5 Kasus Muncikari Pelajar Jual Teman Ke Pria Hidung Belang

Dunia pendidikan kembali tercoreng, seorang pelajar SMP malah menjual keperawanan temannya sendiri ke pria hidung belang. Motifnya bikin orang geleng-geleng kepala, yakni membeli gadget dan mempercantik diri. Kasus ini terungkap setelah polisi melakukan penelusuran terhadap pelaku berinisial AS (15) tersebut. Dia menjual teman sekolahnya sendiri, TP (15) seharga Rp 7 juta. Jika terlaksana, korban bakal mendapatkan uang sebesar Rp 5 juta dari hasil jual dirinya.

Peristiwa miris ini bukan yang pertama kali terjadi. Para pelajar sudah beberapa kali terlibat kasus prostitusi, tak hanya jadi PSK, mereka juga menjalani profesi sebagai muncikari.

Kasus ini pertama kali terungkap di Surabaya. Seorang siswi kelas 3 SMP Swasta di Surabaya, Jawa Timur selama enam bulan menjalani profesi sebagai muncikari. Bahkan, gadis berinisial, NA (15), sudah menjual tujuh anak baru gede (ABG) ke pria hidung belang. Mari simak ulasan dari 5 kasus pelajar yang jual teman pada pria hidung belang.

Jual teman demi gadget dan percantik diri

Gaya hidup menjadi motif siswi SMP di Medan terlibat dalam dunia prostitusi. Korban rela menjual keperawanan untuk membeli gadget dan mempercantik diri. Motif ini terungkap saat polisi yang melakukan penyamaran dan menangkap tangan siswi SMP, AS (15), yang menjual teman sekolahnya, TP (15), seharga Rp 7 juta.

"Korban ini (TP) motivasinya melakukan itu untuk membeli HP, rebonding dan keperluan pribadinya," jelas Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Helfi Assegaf, di Medan, Kamis (28/1). Berdasarkan pemeriksaan, TP rencananya akan mendapatkan Rp 5 juta dari transaksi itu. Sedangkan AS sang muncikari kebagian Rp 2 juta.

AS dan TP diamankan dalam transaksi di Hotel L di kawasan Jalan Jamin Ginting, Rabu (27/1) sore. AS diringkus setelah tertangkap tangan menjual temannya yang diklaim masih perawan seharga Rp 7 juta. Kejadian ini harus menjadi perhatian keluarga. Anak-anak perlu diarahkan dan mendapat pengawasan, terutama dalam bergaul.

Siswi kelas 3 SMP jual tujuh temannya

Siswi kelas 3 SMP Swasta di Surabaya, Jawa Timur menjadi muncikari. Selama enam bulan menjalani profesinya itu, NA (15), warga Surabaya itu sudah menjual tujuh anak baru gede (ABG) ke pria hidung belang. Namun aksi bejat NA itu segera tercium. NA tidak bisa lagi meneruskan bisnis prostitusi itu karena tertangkap tangan saat menjual tiga ABG di Hotel Fortuna Jalan Darmokali Surabaya, pada Sabtu malam (8/6).

Siswi yang akan mengikuti ujian semester akhir ini, terpaksa harus digelandang ke Mapolrestabes Surabaya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, bersama tiga ABG yang menjadi anak buahnya, yaitu DA, BL dan NR.

"Kami juga sempat menangkap pria yang menjadi pelanggannya. Namun, karena belum terbukti melakukan, kami hanya sebatas memintai kesaksiannya saja," kata penyidik di Mapolrestabes Surabaya, Minggu (9/6). Sementara itu, Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Suparti menjelaskan, modus yang dilakukan pelaku cukup sederhana. NA menawarkan kepada lelaki hidung belang dan mengajak bertemu untuk memberikan harga sambil memberikan foto-foto calon korbannya.

"Setelah ada kesepakatan harga, baru pertemuan dilangsungkan di hotel yang disepakati," kata dia. Suparti juga mengatakan, untuk sekali booking, tarif yang dibanderol untuk tiap ABG, rata-rata antara Rp 500 ribu hingga Rp 750 ribu. Bahkan ada juga yang seharga Rp 1 juta. "Dari harga itu, korban mendapatkan bagian Rp 500 ribu, sedang pelaku mendapat sisanya," tandas Suparti.

Ditangkap saat jajakan PSK ke penginapan

Kejadian ini cukup bikin geleng-geleng kepala. S (15) yang masih duduk di bangku SMP ditangkap saat menjual PSK ke beberapa penginapan. Gara-gara ulahnya itu, dia langsung dijebloskan ke penjara. Polisi tidak menyangka bahwa S merupakan muncikari yang menjadi target polisi. Setelah dilakukan penyelidikan dan memeriksa beberapa saksi, petugas akhirnya memutuskan menangkapnya dan memasukkannya ke tahanan.

"Ketika kami telusuri memang benar terdakwa yang masih duduk di bangku SMP itu, telah menjadi muncikari," terang salah satu saksi yang dihadirkan Polda Maluku, Wahyu dalam sebuah persidangan di PN Ternate, Selasa (22/9/2015).

Terdakwa akhirnya ditangkap saat sedang melakukan transaksi dengan seorang pria hidung belang di salah satu penginapan di Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah. Berkat penampilannya itu pula, orang-orang di penginapan tak menyadari bahwa pelaku adalah muncikari.

"Dia sering di penginapan kami, namun soal dia muncikari atau tidak, kami tidak tahu," ungkap resepsionis sebuah penginapan, Yako. Atas perbuatannya, terdakwa dijerat dengan pasal 2 ayat (1) dan pasal 12 dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun penjara.

Jual teman dengan iming-iming ponsel dan uang

Tidak jauh berbeda dengan kasus di Medan. Siswi SMP berinisial BL (15) di Nganjuk, Jawa Timur tega menjual temannya karena tergiur iming-iming ponsel dan uang. Praktik ini akhirnya terbongkar setelah orangtua korbannya, TS melaporkan kasus pemerkosaan kepada kepolisian. Pasalnya, TS tak hanya melayani satu orang pria, melainkan lima lelaki secara bergantian.

Niat BL menjual temanya sendiri bermula dari curhatan TS, di mana hubungan asmaranya dengan seorang lelaki berakhir. Pelaku lantas memanfaatkan BL dengan menawari TS menjual diri ditambah iming-iming ponsel dan uang.

"Dari hasil penyelidikan sementara korban dijual oleh temannya untuk imbalan telepon selular," ujar Kasatreskrim Polres Nganjuk AKP Hendra Krisniawan, Selasa (19/5/2015) lalu. Di depan penyidik, BL mengaku bersekolah di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Tanjunganom, Nganjuk. Dia duduk di bangku kelas VIII. Hanya saja, tidak diketahui alasan secara pasti karena yang bersangkutan sudah dua bulan tidak masuk sekolah.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat UU No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

Teman dijual seharga Rp 10 juta

Kasus yang terjadi di Bali malah lebih miris. Dua siswa SMA bernama Ni Putu S (17) dan Ni Ketut AA (17) menjual Ni Putu GM yang baru berumur 14 tahun ke seorang PNS berumur 39 tahun. Sebelum sepakat dengan harga Rp 3 juta, keduanya sempat menawarkan keperawanan GM seharga Rp 10 juta.

Jual beli itu bermula dari pertemuan I Gede S yang merupakan staf TU SD di Jembrana dengan dua muncikari itu. S meminta mereka untuk dicarikan perempuan yang masih perawan dan bisa diajak berhubungan intim.

Permintaan itu langsung disanggupi oleh Ni Putu S dan Ni Ketut AA. Mereka lantas membawa korban kepada S. Saat dipertemukan, keduanya menawarkan dengan harga Rp 10 juta. Tersangka menolaknya dengan alasannya tak memiliki uang sebanyak itu. Setelah terjadi tawar menawar, akhirnya keperawanan korban dihargai Rp 3 juta.

Tersangka pun langsung meluncur ke hotel dan meminta dua muncikari cilik itu mengantar korban ke hotel. Di sanalah pria hidung belang itu melancarkan aksinya.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola