10 Orang Yang Jadi Kepala Negara Paling Singkat di Dunia

Menjadi seorang kepala negara itu bukanlah hal yang mudah karena harus memimpin setiap aspek dalam sebuah negara. Meski begitu, ternyata ada juga yang bisa menjabat sebagai kepala negara dalam waktu yang cukup lama.

Banyak cerita tentang sosok yang mampu menjadi kepala negara dalam waktu yang lama. Namun seseorang dengan jabatan yang singkat jarang terdengar. Berikut ini ulasan dari 10 orang yang menjabat pemimpin negara dalam waktu pendek.

Khalid bin Barghash – 2 hari

Khalid bin Barghash pernah menjabat sebagai sultan di negara pulau kecil, Zanzibar pada tahun 1896 hanya menggantikan sepupunya Hamid bit Thuwaini yang meninggal tiba-tiba. Kerajaan Inggris menolak mengakui Khalid sebagai pemimpin Zanzibar dan mengirimkan ultimatum agar mengundurkan diri dalam waktu 2 hari.

Khalid menolak ultimatum ini dan Inggris kemudian mengirimkan lima kapal untuk mengambil alih pulau tersebut dan terjadilah perang Anglo-Zanzibar. Perang ini menjadi perang tersingkat dalam sejarah karena hanya berlangsung selama 38 menit. Sultan kemudian menyerah dan kabur ke Afrika Timur yang saat itu menjadi wilayah Jerman. Maka, berakhirlah kekuasaan Khalid bin Barghash hanya dalam waktu 2 hari.

Diosdado Cabello – 1 hari

Pada tahun 2002, sebuah kudeta memaksa pemimpin Venezuela, Hugo Chavez untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden. Namun, pendukuk Chavez melawan dan berhasil mengambil alih istana presiden. Dalam masa pemberontakan tersebut, Chavez akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya.

Secara teknis, Diosdado Cabello yang menjabat sebagai wakil presiden menjadi presiden. Untuk mengembalikan kedudukan Chavez, Diosdado Cabello mengangkat Chavez sebagai wakilnya dan ia mengundurkan diri keesokan harinya dari jabatan presiden, sehingga Chavez naik kembali menjadi presiden.

Ratu Tevita Momoedonu – 24 jam

Laisenia Qarase, seorang politikus yang ambisius ditunjuk sebagai perdana menteri sementara di Fiji pada tahun 2000 karena adanya kudeta militer. Jabatan sementara tersebut akan segera berakhir dalam waktu 1 tahun dan ia tidak bisa mengikuti pemilihan karena konstitusi Fiji.

Dengan memanfaatkan celah di konstitusi Fiji, Laisenia Qarase meyakinkan presiden Fiji untuk menunjuk Ratu Tevita Momoedonu yang merupakan sahabat Laisenia untuk menjadi Perdana Menteri. Laisenia dan Tevita telah membuat perjanjian sebelumnya, bahwa Tevita akan mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri 24 jam kemudian. Tevita setuju dan menunjuk Laisenia Qarase sebagai Perdana Menteri yang baru. Akibatnya, Tevita secara sah merupakan Perdana Menteri Fiji dalam waktu 24 jam.

Roger LaFontant – kurang dari 24 jam

Tahun 1991, presiden Haiti mengundurkan diri dari jabatannya dan orang yang seharusnya meneruskannya adalah Ketua Mahkamah Agung Haiti, Ertha Pascal-Trouillot. Ertha kemudian dengan segera merencanakan pemilihan umum yang demokratis, namun jenderal Roger LaFontant melakukan kudeta dan menjatuhkan Ketua Mahkamah Agung.

Ia kemudian mendeklarasikan diri sebagai presiden Haiti. Namun sebuah kudeta lain muncul untuk menggulingkan Roger LaFontant dan mengembalikan kedudukan Ketua Mahkamah Agung. Dengan kejadian ini, maka jabatan Roger sebagai presiden hanya berlangsung kurang dari 24 jam.

Dr. Joseph Goebbels – 5 jam

Ketika tentara komunis Rusia merangsek ke Berlin yang hancur, salah satu dekrit Presiden Adolf Hitler yang terakhir adalah menunjuk Joseph Goebbels sebagai pemimpin Nazi Jerman selanjutnya. Hitler yang telah diliputi rasa takut dan paranoia percaya, bahwa Joseph Goebbels yang merupakan menteri propagandanya adalah satu-satunya orang yang bisa ia percaya untuk meneruskan jabatannya, meskipun pengalaman kepemimpinan Joseph Goebbels sebenarnya juga dipertanyakan.

Ketika Hitler bunuh diri, Goebbels langsung menjadi kanselir Jerman. Ketika pasukan Barat sudah semakin mendekat ke wilayah bunker Hitler, Goebbels mengikuti langkah yang diambil Hitler yaitu dengan bunuh diri juga daripada harus ditangkap oleh pasukan musuh. Secara teknis, Goebbels hanya menjabat sebagai pemimpin Nazi selama 5 jam saja.

Boris Yeltsin – kurang dari 5 jam

Pada tahun 1998 di tengah kemelut krisis politik, Presiden Rusia Boris Yeltsin membubarkan perdana menteri beserta jajaran kabinetnya. Yeltsin membuat reputasinya semakin buruk dengan langkah politiknya yang tidak biasa ketika ia menjadikan dirinya sendiri sebagai Perdana Menteri.

Langkahnya mendapatkan kritik besar-besaran karena sangat tidak sesuai dengan konstitusi. Ia kemudian mengundurkan diri dari jabatan perndana menteri dan menunjuk orang lain di posisi tersebut.

Skënder Gjinushi – 2-5 jam

Sali Berisha menjabat sebagai presiden Albania meskipun ia sebenarnya kalah dalam pemlihan presiden. Akhirnya, karena kemarahan masyarakat yang semakin memanas, Sali Berisha turun dari jabatannya sehingga Skënder Gjinushi naik menjadi presiden.

Ia secara teknis menjadi presiden pengganti sampai Parlemen mendapatkan seseorang untuk duduk di kursi presiden. Ia hanya menjabat sebagai presiden selama beberapa jam saja.

Carlos Manuel Piedra – 2-5 jam

Pada tahun 1959, pemerintahan Batista yang memimpin Kuba sebelum Fidel Castro mendapatkan kekuatannya terus runtuh. Ketika para pemberontak semakin mendekat ke Havana, ibu kota Kuba, gelombang mengundurkan diri dari dunia politik bermunculan. Presiden Batista mengundurkan diri, begitu juga dengan wakilnya Anselmo Alliegro yang mengundurkan diri keesokan harinya.

Secara teknis, ketua kongres seharusnya menjadi penerus presiden. Namun ketua kongres ternyata juga mengundurkan diri dan kabur. Akhirnya, jabatan sebagai presiden jatuh ke Ketua Mahkamah Agung. Militer mengumumkan bahwa Manuel Piedra sebagai presiden dan mengawalnya ke istana presiden.

Sebagai presiden, ia meminta warga Kuba untuk mematuhi peraturan dan bersumpah akan memimpin Kuba untuk melewati krisis. Namun, hanya beberapa jam kemudian, Piedra kabur ke kedutaan Amerika karena pemberontak telah mengepung istananya. Maka berakhirlah jabatannya selama 2 jam sebagai presiden.

Siaka Stevens – 30 menit

Pada tahun 1967, Siaka Steven terpilih sebagai presiden Sierra Leone hanya dengan selisih yang kecil. Namun presiden yang masih menjabat menolak untuk meninggalkan kantor kepresidenan. Untuk menjatuhkan Steven, hanya beberapa menit setelah disumpah, pihak militer menerobos ke dalam ruangan dan menangkapnya.

Beberapa tahun kemudian, Siaka akhirnya benar-benar menjadi presiden Sierra Leone dan memimpin selama lebih dari 20 tahun. Namun pada tahun 1967, ia hanya menjadi presiden selama kurang dari 30 menit.

Luis Filipe – kurang dari 30 menit

Pada tahun 1908, putra mahkota Filipe menemani ayahnya, raja Carlos dari Portugis dalam sebuah tur kerajaan. Para pasukan revolusi menyerang rombongan kerajaan dan menembak pangeran Filipe beserta ayahnya.

Raja Carlos meninggal di tempat, namun pangeran Filipe berhasil selamat meskipun akhirnya juga meninggal dunia karena beberapa luka tembakan dalam perjalanan ke rumah sakit. Secara teknis, rangkaian kejadian ini membuat putra mahkota Filipe menggantikan posisi ayahnya sebagai raja Portugal selama kurang dari 30 menit pada tahun 1908 ketika ia dibawa ke rumah sakit.

Itulah tadi beberapa kepala negara yang ternyata hanya mampu menjabat dalam waktu yang sangat singkat. Saingan atau taktik politik menjadi penyebab singkatnya jabatan mereka. Namun memang begitulah politik, penuh dengan hal-hal yang sulit diduga.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola