8 Suku Dengan Tradisi Modif Tubuh Paling Ekstrim di Dunia

Kebudayaan adalah tradisi turun temurun yang dipercaya sebuah komunitas masyarakat di suatu lokasi dalam kondisi yang cukup lama bahkan turun temurun. Meski jaman berganti, ada banyak tradiri budaya yang masih dipegang teguh.

Karena berasal turun temurun dari generasi sebelumnya, banyak tradisi budaya di dunia ini yang terdengar tak masuk akal bahkan sangat aneh. Tapi yang namanya tradisi budaya, kebanyakan generasi masa kini hanya memiliki dua pilihan yakni menolak melakukan dan dianggap mengkhianati suku atau pasrah mengikuti.

Tapi rupanya, banyak sekali tradisi kebudayaan tak masuk akal yang terjadi di dunia ini. Saking tak masuk akalnya, tradisi budaya itu bahkan membuat bentuk tubuh seseorang berubah! Seperti apa saja ya? Simak liputannya berikut ini 8 suku budaya yang modif tubuh paling aneh.

Telinga Memanjang

Tidak ada yang tahu siapa orang pertama yang mempopulerkan tradisi budaya telinga memanjang ke bawah. Namun sampai saat ini, praktek seni memanjangkan telinga selalu dilakukan dengan berbagai alasan mulai dari agama, upacara pertambahan usia, menangkal kejahatan, peningkatan gairah seksual sampai keindahan fisik. Mulai suku Masai di Kenya sampai suku Huaorani di kawasan Amazon masih mempraktekkan telinga memanjang. Mau mencoba?

Lubang Hidung Membesar 

Suku Apatani tinggal di lembah Ziro di kawasan Arunachal Pradesh di timur laut India. Perempuan Apatani dianggap paling cantik di kawasan Arunachal meski pada kenyataannya mereka dianggap tidak terlihat menarik karena apa yang dilakukan yaitu membuat lubang hidung melebar. Kebudayaan ini dilakukan sebagai perlindungan dari penjajah. Tradisi ini masih dilakukan oleh 26 ribu perempuan suku Apatani.

Garis Darah di Dahi

Kebanyakan anak-anak kecil suku Dinka tak menangis ketika seorang dukun lokal menggoreskan pisau panas di dahi sampai mengeluarkan darah segar. Jika anak-anak ini meringis, menangis, atau bereaksi maka mereka akan kehilangan derajat di kalangan masyarakat.

Jadi duduk dalam damai adalah cara terbaik yang masih dilakukan suku Dinka di Sudan Selatan ini. Garis-garis di dahi ini dianggap sebagai simbol keberanian suku. Waduh, mengerikan sekali ya!

Menusuk Mulut

Untuk sebagian orang hal ini sangatlah ekstrem, namun untuk penduduk lokal Thailand hal ini cukup normal. Mengabaikan rasa sakit menjadi salah satu syarat untuk ritual pendewaraan diri ini. Tradisi menindik  bagian tubuh dengan benda tajam ini dilakukan di kawasan pulau Phuket pada bulan Oktober setiap tahunnya.

Selain menusukkan benda tajam di pipi sampai menembus mulut (ya, apa yang kamu baca benar), ritual lain adalah berjalan bertelanjang kaki di atas bara panas. Meski luka mereka dinyatakan sembuh, bekas luka menumpuk tahun demi tahun.

Membentuk Gigi

Penajaman gigi manusia adalah praktek mengasah gigi yang biasanya dilakukan kepada gigi seri depan. Di daerah Bali-Indonesia, gigi yang dibentuk menurun sampai hampir tajam ini lantaran gigi dianggap mewakili kemarahan, iri hati, dan emosi negatif lain.

Pembentukan gigi ini juga dilakukan suku Aborigin dengan alasan spiritual. Dalam budaya Maya, gigi yang tajam dengan desain ukir digunakan sebagai pembeda kasta sosial masyarakat. Hanya saja jangan menggigit tanganmu dengan gigi tajam itu ya.

Pola Kulit Tubuh

Meskipun pengorbanan dilakukan oleh seluruh orang di dunia ini, namun praktek paling berat dilakukan oleh suku sungai Sepik di Papua. Sebagai bagian dari inisiasi seorang pria, praktek ini berlangsung selama berminggu-minggu. Bagaimana prosesnya? Seorang tetua suku menggunakan silet untuk memotong-motong kulit di banyak bagian tubuh pria muda dan membentuk pola meniru kulit kasar dari buaya. 

Mereka percaya bahwa buaya akan meniru segala kemiripan yang tersisa dari pria muda itu. Membayangkan saja sudah membuat seluruh tubuh linu.

Bibir Melebar

Pelat bibir yang juga dikenal dengan cakram bibir adalah bentuk modifikasi bagian tubuh. Sebuah cakram berbentuk lingkaran yang terbuat dari kayu atau tanah liat dimasukkan ke dalam lubang tindik di bagian bibir bawah dan atas.

Hal ini diyakini sudah dilakukan di kawasan Sudan dan Ethiopia (8700 SM), Mesoamerika (1500 SM) dan pesisir Ekuador (500 SM). Cakram bibir ini dipakai sebagai tanda penting status sosial dan ekonomi di beberapa suku. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara perempuan-perempuan ini makan dan mengunyah?

Leher Tinggi

Perempuan suku Kayan di kawasan Thailand Utara dikenal dengan cincin kuning yang mereka susun meninggi di bagian leher. Julukan perempuan berleher jerapah ini bukan tanpa alasan karena bisa mencapai 25 gulungan cincin.

Perempuan di sana memulai memakan cincin di leher saat berusia 5 tahun dengan berat sekitar 2 kg dan semakin ditambahkan saat usia bertambah. Apakah perempuan-perempuan di sana bisa menoleh dan tidur dengan tenang ya?

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola