5 Tokoh Pembenci Agama Islam Ini Tengah Berpengaruh di Dunia

Islamofobia kembali menggejala di pelbagai belahan dunia, khususnya negara-negara Barat. Pemicunya adalah ledakan migran di Eropa. Lebih dari satu juta migran, baik itu pengungsi, pencari suaka, maupun imigran, sepanjang tahun lalu berusaha menembus Benua Biru.

Membanjirnya orang asing itu tak diterima oleh warga setempat. Imigran beragama Islam paling sering menjadi kambing hitam. Salah satu senjata untuk menyerang umat muslim adalah insiden pelecehan seksual massal di Kota Cologne, Jerman, pada malam tahun baru. Ratusan perempuan di kota itu dirampok dan dilecehkan oleh imigran yang menurut polisi berasal dari Timur Tengah dan Afrika Utara.

Kelompok fasis, partai berhaluan nasionalis, maupun pembenci imigran kini berada dalam satu kubu. Di Jerman, misalnya, mereka mendesak pemerintah setempat tak lagi menerima imigran, terutama yang beragama Islam. Organisasi rasis seperti Bangsa Eropa Patriotis Penentang Islamisasi di Barat (PEGIDA) rajin berkampanye menuding Islam biang kerok masalah keamanan di Eropa.

Setali tiga uang, politikus Amerika Serikat kini kerap memojokkan pendatang muslim. Teror-teror besar tahun lalu oleh militan ISIS dianggap membuktikan bahwa menerima imigran muslim dapat mempengaruhi keamanan nasional.

Jika disimak lebih lanjut, di setiap negara yang sedang dilanda Islamofobia, selalu ada sosok politikus atau tokoh masyarakat aktif menyudutkan umat muslim. Mereka secara terbuka menuding Islam sebagai biang dari semua masalah di muka bumi. Tokoh-tokoh penting itu juga terbuka mengumumkan agenda melawan Islamisasi di negaranya. Mari simak ulasan dari lima tokoh yang membenci islam ini sedang berpengaruh bagi dunia.

Marine Le Pen, motor anti-Islam Prancis

Pemimpin Partai Front Nasional Prancis, Marine Le Pen, pada pemilu daerah tahun lalu berhasil menguasai setidaknya lima provinsi. Dia selama 10 tahun terakhir konsisten menyudutkan imigran, terutama yang berasal dari negara-negara mayoritas muslim.

Tak cuma itu, Le Pen pernah menyebarkan kebencian rasial dengan berpidato melecehkan ibadah umat muslim pada 2010.

Wanita 47 tahun ini mengomentari banyaknya imigran beragama Islam di kota itu. Saking banyaknya, seringkali masjid penuh ketika salat berjamaah digelar. Sebagian jamaah lalu salat di pelbagai tempat, termasuk lapangan atau tempat parkir. Le Pen menyinggung kebiasaan imigran itu mirip Nazi Jerman.

"Kita pernah mengalami Perang Dunia II dan saat itu ada penjajahan. Publik harus membicarakan (orang salat di sembarang tempat), karena ini masuk kategori penjajahan wilayah," kata Le Pen. Oktober 2015, Le Pen diadili di Kota Lyon karena kata-katanya yang rasis. Parlemen Uni Eropa mencabut imunitas Le Pen. Jika pengadilan Lyon menilai politikus perempuan ini bersalah, vonis maksimal adalah setahun penjara ditambah denda 45 ribu Euro (setara Rp 700 juta).

Partai yang dipimpin Le Pen secara bertahap kini menguasai posisi wali kota serta legislatif di kota-kota pinggiran Prancis. Salah satunya adalah Kepulauan Corsica yang mengalami ketegangan rasial, berujung pada perusakan masjid menjelang akhir 2015.

Geert Wilders, konsisten sudutkan Islam

Ketua Partai Kebebasan Belanda, Geert Wilders, kembali naik daun karena isu arus imigran. Politikus 52 tahun ini sejak lama dikenal sebagai pembenci umat muslim. Visi-misinya secara khusus memuat perjuangan menghentikan penyebaran Islam di Eropa dan dunia. "Perjuangan anti-Islam adalah misi hidup saya," ujarnya saat diwawancarai khusus oleh stasiun televisi Nos pada 2012 lalu.

Sosok Wilders menjadi buah bibir negara-negara mayoritas muslim ketika meluncurkan film dokumenter 'Fitna' lewat Internet pada 2008. Tayangan itu menuding Al-Quran mengajarkan kekerasan, paham antisemit, anjuran membantai homoseksual, serta mengajak lelaki muslim melecehkan perempuan.

Partai Kebebasan Belanda yang berpaham nasionalis kini menjadi minoritas di parlemen, dengan 12 kursi dari keseluruhan 150. Politik Belanda sejauh ini masih dikuasai Partai Liberal, pimpinan Perdana Menteri Mark Rutte. Kendati begitu, risiko masalah sosial akibat banjir imigran di Eropa setahun terakhir menjadi perhatian warga Negeri Kincir Angin.

Wilders pun mendapat momentum, setelah jajak pendapat Ipsos bulan ini mencatat partai yang dia pimpin pada pemilu tahun depan berpeluang memenangkan hingga 32 kursi, menggeser kepemimpinan Partai Liberal.

Akhir pekan lalu, Wilders kembali belumlah dengan membagikan semprotan lada kepada pendukung perempuan. Semprotan ini menurutnya metode pertahanan diri paling efektif bagi kaum hawa agar terhindar dari imigran gemar memerkosa perempuan yang dijulukinya, "bom testosteron pemeluk Islam."

Pamella Geller, Sang Ratu Anti-Islam

Pada Mei 2015, ISIS untuk pertama kalinya melakukan serangan teror di Amerika Serikat. Seorang militan bersenjata senapan mesin menyerbu pameran kartun mengolok-olok Nabi Muhammad.

Sosok di balik pameran yang memicu kecaman internasional itu adalah Pamella Geller. Wanita 56 tahun ini bersama Robert Spencer, mendirikan American Freedom Defense Initiative (AFDI) yang bertujuan menghentikan Islamisasi di Amerika.

Geller sempat bekerja sebagai wartawan pada 1980-an. Dia tiba-tiba banting setir menjadi kritikus ajaran Islam sejak 2009. Blog pribadinya banyak memuat tulisan bernada kebencian yang menuding Islam sebagai biang keonaran dunia. Geller bahkan pernah membuat tulisan kontroversial melalui blog-nya yang menyebut bahwa Presiden Obama merupakan pemeluk rahasia Islam.

Di Texas, Geller aktif memimpin ribuan orang mendemo konferensi umat muslim Amerika Serikat. Tak terhitung lagi petisi maupun unjuk rasa yang dia galang demi menggagalkan pembangunan masjid di banyak kota di AS. Media-media Negeri Paman Sam menyebut Geller sebagai ratu anti Islam masa kini.

Sam Bacile, sutradara paling getol serang Islam

Nama aslinya Nakoula Basseley. Dia mempunyai darah Mesir-Amerika Serikat dan menetap di Kota Los Angeles, Negara Bagian California. Bacile tampil menjadi pembenci Nabi Muhammad dan menjadi produser sekaligus sutradara film Innocence of Muslims. Dalam film ini digambarkan sosok Rasulullah penipu dan tukang merayu. Film ini berdurasi 14 menit dan disebar Bacile di situs berbagi video Youtube awal bulan ini.

"Ini film politik. Amerika telah kehilangan banyak uang dalam perang Irak dan Afghanistan. Saya memerangi pemikiran. Buat saya, Islam itu kanker, titik," ujarnya.

Film itu membuat seluruh umat Islam dunia marah besar. Unjuk rasa diadakan di tiap negara, bahkan menewaskan duta besar Amerika untuk Libya, John Christopher Stevens. Senin lalu, Bacile menyerahkan diri ke kantor polisi di Los Angeles. Dia diganjar hukuman penjara dan denda Rp 74,6 miliar.

Donald Trump, pemimpin utama anti-Islam dunia

Dari semua politikus maupun tokoh kampanye antimuslim yang sudah disebut sebelumnya, tak ada yang mengalahkan Donald Trump. Bakal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik inilah yang paling banyak melontarkan kecaman dan tudingan serius pada umat muslim.

Setiap pidato Trump soal Islam segera menjadi bahan perbincangan maupun perdebatan di televisi hingga dunia maya. Publik Internasional tentu tidak akan lupa pertanyaannya pada Desember 2015, soal ide melarang imigran muslim di seluruh dunia masuk ke Amerika Serikat. Pelarangan itu, menurutnya, harus dilakukan dari pintu imigrasi darat, laut, maupun udara.

"Larangan (masuk) itu berlaku sampai kita bisa memutuskan dan mengerti permasalahan ideologi Islam dan ancamannya yang berbahaya. Negara ini tidak bisa menjadi korban serangan kaum percaya pada konsep Jihad dan tidak memiliki nalar untuk menghormati sesama manusia," ujar Trump.

Tak hanya itu, Trump rajin melontarkan gagasan diskriminatif bagi pemeluk Islam. Misalnya warga AS beragama Islam harus memakai baju bertanda khusus, mirip kebijakan Nazi Jerman terhadap orang Yahudi. Trump juga aktif menolak pembangunan masjid serta berulang kali menyebut Islam sebagai ajaran yang bermasalah karena memicu terorisme di dunia.

Trump, pengusaha properti dan kasino yang membuat publik Indonesia heboh seusai bertemu dengan pimpinan DPR, kini memimpin survei popularitas bakal capres Partai Republik. Survei dihelat Ipsos menunjukkan sang miliarder itu mendapat dukungan 32 persen responden hingga pertengahan januari 2016, jauh di atas calon-calon bakal presiden Partai Republik lainnya.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola