4 Misi Gafatar Nusantara Yang Harus Diwaspadai

Beberapa kasus orang hilang yang terjadi beberapa waktu terakhir ini dikaitkan dengan organisasi Gafatar atau Gerakan Fajar Nusantara. Pasalnya, mereka yang hilang masih memiliki kaitan atau merupakan anggota Gafatar.

Dengan beberapa kasus orang hilang dan pemberitaan tentang ajaran yang tidak sesuai dengan kepercayaan rakyat Indonesia pada umumnya membuat banyak yang bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuan Gafatar. Berikut ini beberapa misi terselubung yang dimiliki oleh Gafatar. Mari simak ulasan dari empat misi kelompok gafatar nusantara.

Menyebarkan Paham Milata Abraham

Organisasi Gafatar memang sebelumnya terlihat sebagai organisasi sosial kemasyarakatan biasa. Mereka sering mengadakan kegiatan yang bersifat positif seperti donor darah atau kerja bakti dan membantu masyarakat. Meski begitu, mereka juga dengan rahasia menyebarkan paham Milata Abraham.

Dalam dokumen yang ditemukan saat penggrebekan Gafatar di Aceh misalnya, ditemukan bahwa mereka menjalankan misi untuk menyebarkan Milata Abraham. Dalam ajaran ini mereka mencampuradukkan ajaran agama Islam, Nasrani dan Yahudi menjadi satu. Mereka juga percaya bahwa Nabi Muhammad hanya diperintahkan untuk meniru ajaran agama Nabi Ibrahim sehingga mereka mengakui Nabi Muhamad tapi dengan cara yang berbeda.

Membuat Negara dalam Negara

Pendiri Gafatar sejatinya adalah Ahmad Mussadeq yang merupakan mantan anggota NII atau Negara Islam Indonesia. Ia juga pernah mendirikan organisasi lain yang dianggap sesat dan dilarang seperti Al-Qiyadah al-Islamiyah dan Komunitas Qiblah Abraham (Komar).

Kali ini, Gafatar yang dibentuknya bahkan memiliki visi misi serta pedoman perihal kebangsaan yang lengkap. Tidak hanya itu saja, Gafatar juga didirikan karena merasa prihatin dengan keadaan negara saat ini. Dengan berlandaskan pemahaman bahwa Indonesia masih pada taraf “mengantarkan kemerdekaan Indonesia ke depan pintu gerbang” (pembukaan UUD), mereka beranggapan bahwa Indonesia belum benar-benar mencapai kemerdekaan.

Dengan beberapa latar belakang tersebut, maka bukan tidak mungkin bahwa Gafatar juga menginginkan untuk membentuk sebuah negara atau pemerintah baru. Apalagi dengan menggunakan taktik doktrin perubahan, Gafatar ternyata juga berhasil merekrut masyarakat muda. Maka kemungkinan pembentukan negara dalam negara juga patut diwaspadai.

Mengembangkan Sikap Chauvinisme

Gafatar menggunakan pemahamannya tentang Nabi Ibrahim sebagai dasar ideologi mereka. Salah satunya adalah tentang nabi yang memiliki 3 orang istri yaitu Siti Hajar, Sarah dan Keturah. Menurut pemahaman mereka, keturunan Nabi Ibrahim dari Siti Hajar dan Sarah sudah mendapatkan berkah, namun hanya Keturah yang belum.

Bagi mereka keturunan dari Nabi Ibrahim dan Keturah adalah mereka yang akhirnya tinggal di Nusantara. Sehingga berkah dari Tuhan untuk keturunan Nabi Ibrahim dari Keturah yang dimaksud suatu saat adalah kebangkitan dan kejayaan Indonesia di masa depan. Bagi mereka, kebangkitan suatu bangsa akan terjadi di Indonesia, bukan di Arab atau negara lainnya.

Tentu saja kebangkitan bangsa Indonesia adalah impian setiap warga negara Indonesia, namun dengan menghubung-hubungkannya dengan mukjizat Ilahi pada akhirnya akan menimbulkan sikap Chauvinis atau mengunggulkan-unggulkan bangsa sendiri.

Menciptakan Agama/Kepercayaan Baru

Dalam wawancaranya, mereka mempercayai Nabi Muhammad, tapi dengan pemahaman yang berbeda dari agama Islam. Bagi mereka, Nabi Muhammad itu hanya diperintahkan untuk mengikuti atau mencontoh ajaran yang dibawa Nabi Ibrahim. Hal ini tentu berlawanan dengan apa yang dipercaya dalam ajaran Islam bahwa Nabi Muhammad telah menyempurnakan agama Islam. Mereka juga percaya bahwa Nabi Isa dan Nabi Musa mengikuti ajaran Nabi Ibrahim.

Gafatar percaya bahwa kebenaran apalagi yang dari Tuhan tidak akan ada masa kadaluarsanya. Karena itulah, jika Nabi Muhammad dianggap menyempurnakan, berarti kepercayaan, agama dan tuntunan ada masa kadaluarsanya. Hal inilah yang berlawanan bagi ideologi mereka. Karena kebenaran tidak memiliki masa kadaluarsa, dan Nabi Muhammad, Nabi Isa dan Nabi Musa hanya meniru, maka apa yang percayai berbeda dengan agama yang ada di Indonesia saat ini. Sebaliknya, ajarannya terkesan sebagai penggabungan Islam, Nasrani, dan Yahudi yang ketiganya berasal dari ajaran Abrahamic atau yang berasal dari Nabi Ibrahim.

Sebagai warga negara, sebaiknya kita waspada dengan adanya organisasi yang tiba-tiba bermunculan. Sebelum bergabung dan terjerumus di dalamnya, maka sebaiknya mempelajari dahulu apa sebenarnya visi, misi dan bahkan ideologi dari organisasi tersebut. Jika mereka menyebutkan sebuah konsep keagamaan, maka juga harus jelas agama seperti apa yang mereka maksud. Tidak dengan mengutip satu dua ayat dari kitab saja kita langsung percaya. Karena kitab dari agama atau kepercayaan apapun adalah untuk dipelajari dan dipahami dari awal hingga akhir. Bukan hanya menyimpulkan dari sebagian-sebagian kutipan saja.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
LensaTerkini
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola