5 Kisah Miris Rakyat Indonesia Yang Tidur di Kandang Hewan Ternak

Pemerintahan Jokowi-JK mendapat banyak pekerjaan dalam mengurangi kemiskinan di negara ini. Data dari Badan Pusat Statistik pada bulan September 2015, ada 28.510.000 orang di Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Penyebab, akses terhadap pendidikan dan pelayanan kesehatan, infrastruktur dasar, dan kesejahteraan karena perbedaan dalam pertumbuhan, lapangan kerja berkualitas. Namun, pemerintah Jokowi-JK dianggap lupa betapa kemiskinan melalui faktor sosial dan budaya.

Mantan Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan dan Industri era Presiden Megawati, Kwik Kian Gie mengatakan bahwa kemiskinan di Indonesia semakin kronis. Bahkan, kata dia, kemiskinan telah melampaui batas-batas kemanusiaan.

Kwik Kian Gie Mungkin pernyataan itu benar jika fakta ada orang di Indonesia yang tinggal di tempat tidak layak. Tidak hanya di bawah jembatan atau sungai, tapi di kandang hewan. Lensaterkini merangkum cerita dari warga yang tinggal dan bekerja di kandang hewan. Berikut paparannya. Mari simak ulasan dari lima cerita orang indonesia yang tidur di kandang hewan.

Ibu di NTT tinggal di bekas kandang babi

lensaterkini.web.id - Adolfina Naonin (39), sejak 2014 tinggal di sebuah gubuk. Luasnya 25 x 50 meter. pondok ini awalnya kandang babi dibuat menjadi tempat tinggal. Kupang Bupati Ayub Titu Eki mengunjungi desa Obesi Adolfina, Kabupaten Timur Amarasi, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ayub mengatakan Adolfina tinggal di bekas kandang babi karena kemauan sendiri.

"Tapi yang bersangkutan menolak," kata Bupati Ayub, Selasa (15/3). Adolfina tinggal di gubuk bekas kandang babi bukan karena faktor ekonomi. Ayub yakin Adolfina mampu membangun rumah. Tetapi ia memilih untuk tinggal di kabin karena sengketa tanah dengan keluarga. "Ini masalah ego masing-masing pihak," kata Ayub.

Ayub mencoba untuk menengahi perselisihan keluarga yang tidak menyebabkan masalah yang menyebabkan kejahatan. Hasil mediasi tidak menghasilkan jalan keluar dari kekerabatan. Pekerjaan membiarkan masalah ini dilanjutkan ke ranah hukum.

Nenek tinggal di kandang sapi

Ironis jika kondisi seorang wanita lemah berusia 80 tahun yang tinggal di sebuah gubuk tak layak huni di Banjar Taman Sari, Desa Pandak Gede, Kabupaten Kediri, Tabanan Bali. Dalam kondisi tidak bisa berjalan, Ni Wayan Lembuk tinggal dengan putrinya di bekas kandang sapi gubuk.

Dalam hujan, Lembuk terus menjerit kesakitan sambil menangis dengan rasa sakit di kakinya yang patah. Tidak hanya itu, muncul dalam Bale dan berlumpur lantai dasar bagi banyak air hujan jatuh dari atap bocor.

Ironisnya, dalam kondisi tak berdaya ini ia tinggal dengan dia dalam keadaan keterbelakangan mental.

"Selama ini saya masih bisa mencari uang untuk makan. Karena patah kaki enam bulan yang lalu, hanya bisa tidur hanya tidak bisa kemana-mana. Anak saya buduh (gila)," keluh Lembuk menggunakan bahasa Bali, Tabanan, Senin (15 / 2).

Kakinya patah tertabrak mobil saat pulang dari menjual. Sekarang dia dan anaknya berumur hanya mengandalkan beras miskin, serta membantu tangan orang-orang lokal. Gubuk yang terbuat dari cabang-cabang pohon yang menempati daerah ini di pinggiran mantan kandang sapi padi.

"Ini dulunya mantan kandang sapi, tanah ini milik nama dokter Mr. Anak Agung Subawa. Ibu Lembuk hanya naik di sini," kata Made Putera, seorang petani warga setempat. Ia mengatakan, Lembuk dengan anaknya yang tinggal dengan gangguan mental sudah hampir 10 tahun. "Dia tidak memiliki kerabat di sini, hanya dengan anaknya sendiri. Tapi penyakit mental nya tidak parah sampai mengamuk," katanya.

Huts diduduki Lembuk, sangat kotor dan bau. Selain bau urin juga bau kotoran manusia dicampur dengan kotoran hewan. Ini diketahui, dalam waktu lima meter dari pondok juga ada kandang kambing.

Pasutri tinggal di kandang kambing

lensaterkini.web.id - Nasib kurang beruntung harus dirasakan pasangan Muzakir (50) dan istrinya Wasilah (51). Penduduk desa Karanggondang RT 01 / II, Kecamatan Mlonggo, Jepara, Jawa Tengah, terpaksa tinggal di rumah untuk kambing milik desa.

Mudzakir mengaku tinggal bersama istrinya di gudang kambing milik salah satu warga selama dua tahun ke depan. Hidup harus memiliki tanda terima karena tidak ada kerabat.

"Aku tidak punya tempat tinggal. Karena awalnya saya hanya diadopsi. Jadi itu tidak memiliki apa-apa ketika ahli waris tidak memungkinkan saya untuk tinggal," kata Mudzakir, Senin (2015/10/12). Berkat beruntung dengan bantuan orang-orang di sekelilingnya dapat menempati sebuah gubuk yang terletak tidak jauh dari pertama kali ke kandang kambing menempati. Mudzakir mengaku sudah tiga tahun menempati gubuk hanya berukuran 2 meter x 3 meter adalah.

"Saat tidur, saya harus tidur di atas tikar di tanah. Sementara istri saya tidur di tempat tidur sederhana," katanya. Mudzakir mengatakan, tempat tinggal saat ini menempati tribun atas tanah milik warga bernama Fidah. Sementara membangun sebuah listrik gabungan dari warga setempat.

Polisi tidur di kandang sapi

Jalan setapak tanah di samping boot trail ditumbuhi mencetak polisi. Hanya sekitar beberapa meter, bangunan terlihat berukuran 4x7 meter di antara sapi kandang. Bangunan ini tidak memiliki pintu, hanya tirai kucal yang menutupnya. Sementara itu di depan gedung, ada meja di atasnya berbaring sendok garpu. Bangunan itu sendiri tidak utuh, hanya sebagian berdinding adobe, sementara yang lain hilang. Sebuah spanduk membentang menggantikan mantan dinding.

Di atas lantai dasar, ada dua tempat tidur dengan kasur dikenakan di atasnya dan lemari kayu besar yang berpori. Pada kasau genting menggantung dua bola lampu yang menyala hanya di sore hari.

"Ya itu rumah saya," kata Muhammad Taufiq Hidayat, seorang polisi yang baru saja lulus dari polisi pada tahun 2014 dan kemudian, pada Rabu (14/01/2015). Selama dua tahun Taufiq tinggal di rumah dengan ayahnya dan tiga saudara kandung. Bau kotoran sapi sengatan yang tidak lagi terasa baginya.

Rumah ini dibangun oleh ayahnya setelah berpisah dengan ibunya dua tahun lalu. Meskipun hanya mantan kandang sapi, mereka masih harus membayar sewa tanah.

"Itu adalah tanah khas desa jadi harus membayar, setelah saya sampai di rumah di Jongke juga, tapi dijual setelah orang tua berpisah," katanya. Saat malam tiba, Bripda Taufiq tidur bersama tiga saudaranya di rumah. Sementara ayahnya tidur di mobil tuanya seperti itu biasanya digunakan untuk menambang pasir. "Tidak ada tempat, sehingga Anda tidur di bak mobil," katanya singkat.

Pada awalnya tidak ada yang tahu jika Bripda Taufiq sebagai polisi yang tinggal kandang sapi dibekas. Sampai suatu hari seorang petugas dari Negara Sekolah Polisi (SPN) berikut Bripda Taufiq saat pulang dari sekolah. Saat itu petugas curiga dengan Taufiq Bripda selalu Jombor berjalan kaki dari terminal ke utara.

Karena biasanya, siswa dikawal ke terminal shuttle Jombor selalu dalam keluarga, tapi Bripda Taufiq hanya berdiri dipinggir jalan. Setelah semua teman-temannya dijemput, dia hanya berjalan menuju utara di sepanjang Jalan Magelang. "Ada diikuti, setelah itu menemukan bahwa tinggal di rumah Taufiq sapi, kami terkejut menerima laporan itu," kata polisi Dirshabara Yogyakarta, Komisaris Yulza.

Janda tinggal di kandang babi

lensaterkini.web.id - Made Ariani (52) dan anaknya Gusti Ayu Kade Ari Kurniawati (16) kondisinya benar-benar memprihatinkan. Lebih dari 7 tahun ibu dan anak menempati bekas wilayah gubuk Lelateng kandang babi, Jembrana, Bali.

Harian, Made Ariani hanya bekerja sebagai aneh. Itu hanya harapan warga rahmat bahwa jika meminta bantuan dengan papan atau mencuci pakaian. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan oleh tetangga Terbuat Ariani kadang-kadang juga ingin makan nasi hampir basi. "Saya di sini juga tinggal. Tanah saya tinggal milik orang lain. Rumah saya tinggal juga mantan kandang babi. Tapi itu tidak digunakan lagi," kata Made Ariani, Kamis (2015/04/06).

Semua tempat tidur dan lemari pakaian juga membantu keluarga pemilik tanah. Demikian juga kadang-kadang Terbuat Ariani diberi tugas pengasuhan oleh pemilik tanah. "Saya kadang-kadang begitu pemulung untuk memenuhi kebutuhan mereka," katanya.

Bekerja serabutan, penghasilan janda meninggalkan suaminya mati ini setiap hari tidak lebih dari Rp 20 ribu. Tapi kadang-kadang juga tidak berhasil. Mengatakan Terbuat Ariani, jika ia menikahi Bali adat dengan almarhum suaminya Gusti Kade Todia sejak tahun 1994 lalu. "Saya keluar dari Jawa tapi karena menikah dengan suami saya mendapatkan di Bali," kata Ariani yang mengaku memang menjadi istri kedua ini dan masih bertahan hidup tinggal di Bali.

Sebelumnya mereka hidup nomaden dan akhirnya diberikan untuk meminjam tempat di tanah milik keluarga suami dari dewi Paron. "Sebelum kami bertiga yang tinggal di gubuk ini. Tapi suami saya sakit dan tiga tahun sejak suami saya tidak ada di sana," kata Ariani, memanggil suaminya telah meninggal karena TBC.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
LensaTerkini
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola