4 Hal Tentang Perayaan Tahun Baru Yang Harus Diketahui Muslim

Semua kejadian yang ada sekarang ini punya sejarahnya. Termasuk bagi para Muslim sendiri, hal-hal yang berhubungan dengan syariat dan hukum Islam pasti memiliki cerita awal mula. Sejarah adalah bagian penting yang tidak boleh kita tinggalkan dalam menjalankan kehidupan beragama. Sayangnya, di masa sekarang ini, kebanyakan orang termasuk Muslim sepertinya mulai menganggap sejarah adalah sesuatu yang tak terlalu penting.

Perayaan tahun baru tak disangsikan juga dilakukan mereka para Muslim. Entah apa alasannya sampai melakukan hal tersebut, namun yang pasti hal ini adalah sesuatu yang jelas dilarang. Alasannya, ini bukanlah perayaan orang Islam, dan kedua adalah sejarah atau asal usul perayaan ini yang sama sekali jauh dengan nilai-nilai Islam. Makanya, untuk inilah pentingnya belajar sejarah.

Tentang tahun baru, ternyata ini merupakan tradisi yang sangat tidak Islami. Hukum melakukannya adalah berat, kita bahkan bisa tergolong umat islam yang tidak selamat nanti di akhirat. Berikut ini ulasan dari 4 hal tentang merayakan tahun baru yang harus diketahui umat muslim dunia.

Perayaan Tahun Baru Ternyata Memperingati Dewa Janus

Janus adalah nama dewanya orang-orang Pagan Romawi. Nama Janus sendiri seringkali diidentikkan sebagai awal mula kata Januari yang artinya adalah permulaan. Dewa Janus digambarkan dengan dua muka yang berlawanan arah, menyimbolkan masa lalu dan masa depan. Setiap awal tahun baru seperti beberapa waktu lalu, orang-orang Romawi melakukan pesta-pesta untuk memperingati sang Dewa.

Sama seperti kita, orang-orang dulu juga meledakkan kembang api di malam pergantian tahun, lengkap pula dengan hidangan-hidangan mewah plus bebunyian berisik. Upacara ini sebenarnya tak hanya untuk memperingati dewa Janus saja tapi juga kental dengan spirit religius bangsa Romawi. Jadi, secara tak langsung, kita turut melestarikan perayaan ini yang sebenarnya sangat bertentang dengan Islam dari sisi mana pun.

Topi Tahun Baru Adalah Simbol Penindasan Islam di Masa Lalu

Ada yang pakai topi kerucut tahun baru kemarin? Jika anda seorang Muslim, maka hal tersebut sangatlah memiriskan hati. Pasalnya, topi tahun baru justru adalah simbol penghinaan bagi Muslim di masa lalu. Kembali ke tahun 1492, Muslim mengalami penindasan dari Raja Ferdinand dan Ratu Isabela yang memimpin Spanyol. Orang-orang Muslim dibantai kala itu, namun beberapa orang berhasil selamat.

Namun, hidup juga tak lebih baik bagi mereka yang selamat. Raja dan Ratu Spanyol ini memberlakukan peraturan kejam. Para Muslim yang selamat dari pembantaian diberi opsi untuk ikut agama kedua orang tersebut atau keluar dari Spanyol. Karena berbagai alasan khusus, sebagian Muslim tak bisa keluar Spanyol kala itu dan terpaksa dimurtadkan oleh kerajaan. Sebagai tanda jika mereka sudah tak memeluk Islam, maka Raja dan Ratu memberikan semacam topi kerucut.

Dengan menilik peristiwa sejarah ini, maka ketika kita mengenakan topi kerucut, tak hanya saat tahun baru saja, secara tak langsung kita ikut bersorak atas murtadnya saudara sesama Muslim di masa lalu.

Fenomena yang Terjadi Sekarang

Sebenarnya dua sejarah di atas bukan lagi hal baru, utamanya bagi orang-orang Islam. Sayangnya, dengan berbagai dalih, orang-orang justru tak peduli dan ikut-ikutan merayakan. Tak hanya kembang api dan topi kerucut, banyak juga yang sampai menggelar pesta pora yang dulu juga dilakukan oleh orang-orang Romawi.

“Siapa yang meniru kebiasaan suatu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut,” begitu sabda Nabi Muhammad dalam salah satu hadist. Maknanya sudah jelas, kalau kita ikut gembira merayakan perayaan mereka yang bukan Islam, maka kita secara tak langsung termasuk dalam golongan mereka. Padahal sebagai Muslim kita tahu pasti kalau tak ada yang lain selain Islam. Dan kita mengerti betul konsekuensi meninggal tanpa memeluk Islam.

Ikut Perayaan Sama Dengan Pengakuan

Syarat untuk memeluk agama sangat simple, hanya butuh pengakuan. Syahadat sendiri adalah bentuk pengakuan kalau tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusanNya. Lalu bagaimana tentang tahun baru ini? Ya, kita yang ikut-ikutan merayakan acaranya, secara tak langsung mengakui kalau agama orang-orang Romawi adalah benar.

Bagaimana kita bisa mengaku Muslim tapi juga mengaku kebenaran agama lain? Sangat disayangkan banyak orang yang tak sadar melakukan hal semacam ini. Pengakuan terhadap kebenaran agama lain sangat sensitif di Islam. Bahkan bisa pula menyentuh ranah murtad alias keluar dari agama. Ketika keluar dari Islam, maka takkan ada lagi jaminan bagi kita untuk mendapatkan tempat terbaik kelak di akhirat. Firman Allah dalam Surat Ali Imron 19, “Sesungguhnya agama yang diridhoi di sisi Allah hanyalah Islam.”

Sepantasnya bagi Muslim tak perlu melakukan hal-hal yang jauh dari nilai-nilai Islam. Termasuk perayaan seperti ini yang siapa sangka justru punya latar belakang yang sangat berkebalikan dengan Islam. Namun, faktanya sungguh miris. Memang benar kalau kita kadang lebih suka perayaan mereka yang bukan Islam. Buktinya, mana ada pergantian tahun Hijriah yang semeriah tahun baru kemarin. Semoga kita tak lagi melakukan kesalahan seperti ini lagi di waktu-waktu mendatang.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
LensaTerkini
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola