7 Ekspedisi Ilmiah Yang Gagal Ini Berakhir Fatal

Kita sekarang memang bisa menikmati segala kemudahan berkat para ilmuwan pada masa lalu. Sebagai orang pertama yang melakukan percobaan dan ekspedisi, mereka menghadapi banyak resiko yang tidak jarang juga membahayakan.

Di balik setiap penemuan dari ekspedisi yang menakjubkan, ada perencanaan, kerja keras, dan bahaya yang mengikutinya. Ekspedisi yang sudah direncanakan dengan matang sebelumnya saja masih berisiko mengalami kegagalan. Apalagi yang sudah diawali dengan kesalahan dan kegagalan sejak awal? Mari simak ulasan dari 7 kegagalan ekspedisi ilmiah yang berakhir sangat fatal.

Pencarian ‘Z’

Melintasi hutan liar yang dihuni jaguar, ular-ular beracun, penduduk lokal yang tidak bersahabat, penyakit, dan bahaya lainnya sudah pasti membutuhkan persiapan yang tidak bisa sembarangan. Tapi entah apa yang ada di pikiran seorang arkeolog dan penjelajah Percy Fawcett hingga ia masuk ke dalam hutan belantara begitu saja.

Ia yakin bahwa ada sebuah kota yang hilang tersembunyi di bagian barat hutan belantara Brazil. Menurutnya, kota tersebut penuh dengan emas dan rahasia penting peradaban manusia. Tahun 1925, bukannya menyewa pemandu lokal, ia bersama anak laki-laki dan teman anak laki-lakinya masuk ke dalam hutan tersebut sendirian. Sejak saat itu, mereka bertiga tidak pernah terlihat lagi.

Ekspedisi Kutub Utara S.A. Andrée

Sebuah balon udara dengan sistem kemudi yang diciptakan sendiri rencananya akan membawa seorang insinyur, ahli fisika, penerbang, dan penjelajah kutub Salomon August Andrée dari Swedia ke Kutub Utara lewat Rusia atau Kanada. Namun sistem ini ternyata tidak berfungsi dan cukup berbahaya. Parahnya lagi, Andrée tidak pernah mengetes balon ini sebelum terbang dan menolak mengubah rencana meski tahu bahwa keranjang balon tersebut terlalu penuh dengan peralatan ilmiah.

Tahun 1897, Andrée akhirnya berangkat dengan 2 orang teman. 10 jam 29 menit kemudian, ia melakukan kontak dengan daratan sebelum mengalami kecelakaan 41 menit kemudian. Tidak ada yang terluka dalam kecelakaan tersebut, namun Andrée ternyata tidak membawa peralatan atau pakaian untuk bertahan hidup. Setelah tiga bulan berada di Kutub Utara dan berjalan ke Pulau Kvitøya, mereka meninggal dunia.

Soyuz 1

Tahun 1967, ekspedisi luar angkasa berada di puncaknya, namun Rusia belum pernah mengirimkan astronot lagi dalam waktu 2 tahun. Soyuz 1 merupakan program pesawat luar angkasa yang didesain untuk mengirimkan astronot Vladimir Komarov ke luar angkasa. Rencananya, Soyuz 2 juga akan diberangkatkan keesokan harinya sebelum Soyuz 1 dikirim pulang kembali ke bumi. Selanjutnya, misi Soyuz 2 ditambah dengan memperbaiki Soyuz 1 yang mengalami kerusakan di luar angkasa.

Tapi karena ada badai, Soyuz 2 batal diluncurkan dan Soyuz 1 pulang kembali ke bumi tanpa perbaikan. Saat itulah peristiwa naas terjadi pada Soyuz 1. Kombinasi dari kerusakan mesin, parasut utama yang gagal terbuka, dan parasut cadangan yang terlilit membuat pesawat ini jatuh langsung menghantam bumi beserta astronot Komarov yang ada di dalamnya. Sebelum keberangkatan Soyuz 1, ternyata tes penerbangan membuktikan banyaknya kegagalan dan lebih dari 200 kesalahan desain yang dilaporkan oleh para teknisi, tapi misi masih saja diteruskan.

Burke dan Wills

Tahun 1860, sebuah klub ilmuwan Melbourne dan para pebisnis memutuskan untuk mendanai ekspedisi ke jantung benua Australia yang belum dijelajahi untuk mempelajari flora dan fauna di sana dan menemukan jalan mencapai teluk Carpentaria. Tapi bukannya mencari penjelajah berpengalaman untuk memimpin ekspedisi, mereka malah memilih pria yang sama sekali tidak punya kemampuan bertahan di alam liar dan tidak punya nalar, Robert O’Hara Burke.

Bersama dengan William John Wills dan 19 orang pria, Burke berangkat ke pedalaman. Tapi yang ia bawa malah barang tidak penting seperti bathtub, meja dari kayu oak, dan bangku pendek. Burke, Wills, dan 2 orang pria lainnya berhasil sampai ke tujuan, namun mereka mulai kekurangan makanan dan suplai dalam perjalanan pulang. Burke dan Wills meninggal karena kelaparan. Sementara itu 7 orang pria lainnya meninggal dalam ekspedisi itu dan hanya 1 orang yang berhasil selamat kembali ke Melbourne.

Ekspedisi Terra Nova

Tahun 1910, Robert Falcon Scott dan 4 lainnya melakukan ekspedisi untuk menjadi orang pertama yang berhasil mencapai Kutub Selatan. Namun ternyata pada tahun 1912, mereka baru tahu bahwa tim mereka kalah 1 bulan dengan tim Norwegia. Tim tersebut telah mengalami banyak kesulitan sejak awal seperti  kuda pengangkut beban yang burung, suplai makanan yang hilang karena badai, dan kurangnya pengetahuan tentang nutrisi.

Saat itu mereka tidak tahu bahwa vitamin C itu bisa mencegah penyakit scurvy yang ditandai dengan lemas, anemia, radang gusi, dan pendarahan kulit. Bahkan jatah makan yang sudah direncanakan ternyata kurang dari setengah jumlah kalori yang dibutuhkan. Akhirnya dalam perjalanan pulang seluruh anggota meninggal karena kedinginan, kelelahan, dan kelaparan.

Amelia Earhart

Sebagai seorang tokoh emansipasi wanita paling awal, Amelia Earhart belum puas hanya dengan menjadi orang pertama yang mengelilingi bumi. Ia berniat mengambil rute terjauh, yaitu di daerah khatulistiwa dengan jarak 40.070 km. Ia berniat untuk mencatat rekor, berkontribusi dalam ilmu pengetahuan, dan mempublikasikan bukunya.

Meski pesawatnya sudah dimodifikasi dengan tanki bahan bakar yang lebih luas, rute yang diambil Earhart adalah medan yang sangat sulit. Ia menghilang tahun 1937 ketika berusaha menyelesaikan perjalanan sejauh 4 ribu kilometer dari New Guinea ke Pulau Howland. Masyarakat percaya bahwa kekurangan bahan bakar menjadi penyebab kapalnya mengalami kecelakaan dan tenggelam tanpa jejak. Ekspedisi ini kemudian disebut sebagai ekspedisi dengan perencanaan buruk dan pelaksanaan yang jauh lebih buruk.

Challenger

Tahun 1986, cuaca buruk serta peringatan dari NASA tidak dihiraukan, dan pesawat luar angkasa Challenger tetap diluncurkan. Hanya 73 detik setelah berangkat, pesawat tersebut meledak dan pecahannya tenggelam di Samudera Atlantik. Meskipun awalnya beberapa dari 7 orang kru berhasil selamat di awal pecahnya pesawat tersebut, tidak adanya sistem penyelamatan diri untuk keluar dari pesawat akhirnya menewaskan semua kru yang ada di dalam pesawat.

Administrator tahu dengan kemungkinan fatal akibat kesalahan di O-ring, kesalahan ini berakibat dari kerusakan berantai yang menimbulkan kecelakaan ini. Namun mereka tidak menyebutkan masalah ini dan tidak menyampaikan kekhawatiran para teknisi ini pada pimpinan. Akibatnya, misi Challenger menewaskan seluruh kru di dalam pesawat tersebut.

Sebuah ekspedisi memang sudah seharusnya dipersiapkan dengan teliti dan sungguh-sungguh. Apalagi jika bertujuan untuk pergi ke alam bebas. Sebenarnya persiapan seperti ini juga tidak hanya penting untuk ekspedisi yang bersifat ilmiah saja, bahkan untuk tujuan wisata ke alam bebas, perlu persiapan yang matang dan kewaspadaan. Kita tidak pernah tahu apa yang mungkin terjadi, karena itu, setiap tanda, kesalahan, atau kerusakan sekecil apapun perlu diperhatikan.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola