5 Fakta Tragedi Pembantaian Rwanda Paling Mengerikan

Jika dibandingkan dengan pembantaian Yahudi oleh Nazi atau mungkin tragedi Nanking oleh Jepang, pembantaian Rwanda jelas kalah pamor. Mungkin kamu bahkan baru mengetahuinya sekarang. Padahal tragedi satu itu juga tak kalah mengerikan. Dari sisi korban dan juga tentang bengisnya para jagal, semua ini bahkan kita bisa bilang jauh lebih ngeri dari pembantaian mana pun.

Tragedi ini sendiri bukan pembantaian biasa, melainkan sebuah genosida atau pemusnahan ras. Ada dua suku yang bertempat tinggal di Rwanda kala itu, yakni Hutu dan Tutsi. Keduanya hidup berdampingan dengan damai pada awalnya. Hingga akhirnya lantaran perbedaan strata sosial dan juga pengaruh politik yang timpang akhirnya mulai muncul benih-benih kebencian.

Dari sini kemudian berlanjut ke babak pembantaian Tutsi oleh Hutu yang sangat mengerikan. Lebih dalam lagi, berikut adalah fakta-fakta dari pembantaian Rwanda Paling kejam itu.

Kronologi Permusuhan Hutu dan Tutsi

lensaterkini.wb.id - Hutu adalah ras dominan di Rwanda, jumlahnya sendiri diperkirakan hampir 85 persen pada awalnya. Sedangkan ras Tutsi jauh lebih sedikit dengan jumlah sekitar 15 persen saja. Meskipun dominan, namun pada realitanya, Tutsi adalah pihak yang lebih berpengaruh. Secara strata sosial mereka lebih tinggi. Misalnya, orang Tutsi kebanyakan adalah pemilik ternak sedangkan Hulu hanyalah para pekerja rendah.

Dari sini mulai terpicu amarah orang-orang Hulu kepada Tutsi. Kebencian ini makin bertambah ketika orang-orang Eropa datang menjajah Rwanda dan lebih memberdayakan suku Tutsi, baik untuk urusan kuasa maupun pendidikan. Bisa ditebak, Hulu pun marah besar dan bermaksud untuk melakukan perlawanan.

Hutu Membalik Keadaan dan Awal Mula Genosida

Ketidakseimbangan terjadi, Hutu kemudian melakukan pergerakan sosial dan akhirnya berbuah manis. Jumlah mereka yang banyak menguasai semua hal. Termasuk pemilu yang akhirnya dimenangkan oleh perwakilan Hulu. Tutsi sendiri mulai terancam saat itu. Belum memasuki era pembantaian, sudah beberapa kali ditemui orang-orang Hulu membunuh orang Tutsi.

Puncaknya adalah ketika presiden terpilih dari Hutu bernama Habyarmana dibunuh. Kemarahan orang-orang Hutu pun meledak dan akhirnya mereka mulai langkah genosida yang diawali dari pasukan pengaman presiden yang menembaki orang-orang Tutsi. Pembantaian ini tak hanya dialami oleh orang-orang Tutsi saja, ekstrimis Hulu pun diburu untuk dimatikan.

Korban Berjatuhan Bak Ikan Diracun

lensaterkini.wb.id - Setelah kejadian tewasnya presiden terpilih, serta ada propaganda dari pihak-pihak tertentu yang mengatakan Tutsi harus lenyap, kemudian pergerakan perburuan korban meluas. Para jagal ini masuk ke rumah-rumah dan membantai semua orang yang ada di dalamnya. Di jalan-jalan pun sama, orang-orang yang dicurigai dibunuh begitu saja lalu mayatnya ditutupi daun pisang.

Hal yang lebih mengerikan, ternyata pelaku pembantaian ini bukan hanya dari kalangan militer tapi juga sipil. Orang-orang biasa disemangati untuk membunuh mereka yang dicurigai dengan bualan nasionalisme. Benar-benar gila kala itu, Rwanda bagaikan tempat di mana orang bisa membunuh sesuka hatinya. Korban dari tragedi ini konon mencapai 800 ribu orang.

Tidak Cukup Dengan Pembantaian, Perampasan dan Pemerkosaan pun Terjadi

Ya, tidak hanya terjadi pembantaian, tragedi genosida ini juga dibumbui aksi pemerkosaan gila-gilaan. Tidak ada data jumlah pasti korbannya, namun yang jelas ribuan wanita diperlakukan secara keji dalam tragedi ini. Bahkan anak-anak gadis usia 12an tahun pun turut jadi korban. Makin ngeri lagi, dalam kejadian itu sekitar 68 persen wanitanya terinfeksi HIV.

Tak hanya itu, dalam pembantaian ini juga terjadi perampasan brutal. Biasanya properti seperti lahan dan rumah, serta ternak. Hal ini sendiri juga diketahui sebagai buah dari instruksi para oknum militer yang menyuruh para sipil untuk membunuh dan mereka akan mendapatkan bayaran untuk itu. Ya, rumah dan lahan adalah upahnya.

Dunia Tidak Menggubris Kejadian Buruk ini

lensaterkini.wb.id - Hal yang patut disayangkan dalam tragedi ini adalah sikap cuci tangan dunia, termasuk PBB. Diketahui, saat kejadian buruk ini terjadi, ada pasukan perdamaian di sana. Alih-alih menyelamatkan para korban, pasukan perdamaian ini hanya fokus menyelamatkan orang-orang asing yang terjebak saja.

Para pasukan PBB ini menyaksikan dengan mata kepala sendiri orang-orang dibunuh dengan keji. Mereka tidak bisa membantu karena tidak ada perintah untuk itu. Padahal mereka sangat-sangat mampu mencegah total kejadian buruk ini. Tidak begitu jelas apa alasan kuat PBB sampai membiarkan hal ini terjadi padahal keberadaan mereka adalah untuk hal-hal krusial semacam ini.

Pembantaian ini meninggalkan luka yang sangat mendalam bagi orang-orang Rwanda yang beruntung bisa hidup sampai sekarang. Proses pengadilan pada para tersangka juga masih dilakukan hingga sekarang, namun belum benar-benar bisa maksimal. Untuk mengenang tragedi ngeri itu, kita bisa melihatnya dalam banyak monumen di negara itu. Termasuk sebuah rumah tempat pembantaian yang sengaja dibiarkan apa adanya sebagai bukti.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
Tag : Fakta
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola