5 Penderitaan Yang Dirasakan Penduduk Keturunan China di Indonesia

Kita tak pernah minta kepada Tuhan untuk dilahirkan di ras apa dan negara mana. Maka apa pun yang dipilihkan Tuhan, maka ini adalah yang terbaik. Termasuk lahir dengan darah tiongkok, kita harus mensyukuri hal tersebut. Namun, jujur saja, terlahir sebagai Tionghoa di Indonesia tidak seindah yang dibayangkan. Bagaimana tidak, bahkan hingga hari ini masih saja ada stigma dan perlakuan tidak menyenangkan yang ditujukan kepada orang-orang Tionghoa.

Sudah jadi rahasia umum jika banyak orang yang tidak menyukai eksistensi China di Indonesia. Terlepas dari banyaknya alasan yang ada. Padahal jika kita kembali melihat sejarah, banyak sekali jasa orang-orang Tiongkok bagi Indonesia. Namun semuanya ditepis dan dibalas dengan peristiwa-peristiwa pahit yang menumpahkan korban orang China. Nah, berikut ini adalah penderitaan-penderitaan yang mungkin hanya dialami oleh orang China yang ada di Indonesia.

Selalu Kena Stigma Buruk

“Orang China itu tukang peras, orang China itu pelit, orang China itu juga nggak suka berbaur…” pasti masih sering kan mendengar hal-hal semacam ini. Inilah stigma yang kadung lekat dengan orang-orang China. Padahal tak semua orang China seperti itu. Memang ada sebagian, namun hal tersebut bukan alasan untuk menggeneralisirnya. Apa orang-orang pribumi suci semua dan tak ada yang seperti itu? Tentu saja ada dan mungkin lebih banyak.

Hanya orang China yang selalu kental dengan stigma buruk. Padahal di Indonesia bukan hanya China saja yang merupakan warga keturunan. Arab, Eropa, juga ada namun mereka hampir jarang kena stigma buruk seperti itu.

Haram Bagi Orang Keturunan Tionghoa Menunjukkan Jati Dirinya

Kembali ke zaman orde baru, orang-orang China mengalami berbagai macam ketidakadilan. Status mereka yang dianggap numpang kala itu, membuat pemerintah dengan alasan tertentu menerbitkan regulasi aneh yang seolah mencengkeram orang Tionghoa.

Saat itu, orang-orang China harus mengubah namanya agar lebih menunjukkan identitas Indonesianya. Tak boleh memajang atribut mandarin dan ke-Chinese-an mereka, sampai tentang kebebasan melakukan ritual keagamaan yang hanya boleh dilakukan di rumah saja. Mungkin hanya di Indonesia mereka diperlakukan seperti ini.

Keturunan Tionghoa Indonesia Dibunuh dan Dirampas Hartanya

Mei 1998 adalah tahun paling diingat oleh orang-orang China. Bagaimana tidak ingat, orangtua mereka dulu mungkin jadi korban keberingasan massa yang tak segan memburu dan membantai. Tak hanya itu, kejadian ini juga dihiasi dengan aksi penjarahan yang dilakukan para oknum.

Bahkan konon kabarnya, sekitar puluhan wanita Tionghoa dilecehkan beramai-ramai. Hal ini membawa dampak fisik dan psikis yang dalam bagi orang-orang China. Gara-gara ini sebagian besar orang China pun ketakutan dan memilih pergi ke Tiongkok. Belum ada statement dari pemerintah soal ini. Kejadian ini pun menjadi salah satu sejarah gelap tentang Chinese yang pernah terjadi di Indonesia.

Warga Keturunan Pernah Dijadikan Warga Kelas Dua

Begitu rendahnya orang China dulu, mereka pernah tak dianggap sebagai bagian dari Indonesia. Mereka dilabeli khusus dan seakan memiliki kasta di bawah orang-orang pribumi. Mereka sama sekali dilarang untuk terlibat dalam hal-hal kenegaraan. Dulu, orang China haram hukumnya jadi PNS, ikut militer, dan berkiprah di partai politik. Meskipun mereka punya kapasitas untuk itu.

Mereka tidak boleh ikut politik karena ditakutkan akan mengancam pemerintahan. Entah itu melakukan kudeta atau semacamnya. Dulu orang Tionghoa pun hanya bisa menerima keadaan, karena mereka minoritas dan takkan mungkin melawan. Memberontak hanya akan membuat orang China makin mendapatkan perlakuan buruk.

Sejak Dulu Warga Keturunan Dikotak-Kotakkan

Ketidakadilan terhadap orang China sebenarnya tak hanya dimulai ketika orde baru saja. Jauh sebelum itu lebih tepatnya di era kolonialisme Belanda, orang-orang China sudah seringkali jadi korban. Pemerintah Belanda dulu juga sempat anti terhadap China, hal tersebut dikarenakan perdagangan orang-orang China dianggap membahayakan. Akhirnya mereka mendapatkan perlakuan khusus.

Salah satunya adalah mengumpulkan orang-orang China dalam satu tempat. Tujuannya agar perdagangan mereka tak berkembang, sehingga ekonomi pemerintah Belanda sendiri takkan kena dampak. Inilah yang jadi awal mula pecinan di Indonesia. Alih-alih menderita, orang-orang China justru bisa berkembang di tanah pecinan yang sempit itu.

Zaman telah berlalu dan kini sikap rasisme terhadap orang China sudah terkikis habis. Mereka sudah menjadi bagian dari Indonesia. Bahkan beberapa menjadi tokoh sentral daerah yang punya kharisma luar biasa, Ahok misalnya. Tak perlu ada dendam dengan masa lalu. Biarlah yang sudah lewat menjadi tamparan agar tak terjadi di kemudian hari. Sekarang, siapa pun itu, Chinese, Jawa, Sunda, Batak dan lainnya, kita ada di bawah bendera yang sama. Punya hak serta kewajiban yang sama pula.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
LensaTerkini
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola