. Karena selir Wu tidak punya anak dari kaisar, maka sesuai hukum ia harus tinggal di kuil dan menjadi biksu selama sisa hidupnya.

Meski begitu, Li Zhi ternyata sudah menjalin hubungan dengan Wu saat ia masih menjadi selir ayahnya. Setelah ayahnya meninggal, Li mengunjungi Wu dan membawanya kembali ke istana sebagai selirnya sendiri. Saat itulah ia memulai langkahnya untuk meraih kekuasaan sebagai kaisar wanita pertama.

Menyingkirkan Para Pesaing dengan Taktik Licik

lensaterkini.web.id - Semakin lama ia berada di istana, semakin besar pula pengaruhnya terhadap kekaisaran pada masa pemerintahan kaisar Gaozong. Ia bahkan ikut serta dalam mengambil banyak keputusan besar. Begitu besar ambisinya sampai-sampai ia dianggap sadis dan licik demi mendapatkan kekuasaan.

Di istana, permaisuri Wang yang merupakan istri kaisar Gaozong ternyata merasakan ancaman dari keberadaan Wu. Namun Wu segera bertindak, dengan membunuh putrinya dan menuduh permaisuri Wang sebagai pelakunya. Tidak hanya itu saja, Wu juga menuduh permaisuri dan ibunya melakukan praktik sihir. Akibatnya permasuri Wang dilepaskan dari kedudukannya dan dibuang dari istana bersama ibunya, sedangkan Wu diangkat menjadi permaisuri.

Tidak puas sampai di situ saja, Wang dan selir Xiao juga dipenjara atas tuduhan sihir tersebut. Namun saat kaisar Gaozong berencana membebaskan keduanya, Wu memerintahkan agar dua wanita tersebut dibunuh. Ia juga menyingkirkan pejabat-pejabat yang berani menentangnya. Ada yang dibuang, dipaksa bunuh diri, bahkan dibunuh. Bahkan anak kaisar Gaozong dari selir yang lain juga tidak lepas dari sasarannya dan menjadi tahanan rumah atas perintah Wu.

Kaisar yang kemudian mulai sakit-sakitan meminta Wu untuk memimpin kekaisaran atas nama dirinya. Namun Wu mulai bertindak di luar batas dan bahkan membuat hukum dan peraturan sendiri. Banyak orang mengira kaisar sakit karena diracun secara perlahan oleh Wu agar ia bisa mendapatkan kekuasaaan.

Kekuasaan Penuh Teror

Setelah Gaozong meninggal dunia, putranya dengan Wu, menggantikan posisi sebagai kaisar. Tapi Wu juga menggantikan posisi anaknya ini dengan alasan anaknya punya kesulitan berbicara dan Wu “berbicara untuknya”. Namun ternyata ia malah memimpin sendiri kerajaan.

Pejabat negara yang tidak suka mendapatkan perintah dari wanita segera melakukan kudeta. Tapi Wu ternyata bisa menghentikan mereka. Sadar banyak orang yang ingin melawannya, ia membuat rencana untuk menyingkirkan setiap orang yang menentangnya.

Ia menghabisi setiap orang yang masih bisa mengklaim tahta. Mulai dari pejabat negara, hingga anak kaisar yang lainnya. Dalam satu tahun saja, ia telah menghancurkan 15 keluarga beserta seluruh garis keturunan mereka dengan cara eksekusi, tuduhan pengkhianatan, dan dipaksa bunuh diri. Cara yang terakhir disebut ini yang paling kejam, karena ia akan memanggil mereka semua ke ruangan tahta dan memaksa mereka bunuh diri di hadapannya.

Kejam Pada Pesaingnya, Baik Pada Rakyatnya

lensaterkini.web.id - Meski dikenal kejam, ia ternyata disukai oleh rakyatnya. Pemerintahannya yang menghancurkan ribuan orang ternyata berhasil mengungkap korupsi yang dilakukan institusi pemerintahan. Ia kemudian juga membawa pemerintahan ke arah meritocracy, yaitu jabatan hanya bisa didapatkan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Ia membuka ujian umum untuk beragam masyarakat lainnya sehingga keragaman pemerintahan lokal dan regional juga jadi lebih banyak. Dari sudut pandang masyarakat atau warga, Wu sebenarnya adalah seorang pemimpin yang baik dan hebat.

Mendirikan Dinasti Sendiri

Kedudukannya sebagai seorang permaisuri memang tidak lama, yaitu hanya 3 tahun. Tapi selanjutnya, ia mendirikan dinasti sediri yang dinamai dengan dinasti Zhou dan ia sendiri sebagai kaisarnya. Sebagai penguasa dinasti Zhou, ia memimpin sejak 16 Oktober 690 hingga 22 Februari 705.

Namun, dinasti ini hanya ada di masa hidupnya dia dan ia adalah satu-satunya kaisar yang memimpin. Setelah ia turun tahta, maka berakhir pula dinasti yang ia dirikan ini. Karena itulah, dinasti ini dilihat sebagai penghalang singkat dari dinasti Tang yang berlangsung sebelum dan sesudah dinasti Zhou.

Bagi para pesaingnya, Wu Zetian bukanlah orang sembarangan yang bisa langsung dihadapai begitu saja. Ia adalah sosok yang cerdik sehingga tidak ada yang berhasil menghentikannya. Bahkan di akhir hidupnya, ia meninggal dalam damai di usia tua. Siapa sangka, di tengah kekejamannya dan kehausannya akan kekuasaan, ia dipandang sebagai sosok pemimpin yang hebat dan mumpuni.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
Tag : Fakta
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola