7 Orang Ini Tumbuh Dewasa Walau Pernah Diaborsi

Aborsi adalah tindakan menggugurkan bayi yang masih ada dalam kandungan. Di berbagai negara termasuk Indonesia, aborsi dinyatakan sebagai tindakan yang ilegal. Hanya dalam kondisi yang sangat khusus dan dengan keterangan para ahli saja sebuah aborsi bisa dilakukan, misalnya jika kandungan tersebut membahayakan nyawa ibu atau si bayi itu sendiri.

Banyak metode yang dilakukan dalam proses aborsi. Bisa dengan pemberian obat, ataupun metode lainnya. Dengan beberapa obat tertentu, bayi ini akhirnya akan meninggal dunia. Namun ternyata ada bayi-bayi yang berhasil selamat dari aborsi. Berikut ini kisah mereka di 7 orang yang dulunya pernah di aborsi kini tumbuh selamat.

Gianna Jessen

Ibu Gianna masih berusia 17 tahun ketika berusaha menggugurkan dirinya yang masih berupa janin berusia 7 bulan. Akhirnya, Gianna terpaksa dilahirkan saat ia hanya memiliki berat badan 2 kg. Akibat usaha aborsi tersebut Gianna tidak meninggal dunia, namun ia lahir dengan menderita kelumpuhan otak.

Gianna menghabiskan waktu 3 bulan dalam perawatan sebelum akhirnya kondisinya berangsur-angsur membaik dan ia dirawat di panti asuhan. Gianna kemudian diadopsi pada usia 4 tahun dan tumbuh dewasa sebagai sosok yang aktif menolak aborsi. Ia berkata bahwa dirinya sudah memaafkan ibu kandungnya, namun tidak tertarik untuk memiliki hubungan dengannya.

Melissa Ohden

Melissa Ohden adalah seorang wanita di Amerika dan merupakan korban selamat dari tindakan aborsi. Pada 29 Agustus 1977 ibunya ingin menggugurkan Melissa yang masih berupa janin berusia 7 bulan. Metode yang diambil adalah suntikan saline. Melissa yang sudah dikeluarkan dari perut ibunya kemudian dibuang.

Ajaibnya, Melissa kemudian terbangun dan menangis sehingga perawat kemudian menyelamatkannya. Melissa segara dirawat di rumah sakit karena masalah kesehatan seperti kejang, pernapasan, dan hati. Pada Oktober 1977, ia telah sehat dan diadopsi oleh keluarga lain. Mengetahui bahwa ia dulunya diaborsi, Melissa kini menjadi sosok yang menolak keras praktik aborsi.

Claire Culwell

Ibu Claire mengandung dirinya di usia yang masih sangat muda, yaitu 13 tahun. Karena masih belum siap untuk punya anak baik secara mental maupun ekonomi, maka ibunya berencana untuk menggugurkan Claire. Meski begitu, ternyata perut ibu Claire masih terus membesar dan barulah diketahui bahwa aborsi tersebut hanya menewaskan salah satu dari bayi kembar yang dikandungnya.

Beberapa minggu kemudian, Claire dilahirkan secara prematur dan memiliki masalah kesehatan. Bagian bawah tubuhnya memiliki kondisi yang buruk sehingga ia butuh terapi fisik sejak bati agar pinggul, kaki dan telapak kakinya bisa tumbuh secara normal. Claire kini memiliki hubungan yang baik dengan ibunya. Ia mengaggapnya sebagai pahlawan karena tidak melakukan aborsi kedua yang bisa saja akan menewaskan dirinya.

Josiah Presley

Josiah Presley adalah seorang pemuda Oklahoma yang aktif dalam gerakan Abolitionism. Selama bertahun-tahun, gerakan ini melawan perbudakan dan praktik aborsi. Josiah punya alasan kuat mengikuti gerakan ini karena dia sendiri dulunya adalah bayi yang selamat dari aborsi.

Sebenarnya ia lahir di Korea dalam proses aborsi. Ia berhasil selamat dari usaha pengguguran kandungan tersebut, namun ia mengalami kecacatan pada tangan gara-gara hal tersebut. Josiah kemudian diadopsi dan tumbuh sehat dalam lindungan sebuah keluarga di Oklahoma.

Carrie Holland-Fischer

Semasa kecil, Carrie dibully oleh teman-temannya karena fisiknya yang tidak sempurna. Ia tumbuh dan berpikiran bahwa gara-gara kecacatannya ia tidak akan pernah bisa hidup normal dan tidak akan pernah punya anak. Karena mengalami kesedihan yang dalam, ia berusaha bunuh diri. Meski begitu, usahanya bunuh diri gagal dan ia tetap hidup.

Kecacatan dan berbagai masalah kesehatan yang ia alami ini ternyata adalah akibat dari usaha aborsi yang gagal. Dua kali selamat dari maut, Carrie sadar bahwa hidupnya memiliki tujuan penting. Ia kini aktif sebagai pembicara untuk meyakinkan setiap wanita bahwa mereka cantik tanpa terkecuali. Ia kini bahkan hidup bahagia dengan suami dan anaknya.

Dr. Imre Teglasy

Kisah hidup dokter Imre lebih unik lagi. Pasalnya ia selamat dari tindakan aborsi yang dilakukan tanpa bantuan ahli. Saat itu orangtuanya dideportasi dari negara tempat keluarganya tinggal dan ibunya baru tahu kalau dirinya tengah hamil. Karena sudah terlanjur pindah, ia tidak bisa mendapatkan tempat untuk aborsi.

Suaminya sebenarnya memprotes keputusan istrinya, tapi ia memutuskan untuk melakukan aborsi sendiri. Tindakan tersebut ternyata gagal dan Imre selamat serta tumbuh sebagai anak laki-laki yang sehat. Meski begitu, hubungannya dengan sang ibu tidak terlalu baik bahkan sebelum ayahnya menceritakan latar belakang kelahirannya. Kini ia bergelar doktor di bidang kesusasteraan dan secara aktif menjadi penasehat untuk wanita yang mengalami krisis atau masalah saat kehamilan.

Brandi Lozier

Ibu Brandi memutuskan untuk menggugurkan kandungannya saat janin tersebut masih berusia 4 bulan. Proses aborsi selesai dan Brandi dinyatakan meninggal dunia. Namun saat pihak rumah sakit bersiap untuk membuang tubuhnya, bayi mungil itu mengangkat tangannya dan hidup kembali.

Kini Brandi telah tumbuh dewasa dan berjuang keras sebagai seseorang yang menentang aborsi. Ia banyak memberikan ceramah di gereja, perkumpulan dan kegiatan lain untuk membicarakan tentang pro-kehidupan dan bahwa aborsi adalah tindakan yang kejam.

Aborsi bukanlah hal yang dapat dibenarkan karena tindakan ini juga menghilangkan nyawa seseorang. Anak adalah titipan Tuhan yang wajib dijaga hingga ia tumbuh dewasa. Jika memang tidak siap memiliki anak, maka lakukan tindakan pencegahan dan hindari hubungan seksual di luar nikah. Ingat, jika berani berbuat maka juga harus berani bertanggung jawab. Jangan sampai mengobarkan bayi yang tidak tahu apa-apa.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola