9 Kakek Tua Menolak Jadi Pengemis Walau Kehidupannya Sangat Susah

Sebuah tamparan keras bagi generasi muda yang hanya dapat mengeluh akan pekerjaan di tangan atau hanya dapat meminta uang kepada orang tuanya tanpa keringat bekerja.

Mengapa disebut sebagai tamparan? Karena ada banyak orang tua yang hanya menolak untuk dicintai apalagi telah menjadi pengemis agar tetap dapat bertahan hidup. Sebaliknya, mereka tetap bersemangat untuk bekerja bahkan jika usia tidak muda lagi.

Berikut adalah orang-orang hebat yang terus bekerja meski usia tak lagi muda. Mari simak ulasan dari 9 orang tua hebat yang tidak mau mengemis walau hidupnya susah.

Mbah Joyowasito

lensaterkini.web.id - Mungkin bagi orang-orang muda sekarang, pekerjaan yang dilakukan setiap hari oleh Mbah Joyowasito melelahkan bahkan menyenangkan. Pria berusia lebih dari 100 tahun yang menjual pot tanah liat di Area Yogyakarta Palace tetap hidup meskipun keringat membasahi tubuhnya.

Dia setiap hari harus menanggung beberapa pot tentu kaki berat di atas tubuhnya yang tidak lagi kuat dan muda. Kadang-kadang memang dia tampak kelelahan dan duduk di trotoar sementara ada orang yang bersedia untuk membeli pot dagangannya.Walaupun dia punya anak, tapi ia tidak ingin bergantung jauh lebih sedikit merepotkan dan berdiri. Dia berprinsip akan terus bekerja keras dengan kekuatan sendiri sampai sendiri untuk mendukung keluarga, tanpa harus mengemis atau mengemis.

Kakek Nasrul

Dalam era teknologi tinggi seperti sekarang dan banyak gadget yang dilengkapi dengan fitur kamera tentu tidak lagi banyak orang yang membutuhkan jasa seorang fotografer jalanan. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan orang tua yang telah sendirian di Jakarta di atas usia 70 tahun bernam Nasrul kakek.

Dengan membawa tas lusuh hitam dan 2 kamera, ia menjajakan sekitar layanan foto di antara Rp 10-20.000. Ia menjajakan jasanya tidak cepat karena selain usia tua, kekuatan juga tidak lagi kuat untuk tetap aktif sebagai anak muda. Ia lebih banyak duduk di tepi jalan sambil menjajakan jasanya.Tanpa mengeluh, pria asal Padang terus melakukan pekerjaannya dan ditolak orang lain dikasihani ora selama dia mampu berusaha.

Mbah Suwarno

lensaterkini.web.id - Dia sudah di atas 90 tahun ini, tidak membuat Mbah Suwarno, warga Panekan, Magetan menyerah kepada nasib dan menjadi pengemis. Dia masih bekerja keras untuk menjadi tenaga penjual tirai bambu.

Dalam menjual apapun tirai bambu digulung dan dibungkus, dan hanya alias kaki beraspal tidak menggunakan kendaraan tersebut, Mbah Suwarno tetap hidup. Ia berangkat menjual tirai bambu yang tidak membawa bekal makan atau minum.Perlu diketahui bahwa salah satu gulungan tirai bambu beratnya sekitar 25 kilogram sangat berat untuk dibawa berkeliling dengan berjalan kaki oleh orang setua itu, bukan?

Mbah Slamet Kluthuk

Mbah Slamet Kluthuk adalah saksi sejarah keberadaan penjajah Belanda di negeri ini. Dia adalah seorang penjual kerupuk cekeremes sejak kolonialis di Indonesia sampai sekarang. Dengan usianya di atas 85 tahun ini, ia pergi beberapa kabupaten terakhir di Blitar untuk menjajakan barang-barang kerupuk. Mungkin jika Total, ada sekitar 20-30 kilometer jarak yang harus ia temput setiap hari.

Dengan jarak seperti itu, Mbah Slamet Kluthuk hanya menguntungkan RP 10 ribu, dengan catatan, semua kerupuknya dijual semua. Dia hanya tinggal bersama istrinya yang tetap setia menunggunya di rumah. Pada prinsipnya, bekerja dengan kejujuran, maka semua rintangan akan terjawab dengan mudah.

Mbah To

lensaterkini.web.id - Mungkin banyak orang yang tinggal di daerah Yogyakarta bertemu kakek, yang dikenal sebagai Mbah Untuk ini. Meskipun usianya sudah lebih dari 75 tahun yang akan ditampilkan pada nya dikelantang rambut dan kerutan di berbagai tempat di tubuhnya, tapi Suster Untuk tidak mau menyerah dan menjadi pengemis. Dia memilih untuk menjadi usia pemulung.Karena tidak muda lagi, jadi kadang-kadang ketika mencari barang untuk mengangkut dia ke keranjang dipasang di sepeda, di tempat sampah yang ada di sekitar kota Yogyakarta, kepalanya sakit dan visinya menjadi kabur,

Bahkan kadang-kadang ia tidak membawa air minum atau makan ketika melakukan pekerjaan yang telah ia bermain selama lebih dari 10 tahun. Dia memiliki prinsip yang kuat saat ia berjalan meskipun perlahan, pantang baginya untuk mengemis.Mbah Untuk itu sendiri bukanlah Yogyakarta asli tapi dari Madiun. Dia ingin kembali ke kampung halamannya, jika penghematan yang diperoleh dari memulung sudah cukup. Sayangnya, hasil pemulungan tidak menentu ditambah dengan kehidupan sehari-hari hanya tinggal di ambang pintu.

Mbah Tohar

Untuk Mbah Tohari sudah lebih dari 100 tahun, menjadi penjual barang kelontong lebih mulai dari beg. Dia tidak peduli siapa yang sudah usia yang sangat canggih ditambah perjalanan untuk menjajakan barang dagangannya dengan berjalan kaki karena dia tidak bisa lagi naik sepeda di kotak ditumpuk kembali barang itu.

Pekerjaan tersebut sudah dilakukan Mbah Tohari sejak puluhan tahun lalu dan ia secara teratur menyambngi kios akan membeli barang di Kabupaten Magelang Utarea setiap hari, meskipun jarak ke tempat tinggalnya cukup jauh.Bahkan tidak jarang memiliki orang-orang yang membantu mendorong motornya saat Mbah Tohari harus melalui jalan menanjak. Dia selalu menolak uang pemberian orang karena hanya disayangkan, tapi ia akan menerimanya jika ada orang yang membeli barang dagangannya.

Mbah Lindu

lensaterkini.web.id - Dapat dikatakan bahwa Mbah Lindu yang berusia di atas 90 tahun adalah penjual gudeg tertua di Yogyakarta atau bahkan mungkin di Indonesia. Dia menjual gudeg sebelum Jepang masuk ke Indonesia sampai sekarang.Walaupun tua, tapi yang satu ini tetap nenek cekatan dalam melayani pembeli dan sering mengobrol dan bercanda dengan orang-orang yang datang ke tempat penjualan.

Karena itu, dia memiliki banyak pelanggan. Dengan menjual gudeg sampai sekarang, Mbah Lindu dapat meningkatkan dan mendukung lima anaknya. Mbah Lindu adalah sosok yang bisa dijadikan inspirasi oleh generasi muda saat ini yang tidak mudah loyo dan tetap bekerja meskipun keras terganggu oleh banyak hal.

Mbok Lasem

Mbok Lasem adalah potret besar lain dari kaki Daerah Gunung Slamet. Meski telah berusia lebih dari 78 tahun dengan rambut yang mulai memutih, dan kulit penuh keriput, serta baju batik warna pudar dan disertai dengan beberapa kompor usang, Mbok Lasem masih bersemangat untuk terus menjual pancake di ambang pintu.

Mbok Lasem tidak mematok harga mahal untuk pancake buatan sendiri, karena biaya satu pancake hanya Rp 500 saja yang tentu saja kita tidak tahu berapa banyak keuntungan dengan menjual pancake dengan harga tersebut.Akan tetapi, Mbok Lasem tidak patah semangat dan terus bersikeras untuk bekerja dan mengabdikan cintanya untuk pekerjaan ini tanpa mengeluh.

Kakek penjual amplop

lensaterkini.web.id - Kakek yang menjadi terkenal dan dicari banyak orang setelah seseorang yang mengunggah sebuah cerita di dunia maya beberapa tahun yang lalu. Meskipun sampai saat ini tidak ada yang tahu pasti siapa namanya, tapi kakek sering menjadi amplop penjual dan menjual di salah satu sudut Masjid Salman ITB, Bandung menyentuh hati banyak orang.

Bahkan beberapa orang yang setelah membaca cerita, segera mencari orang tua untuk memberikan sedekah. Orang tua ini adalah amplop salesman di era teknologi seperti sekarang tidak banyak digunakan atau diminati. Bahkan, dia menjual barang dagangan di amplop harga sangat, sangat murah.

Menjadi menampar satu hal bagi kebanyakan orang, terutama mereka yang berpura-pura menjadi pengemis untuk uang atau orang-orang yang selalu merengek untuk karyanya. Sementara di sisi lain, orang tua masih ingin tidak menyerah untuk terus menjual amplop meskipun ada kemungkinan untuk menjual sangat kecil.

Masih merasa pekerjaan yang Anda atau Anda semua adalah yang paling berat atau merasa hidup ini tidak adil? Bagaimana dengan mereka?

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola