5 Kejanggalan Kelompok Gafatar Nusantara

Baru-baru ini organisasi Gafatar atau Gerakan Fajar Nusantara tengah menjadi sorotan publik. Pasalnya, beberapa laporan orang hilang yang terjadi di berbagai daerah dikait-kaitkan dengan lembaga ini.

Banyak hal misterius yang menyelimuti Gafatar sehingga muncul dugaan bahwa organisasi ini sesat. Berikut ini ulasan dari lima kejanggalan yang dibuat gafatar nusantara.

Beberapa Anggota Gafatar Adalah Mantan Anggota Al-Qiyadah al-Islamiyah

MUI telah mengeluarkn fatwa sesat untuk Al-Qiyadah karena memberikan beberapa ajaran yang tidak sesuai dengan Islam. Namun MUI belum mengeluarkan fatwa untuk Gafatar karena masih dikaji lebih dalam.

Meski begitu, Ketua Komisi Kajian MUI, Prof Utang Ranuwijara mengatakan bahwa ada fakta bahwa mereka mengajarkan keyakinan materi Al-Qiyadah secara terselubung. MUI saat ini tengah mengumpulkan bukti untuk mendukung pengkajian. Salah satunya adalah bahwa MUI Aceh juga telah melarang Gafatar karena dianggap sesat.

Gafatar Adalah Anak Negara Islam Indonesia (NII)

Ken Setiawan yang seorang mantan kader NII mengatakan bahwa Gafatar didirikan oleh Ahmad Moshaddeq, mantan anggota NII yang membelot dan membentuk ormas sendiri. Dengan terang-terangan Ken juga menyebut bahwa yang membentuk Gafatar itu satu guru dan satu ilmu dengan NII.

Sebelum Gafatar, Moshaddeq telah mendirikan Al-Qiyadah al-Islamiyah dan Komunitas Qiblah Abraham (Komar). Al-Qiyadah dilarang karena dianggap menistakan agama sementara Komar yang menggabungkan agama Islam, Nasrani dan Yahudi jadi satu dilarang karena masalah Tauhid. Moshaddeq bahkan sempat ditangkap dan dipenjara atas tuduhan penistaan agama.

Pendekatan Gafatar di Bidang Sosial Dinilai Sebagai Kedok

Dua organisasi sebelumnya memang kurang berkembang pesat dan tidak terlalu banyak memiliki pengikut. Pasalnya, keduanya memang dilarang karena dianggap sesat atau menyebarkan ajaran yang bertentangan dengan ajaran Islam di Indonesia.

Berbeda dengan dua organisasi pendahulunya, Gafatar memiliki lebih banyak pengikut. Kemungkinan hal ini tidak lain karena pendekatan yang dilakukan Gafatar juga berbeda. Moshaddeq tidak lagi mengedepankan paham keagamaan seperti yang dilakukan di Al-Qiyadah dan Komar, tapi lebih banyak melakukan kegiatan sosial dan banyak membantu masyarakat. Ken Setiawan juga berpendapat bahwa Gafatar menggunakan doktrin perubahan untuk menarik perhatian kalangan muda. Ternyata cara ini berhasil menarik minat para anggota muda.

Tidak Percaya Al-Quran, Hadist, dan Kiblat

Salah satu mahasiswa di Aceh, Haris mengaku pernah hampir bergabung dengan Gafatar. Namun ia memilih untuk mempelajari Gafatar terlebih dahulu, dan dari situlah ia melihat ada keanehan. Dalam diskusi yang diikutinya, Gafatar menanamkan bahwa Islam tidak perlu menghargai Al-Quran karena menurut mereka Al-Quran yang sekarang terbuat dari kertas.

Beda dari zaman dulu yang ditulis si pelepah kurma atau kulit kayu. Selain itu, mereka juga tidak percaya hadist dan ulama serta fatwanya karena beranggapan bahwa ulama dan yang menulis hadist tidak hidup di zaman nabi Muhammad.

Tidak berhenti di situ saja, mereka juga tidak percaya dengan kiblat yang berada di Mekkah. Menurut mereka kiblat akan berubah ke Indonesia karena suatu saat nanti akan lahir nabi baru di Indonesia. Mereka juga mengatakan bahwa shalat itu tidak lima kali, tapi hanya tiga kali di malam hari dan tidak perlu shalat Jumat.

Anggota Memberikan Uang Untuk Gafatar?

Sudah beberapa nama orang yang dilaporkan hilang diduga terkait dengan organisasi Gafatar. Winarti dan dua anaknya yang hilang setelah mengikuti organisasi Gafatar sempat meminta uang kepada keluarganya sebesar 25 juta rupiah untuk kegiatan Gafatar. Namun pihak keluarga tidak memberikan.

Selain Winarti, Faradina yang seorang PNS juga sempat meminjam uang sebesar 100 juta rupiah ke Bank Jatim. Hal itu dilakukannya sebelum dirinya juga pergi menghilang dan meninggalkan surat bernada ajaran Gafatar. Sementara dokter Rica yang sempat hilang ternyata ATM-nya juga dikuasai oleh dua sepupu yang membawanya pergi. Rica dan dua sepupunya juga merupakan anggota aktif Gafatar.

Itulah beberapa kejanggalan yang saat ini menyelimuti organisai Gafatar. Meski begitu, pihak berwajib dan MUI juga masih melakukan pengkajian mendalam tentang apa sebenarnya misi organisasi ini dan mengapa beberapa orang menghilang setelah ikut Gafatar. Tapi yang jelas, kita harus selalu berhati-hati dengan perkumpulan atau organisasi yang belum jelas agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola