5 Kisah Wanita Dilarang Nonton Pertandingan Olah Raga paling Miris

Aturan ketat terhadap perempuan di beberapa negara di Timur Tengah menjadi alasan mengapa mereka tidak diberi izin menonton gelaran olah raga secara langsung.

Seperti di Iran, sejak Revolusi 1979, perempuan di Negeri Mullah dilarang menonton pertandingan olah raga di stadion. Mereka yang bukan warga Iran namun perempuan juga terkena aturan tersebut, bahkan sampai dipenjarakan.

Ujungnya adalah aksi nekat. Jelas tidak ada yang bisa menahan keinginan seorang menonton laga dari tim kesayangannya. Salah satu caranya perempuan itu adalah dengan menyamar sebagai pria. Mari simak ulasan dari 5 cerita miris wanita dilarang tonton pertandingan olah raga.

Perempuan Iran dilarang nonton bareng Piala Eropa

lensaterkini.web.id - Beginilah risiko hidup di negara menerapkan syariat Islam ketat. Ketika di banyak negara nonton bareng Piala Eropa menjamur, jangan bermimpi perempuan di Negeri Mullah bisa seenaknya menghadiri acara semacam itu.

Kepolisian Ibu Kota Teheran mengharamkan kaum hawa bergabung dengan lelaki di perhelatan nonton bareng. "Tidak tepat jika lelaki dan perempuan menonton bola bersama," kata Wakil Kepala Polisi Teheran Bidang Sosial Bahman Kargar, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Senin (11/6/2012).

Dia beralasan pria biasanya mengeluarkan kata-kata tidak pantas ketika menonton pertandingan sepak bola. "Saat menonton biasanya pria mengeluarkan kata-kata kotor, vulgar, dan ini tidak pantas untuk perempuan," ujarnya. Dia menegaskan para perempuan Iran harus berterima kasih atas larangan ini.

Sejatinya, pemisahan antara lelaki dan perempuan di Iran di ruang publik bukan hal baru. Hampir seluruh fasilitas umum untuk perempuan Iran dibedakan. Mulai dari kolam renang, pantai, hingga taman.

Ulama Saudi dikecam usai larang perempuan nonton sepak bola

Seorang ulama Arab Saudi diolok-olok pengguna Internet karena melarang kaum hawa menonton sepak bola. Dia beralasan karena perempuan haram melihat paha pria. Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Sabtu (30/5), dalam fatwa anehnya dia mengatakan kaum perempuan tidak peduli siapa yang memenangkan pertandingan sepak bola. Mereka hanya ingin melihat paha kaum pria.

"Melihat lelaki asing saja sudah berdosa apa lagi melihat pahanya?" kata dia. Di koran Al-Jazirah yang diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh harian Saudi Gazette, penulis kolom Ruqaya Al-Huwairni mengatakan dia sangat malu dan merasa terganggu dengan fatwa imam dari sebuah masjid itu.

"Bagaimana mungkin kaum hawa hanya ingin menonton sepak bola karena melihat paha kaum laki-laki," tanya dia. Sebagian pengguna media sosial Twitter di Saudi mengejek fatwa ulama itu.

"Saya lebih suka paha ayam. Yang garing, renyah, ditambah saus, madu dan bumbu lainnya," kata seorang pengguna Twitter. "Para pemain bola tahun 1970-an pakai celana lebih pendek dan ketat. Jangan dilihat, dosanya bisa lebih besar," ujar pengguna lain.

Sobek Alquran buat konfeti, perempuan ini dilarang nonton bola

lensaterkini.web.id - Seorang pendukung klub sepak bola asal Inggris, Middlesbrough, bernama Julie Philip dianggap bersalah oleh pengadilan di Kota Birmingham pada Mei lalu karena menyobek lembaran kitab suci Alquran untuk menaburkan konfeti. Kejadian itu berlangsung di Stadion St  ndrew, Birmingham. Hukumannya dia dilarang menonton semua pertandingan sepak bola di Inggris dan Wales selama tiga tahun.

Perempuan berusia 51 tahun itu mengaku dia tidak tau lembaran kertas yang dia sobek-sobek itu adalah bagian dari halaman Alquran. Pengadilan memutuskan dia dan temannya bersalah lantaran melakukan tindakan pelecehan rasis, seperti dilansir koran the Independent, Rabu (17/12).

Wanita Iran dipenjara sebab tonton pertandingan voli pria

Seorang wanita dikurung di sebuah penjara terkenal di Iran setelah mencoba menonton pertandingan bola voli pria.  Ghoncheh Ghavami, 25 tahun, ditangkap dan dibawa ke Penjara Evin di Ibu Kota Teheran beberapa hari setelah dia mencoba untuk menonton pertandingan bola voli pria antara Iran dan Italia pada 20 Juni lalu, seperti dilansir surat kabar the Daily Mail, Rabu (10/9). 

Dia telah menghabiskan waktu selama 41 hari di sel isolasi, menurut keluarganya.  Ghoncheh pergi ke Stadion Azadi, yang ironisnya berarti 'kebebasan', dengan perempuan lain untuk memprotes aturan ketat Iran, diperkenalkan setelah Revolusi Islam 1979, yang melarang kaum perempuan untuk menghadiri acara olah raga kaum pria. 

Awalnya Ghoncheh, yang sedang belajar hukum di London, ditangkap kemudian dilepaskan, tetapi ketika dia kembali untuk mengambil barang-barangnya, dia kembali ditangkap dan dipenjara. Beberapa orang lainnya yang terlibat dalam demonstrasi juga ditahan.

"Keluarga kami tidak dapat menahan diri atas kejadian ini," kata abang Ghoncheh, Iman Ghavami, 28 tahun, kepada ITV News. "Mereka terkoyak, bukan hanya orang tua saya tapi juga kakek-nenek saya, paman saya, semua orang." 

Kepala polisi Iran, Esmail Ahmadi Moghadam, mengatakan kepada kantor berita Fars, "Dalam kondisi saat ini, pencampuran pria dan wanita di stadion bukan untuk kepentingan umum". 

"Sikap yang diambil oleh para ulama dan pemimpin tertinggi tetap tidak berubah, dan sebagai penegak hukum, kita tidak bisa membiarkan perempuan untuk memasuki stadion," lanjut dia. Kampanye di media sosial bermunculan dalam upaya untuk menekan Iran agar membebaskan Ghoncheh. Ada sebuah akun di Facebook yang didedikasikan untuk membantu dia dan tanda pagar #FreeGhonchehGhavami kini diunggah di Twitter tentang keadaannya. 

Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pihaknya menyadari terkait situasi ini, tetapi tidak terlalu dapat membantu karena Iran tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Inggris, jadi mereka tidak mungkin dapat membantu Ghoncheh.

Juru bicara Amnesty International Inggris Neil Durkin mengatakan kepada the Daily Mail, "Kami sangat khawatir tentang keadaan Ghoncheh".  "Dia ditahan di sel isolasi selama lebih dari satu bulan di Penjara Evin di Teheran di mana dia berada di bawah kendali Garda Revolusi Iran," kata Neil. 

"Pengacaranya tidak memiliki akses bertemu dengan dirinya atau dokumen tentang mengapa Ghoncheh ditahan, meskipun kami mengerti dia sedang diselidiki dengan tuduhan pelanggaran yang sangat samar yakni propaganda melawan negara," ujar dia. 

"Ghoncheh adalah tahanan hati nurani dan harus segera dibebaskan." Penegakan kaku Iran kode Islam ke pengaruh otoritas puncaknya, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang pekan ini berhasil menjalani operasi prostat, menurut media pemerintah Iran.

Gadis Iran nyamar jadi pria demi tonton pertandingan bola di stadion

lensaterkini.web.id - Seorang gadis Iran menjadi terkenal setelah dia berhasil masuk ke dalam stadion sepak bola untuk menyaksikan pertandingan klub kesayangannya, Persepolis. Dia bisa masuk ke dalam stadion dengan menyamar seperti laki-laki.

Gadis 22 tahun yang di media sosial Instagram bernama Shakiba itu menonton pertandingan sepak bola antara Persepolis melawan Esteghlal di Teheran pada 13 Mei lalu. Dia menjadi salah satu di antara 95 penonton di stadion itu.

Selama ini sejak Revolusi Iran 1979, perempuan di Negeri Mullah dilarang menonton pertandingan oleh raga di stadion. 

Meski tidak ada larangan resmi bagi perempuan masuk stadion namun polisi Iran kerap menghentikan setiap perempuan yang akan datang ke stadion dengan alasan hal itu bisa membahayakan dirinya.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola