5 Pahlawan Yang Menjadi Nama Bandara di Indonesia

Indonesia punya banyak sekali bandara dari ujung Barat hingga Timur Nusantara. Dengan menyebar sejumlah bandara di berbagai lokasi, harapannya masyarakat bisa melakukan perjalanan ke berbagai wilayah Indonesia dengan lebih gampang.

Kadang saat mendengar atau menyebutkan namanya, kebanyakan orang sering lupa bahwa itu bukan cuma sekadar nama bandara. Tapi penamaan tersebut diambil dari para pahlawan yang berjasa bagi negara. Yuk kembali mengenali siapa saja mereka dan apa jasanya untuk Indonesia. Mari simak ulasan dari 5 pahlawan yang diabaikan ini menjadi nama bandara.

Tjilik Riwut

lensaterkini.web.id - Nama bandara Tjilik Riwut yang ada di Palangkaraya ini diambil dari nama seorang Gubernur Kalimantan Tengah yang pertama. Ia adalah sosok yang sangat mencintai alam dan menjunjung tinggi budaya leluhur. Meski merupakan seorang putra Dayak sejati, perjuangannya untuk Indonesia melewati batas-batas kesukuan dan mampu menjadi pejuang bangsa sejati.

Setelah perang selesai, ia termasuk sosok yang cukup berjasa dalam usaha masuknya Kalimantan ke Republik Indonesia. Tjilik Riwut mewakili 142 suku Dayak pedalaman Kalimantan untuk bersumpah setia kepada Pemerintah RI secara adat di depan Presiden Soekarno sendiri. Ia juga banyak menulis buku mengenai Kalimantan dan Dayak.

Juanda

Selanjutnya ada bandara internasional Juanda yang diambil dari nama Ir. Raden Haji Juanda Kartawijaya. Ia adalah Perdana Menteri Indonesia yang ke-10 sekaligus juga yang terakhir. Selanjutnya, Juanda menjabat sebagai Menteri Keuangan Indonesia dalam Kabinet Kerja I.

Jasa terbesarnya saat duduk di kursi pemerintahan adalah Deklarasi Juanda tahun 1957. Deklarasi tersebut menyatakan wilayah laut Indonesia meliputi laut di sekitar, di antara, dan di dalam kepulauan Indonesia dan dikenal sebagai negara kepulauan. Selain diabadikan sebagai nama bandara, Juanda juga menjadi nama hutan raya di Bandung.

I Gusti Ngurah Rai

lensaterkini.web.id - I Gusti Ngurah Rai adalah nama seorang pejuang Indonesia yang namanya diabadikan menjadi nama bandara di Bali. Pahlawan yang berasal dari pulau dewata ini paling terkenal dengan pertempuran Puputan Margarana.

Sepulangnya dari Yogyakarta setelah dilantik menjadi komandan Resimen Sunda Kecil, ternyata 2 ribu pasukan Belanda dengan persenjataan lengkap dan pesawat terbang sudah bersiap untuk menyerang I Gusti Ngurah Rai dan pasukan kecilnya. Saat itulah kemudian terjadi perang besar yang mampu memukul mundur Belanda.

Kekalahan Belanda ini ternyata membuat mereka kembali menyerang dengan pasukan yang lebih besar. I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya terus terdesak hingga ke Margarana. Saat itulah pasukan terakhirnya tetap terus berjuang habis-habisan dan kejadian ini kemudian diabadikan dengan istilah Puputan Margarana atau perang habis-habisan di daerah Margarana.

Yos Sudarso

Yosaphat Sudarso atau lebih dikenal dengan nama Yos Sudarso adalah seorang komodor yang meninggal dunia dalam pertempuran di Laut Arafura. Ia bertanggung jawab untuk operasi di lautan pada masa operasi Trikora.

Sayangnya, operasi tersebut diketahui oleh pihak Belanda. Akhirnya kapal KRI Macan Tutul yang dikomandoi oleh Yos Sudarso ditembak menggunakan torpedo oleh Belanda dan tenggelam. Komodor Yos Sudarso meninggal dalam kejadian tersebut.

Halim Perdanakusuma

lensaterkini.web.id - Abdul Halim Perdanakusuma adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang lahir di Sampang, Madura. Ia meninggal di usia yang masih muda yaitu 25 tahun saat menjalankan tugas untuk negara pada masa perang Indonesia-Belanda.

Halim adalah seorang penerbang yang ditugaskan untuk membeli dan membawa perlengkapan senjata dengan pesawat dari Thailand. Sekembalinya dari Thailand, pesawat yang dipenuhi berbagai senjata api tersebut ternyata jatuh. Tidak diketahui apa penyebabnya tapi kemungkinan karena cuaca buruk atau ditembak.

Tim penyelamat menemukan jasad Halim, tapi rekannya Iswahyudi tidak diketahui nasibnya. Meski bangkai pesawat ditemukan, namun berbagai perlengkapan senjata api yang telah dibeli tidak berhasil ditemukan dan entah ke mana rimbanya.

Untuk menghormati jasa-jasanya, mereka kini telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Tidak hanya itu saja, nama mereka juga diabadikan agar kita masyarakat Indonesia tidak lupa akan sejarah. Bukankah Bung Karno pernah mengatakan, “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola