8 Pengemis Terkaya Miliki Harta Ratusan Juta Rupiah

Pakaian lusuh dan wajah memohon tidak menjamin bahwa seseorang miskin. Banyak modus yang dilakukan oleh pengemis dengan menipu tampak seperti orang miskin, seperti berpura-pura cacat sehingga mendapatkan kasih sayang dari orang lain yang meminta uang di pinggir jalan. Uang yang diperoleh dari mengemis bahkan sampai ratusan juta rupiah.

Tentu saja, fakta ini mengejutkan banyak orang di tengah-tengah ibukota kecil dari upah minimum provinsi (UMP) di Jakarta, Rp 2,7 juta per bulan. Sementara pengemis bisa mendapatkan dua kali lebih banyak dari itu.

Bila dihitung secara kasar, pendapatan rata-rata dari seorang pengemis beberapa telah mencapai hingga Rp 200.000 per hari atau Rp 6 juta per bulan. Bahkan, ada penghematan dari ratusan juta rupiah dari mengemis. Mari simak ulasan dari 8 pengemis paling tajir punya harta hingga ratusan juta.

Siswari, pengemis ini punya deposito ratusan juta rupiah dan tabungan di Bank

lensaterkini.web.id - Siswati Sri Wahyuningsih (51), seorang pengemis dan pengamen setiap hari mengemis dan mengamen di sekitar lampu lalu lintas Region Yos Sudarso, Semarang, Jawa Tengah, memiliki deposito tunai sebesar Rp 140 juta dan Rp 16 juta tabungan.

"Pengemis itu memiliki beberapa hari yang lalu ditangkap Satpol PP dan diserahkan kepada kami. Setelah diinterogasi dan diperiksa tasnya, ada gendelan tunai dan koin hingga Rp 400 ribu, deposito USD 140 juta, dan tabungan di Bank BNI 46 Sayangan Rp 16 juta, "kata Kepala Pusat Rehabilitasi Sosial (resos) antara Jiwo, Ridwan, Selasa (22/3).

Ridwan melanjutkan, selain menemukan uang tunai dan deposito dan tabungan, pengemis wanita paruh baya itu membawa surat-surat lainnya yang disimpan dalam tas membawa untuk mengemis dan mengamen.

"Surat -surat bentuk file sertifikat Tlogosari lahan di daerah tersebut, tiga huruf BPKB kendaraan roda dua, dan ATM Bank BNI 46. Jika menurut KTP di alamat Kabupaten Genuk. Tapi dia tinggal di perumahan di Jalan Kawung, Perumahan Tlogosari, Semarang, "kata Ridwan. Siswari tas selama pencarian, petugas juga menemukan sertifikat tanah atas namanya.

"Sertifikat tanah seluas 105 meter persegi, itu adalah sendiri. Jika ada nama BPKB ia dan nama orang lain. Mungkin nama anak-anaknya. Ngakunya dia ngamen telah dilakukan sejak enam bulan terakhir," kata Ridwan .

Ketika ditanya setelah polisi kota diamankan, kata Ridwan, Siswari menapik ratusan juta tidak sepenuhnya keluar dari mengemis dan mengamen.

"Banyak uang yang mereka mengklaim dia (Siswari), hasil dari penjualan tanah. Uang Sebelumnya dalam deposito mencapai Rp 300 juta. Uang itu digunakan dari penjualan tanah. Sebelumnya di deposito tidak ada uang untuk 300 juta, tapi setelah berpisah dengan suaminya terasing, uang akhirnya dikurangi menjadi pengurangan biaya makanan. sampai juga membuka bisnis penjualan ayam goreng penyet, tapi bangkrut karena banyak orang yang sama yang berutang, "jelas Ridwan.

Tidak hanya dalam jumlah harta dan uang Siswari agak mengejutkan. Ternyata dia memiliki tiga anak saat menghadiri kuliah, di tiga kampus ternama di kota Semarang. HMS inisial dari kuliah pertamanya di Universitas Perbankan (Unisbank) di Jalan Tri Lomba Juang, Semarang. Kemudian yang kedua inisial SMS anak belajar bahasa Inggris, Universitas Sultan Agung (Unisula), Jalan Raya Kaligawe, Semarang.

Kemudian anak-anak inisial terakhir SMJ belajar di Politeknik Negeri Semarang (POLINES) di Kawasan Kampus Undip Tembalang, Semarang. Dalam waktu dekat, anak kedua akan lulus. "Sekitar bulan April ia mengatakan bahwa Unissula ingin anaknya lulus kuliah," kata Ridwan.

Kakek badut Winnie the Pooh punya rumah mewah dan 7 istri

Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur membawa kakek mengenakan badut Winnie the Pooh di depan Lippo Mall. Orang di belakang kostum badut beruang kuning bernama Suaedi, mengaku hidup sendiri di daerah Driyorejo, Gresik.

Suaedi diduga bersedia untuk melaksanakan pekerjaan dengan badut berkostum hanya modus, sehingga banyak orang kasihan dan ia mendapat untung lebih dari hanya memohon. Pria 75 tahun itu mengaku menderita stroke. Dengan dalih bahwa, meskipun sakit, ia mencoba untuk memenuhi bertemu menjadi badut, berharap orang yang penuh kasih. Dengan berkostum beruang kuning, Suedi bisa mengantongi $ 500.000 setiap hari, hasil orang yang penuh kasih.

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Sidoarjo Husni Tamrin akhirnya memerintahkan petugas mengambil Suaedi Liponsos dirawat di Sidoarjo, Jalan Sidokare. Liponsos hasil investigasi, itu adalah warga Mojokerto Suaedi tidak Gresik dan memiliki rumah dengan tujuh istri dan lima anak. kakek kuning beruang, juga tidak menderita stroke, seperti dilansir oleh banyak pihak.

"Setelah kita cek kesehatannya, dia enggak sakit. Pada hari Senin, sekitar pukul 10.00 WIB, dia kami dideportasi. Di bawah kartu identitasnya, warga nya Mojokerto. Dia kita serahkan ke Dinsos Mojokerto. Dia juga mengambil salah satu dari lima anak , "kata petugas di Liponsos kantor, Sidoarjo, Selasa (16/6).

"Hasil menjadi badut, ia bisa mendapatkan Rp 500 ribu per hari, dari rekening sendiri. Dia mengatakan bahwa hari tidak bisa ($ 500 ribu), ia tidak akan pulang," kata Daya. Dayat menjelaskan, dari hasil itu, dalam satu tahun ia bisa membeli sebuah rumah di Mojokerto, membeli Yamaha Vixion dan motor otomatis. Istrinya hanya tujuh. "Istri saya berkata hanya tujuh saja. Hanya tujuh. Ini Loh Ko dari pengakuannya sendiri," katanya Daya.

Pengemis di Aceh punya paspor, emas, ringgit dan uang jutaan rupiah

lensaterkini.web.id - Enam orang gelandang dan pengemis (Gepeng) ditangkap polisi kota yang beroperasi di wilayah Banda Aceh, Rabu (18/3). Sungguh menakjubkan, petugas mendapatkan emas, rupiah ke ringgit Malaysia.

Bahkan salah satu dari mereka yang telah mengklaim emas, perhiasan diperoleh dari mengemis di Banda Aceh untuk penyediaan pernikahan. Mereka sudah mengemis di Banda Aceh selama 1 bulan atau lebih.

"Salah satu pengemis menjawab, emas memiliki untuk mas kawin untuk menikah," jelas Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Banda Aceh, Tarmizi Yahya. Selain memiliki paspor, emas dan ringgit, di antara gepeng juga memiliki denominasi Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu sebanyak Rp 1,8 juta, termasuk ringgit. Gepeng yang memegang ringgit mengaku ia hendak berangkat ke Malaysia kembali, namun butuh ongkos untuk keberangkatannya.

"Bahkan satu orang yang memegang ringgit, ia hendak berangkat kembali ke Malaysia, kemudian menemukan uang yang pertama di Banda Aceh dengan mengemis," kata Tarmizi.

Sementara itu, wakil kepala polisi Baiturrahman, Iptu Kelvin Desky kesempatan yang sama untuk membenarkan proses penangkapan gepeng ini. Dia mengatakan dia juga terkejut melihat barang-barang berharga yang dimiliki oleh gepeng tersebut. Gepeng ini dibawa ke polisi kota dan WH Banda Aceh sebelum dibawa ke tempat penampungan milik provinsi Sosial Layanan Ladong Aceh, Aceh Besar.

Pengemis tajir kantongi Rp 11 juta di Ibu Kota Jakarta

Eddy Supriyadi, kakek 78 tahun dari Kudus, Jawa Tengah bersedia jauh dari rumah dan bekerja di Jakarta untuk mencari lebih banyak uang untuk menghidupi keluarganya. Sadar tidak memiliki keahlian khusus, Edi tidak ada masalah harus mengemis di sekitar Senen Kecamatan. Dari mengemis setiap hari, Edi manfaat yang fantastis.

"Setelah mencari sejumlah uang tunai senilai Rp 11 juga di tas," kata Kepala Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Jakarta Pusat Sudin Sosial, Wanson Sinaga. Pada saat petugas melakukan razia rutin dengan masalah kesejahteraan sosial (POM). Setelah diamankan dan digeledah, petugas terkejut di dalam tas milik Edi ditempatkan di keranjang berisi uang tunai sebesar Rp 11 juta.

"Oleh karena itu, kami mengangkat langsung di atas mobil dan dibawa pencarian tasnya," kata Sinaga. Uang Edi terdiri dari denominasi Rp 100 ribu. Sementara denominasi Rp 50 ribu hanya ditemukan empat buah. Petugas juga menemukan pisau dapur, tempat tidur, alat penerangan dan air mineral dari gerobak milik Edi Supriyadi.

"Cart juga berfungsi sebagai rumahnya. Karena kami menemukan sejumlah peralatan rumah tangga," kata Sinaga.

Pengemis ini kedapatan bawa uang Rp 25 juta

lensaterkini.web.id - Walang bin POND (54) dan saran (60), seorang pengemis dari Subang, Jawa Barat, kedapatan membawa uang Rp 25 juta, bahkan dua pengemis yang ingin menyuap petugas dari Jakarta Selatan Sudin Sosial.

Kepala Seksi Rehabilitasi Jakarta Selatan Sudin Sosial, Miftahul Huda mengatakan, kedua pengemis dijemput setelah menonton petugas selama 2 hari berdasarkan laporan dari masyarakat.

"Kedua beroperasi hanya pada malam hari. Dan kami menangkap di bawah fly over Pancoran semalam. Suatu hari mereka mungkin uang Rp 3 juta dari mengemis," jelasnya.

Ketika terjaring, keduanya ditemukan membawa uang tunai dimasukkan ke dalam plastik hitam. "Plastik adalah pertama terbuka dan dihitung $ 7 juta. Kemudian plastik lainnya juga tidak ada uang, untuk total USD 25.448.600," kata Miftahul.

Pengemis modus kaki buntung sebulan raup uang Rp 5 juta

Aris Setianto (27) warga dari Boyolali menggunakan modus tunggul untuk mengemis di Jalan Gunung Sahari Raya, Jakarta Pusat. Pria berpura-pura buntung ini terjaring Services Task Force, Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) Dinas Sosial DKI Jakarta.

Aris telah memohon sejak tahun 2008. Aris mengklaim bahwa mengemis telah menjadi profesi yang menguntungkan baginya. Pendapatan dari modus tunggul cukup besar, hari bisa Rp 150-200.000.

"Dalam sebulan ia bisa 4-5 juta hanya dengan mengemis. Dia juga menyewa sebuah rumah di sekitar Tanah Tinggi, Jakarta Pusat untuk biaya 350.000 per bulan," kata Kepala Rehabilitasi Sosial, Chaidir, Minggu (15/11).

Chaidir menambahkan, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi kepada pengemis dengan berbagai modus. Seperti pura-pura cacat, dimanfaatkan anak-anak untuk mengemis, dan mode lainnya. Ini melanggar Perda 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum.

"Jika orang ingin berbagi dengan orang lain, untuk disalurkan kepada lembaga-lembaga resmi. Sebagai lembaga yang telah resmi terdaftar dan transparan dalam menyalurkan bantuan. Jadi tidak dimanfaatkan oleh oknum yang ingin mengambil keuntungan," pesan Chaidir.

Pura-pura lumpuh, Cecep raup ratusan ribu rupiah dalam setengah hari

lensaterkini.web.id - Cecelia (29), seorang pengemis di Pontianak, Kalimantan Barat, yang dipandang tidak bisa berjalan karena kelumpuhan. Bahkan, kondisi Cecelia dan cacat fisik tidak relatif baik. Bekerja sebagai pengemis, dalam waktu setengah hari, ia mendapat Rp 251 ribu.

Penemuan Cecelia, setelah ia mencetak gol kontrol gelandangan operasi dan pengemis, yang diselenggarakan Departemen Sosial dan kota Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Pontianak di daerah Sentarum Lake Road, sekitar SMK Negeri 1 Pontianak. Ketika mengemis, ia mengenakan sarung tangan, kaus kaki dan topi.

"Setelah dibawa ke kantor, kami memeriksa kondisi fisiknya dengan memiliki dia membuka selubung, ternyata kaki normal," kata Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Pontianak, Aswin Djafar di Pontianak, Kamis (28/1).

Setelah petugas memeriksa kondisi fisiknya, Cecep yang mengaku dari Bandung, Jawa Barat dan tetap menyewa sebuah rumah di daerah Pontianak Timur, mengaku tinggal di London dan mengemis cukup panjang.

"Kami memeriksa jumlah uang yang dia dapatkan, senilai Rp 251.000 hanya untuk setengah hari mengemis," jelas Aswin.

Pengemis modus buta ini sehari raup uang Rp 300 ribu

Nasari (32) dan Darto (50), sebagai pengemis di Jakarta Barat bisa mengantongi USD 300.000 per hari. Modus yang digunakan untuk berpura-pura menjadi buta. Perawatan Sosial dan Petugas Control (P3S) Jakarta Barat Sudin Sosial Amir menjelaskan awal penangkapan dua perwira melihat dua pengemis mengemis di warung di pinggiran Jalan Kedoya.

"Yang di depan berjalan dengan tongkat dan di belakang memegang bahunya," kata Amir di Jakarta Barat, Kamis (26/11). Mengetahui akan didekati oleh petugas, kata Amir, baik langsung melarikan diri berantakan dan lupa jika pusat bertindak sebagai orang buta.

"Dan kami akan meminta dan intograsi baik. Pas ingin kita percaya bahwa kembali ehh mereka berdua kabur tepuk tangan," kata Amir. Amir menambahkan, untuk meyakinkan dan menemukan kasih sayang, modus kedua berpakaian sangat lusuh.

"Aktingnya luar biasa benar-benar. Bagaimana dan aliran, persis seperti berpakaian benar-benar buta. Ketika ditanya ia mengatakan baru dua Minggu menjadi pengemis, tapi ternyata mereka pemain lama," jelas Amir.

Menurut aktor, lanjut Amir, baik pengemis bisa mengantongi uang Rp 200.000 menjadi Rp 300.000 per hari. Hasil dari mengemis itu untuk membiayai pembangunan rumah di desa.

"Dia mengatakan pendapatan harian bisa 2-300.000 sehari. Pada saat itu mencari uang dikumpulkan dalam sakunya uang Rp 860.000. Hebatnya ketika ditanya lebih dalam ternyata mereka putus asa memohon untuk membangun rumah di kampung halamannya di Tegal , "pungkasnya.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola