10 Kasus Kejahatan Yang Disebabkan Candu Bermain Game

Terlepas dari jumlah penelitian yang dengan jelas berkesimpulan ke efek positif yang dihasilkan oleh video game,pendapat tentang efek negatif yang mampu ditimbulkan oleh permainan virtual ini seperti tidak terkalahkan. Salah satu yang paling jelas adalah soal keterkaitan video game dengan tindak kekerasan dan kriminal yang mungkin diperlihatkan oleh para gamer.

Walaupun sudah banyak penelitian yang dengan jelas membantah dan menolak keterkaitan ini, mereka yang skeptis seolah tak menyerah. Setiap kali ada kasus besar dan pelakunya kebetulan bermain game, kesalahan utama langsung diarahkan kepada video game. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Ada kemungkinan mereka ada orang-orang yang rasis! Berikut10 Kasus Kejahatan Akibat Video Game dikutip bebagai sumber. Mari simak ulasan dari 10 kejahatan ini akibat kecanduan bermain game.

Justin Williams

Pada bulan juli 2012, seorang pemuda bernama Jordan Osborne (20 tahun) dari Peterborough, Ontario, Kanada mendengar suara teriakan yang datang dari rumah tetangganya, kemudian dia pergi untuk menyelediki. Ternyata sang tetangga, Justin Williams, sedang berdebat dengan pemain lain melalui headset saat bermain World of Warcraft. 

Osborne meminta kepada Williams untuk tidak perlu berteriak, dan mengatakan “itu hanyalah sebuah permainan.” Williams menanggapi “Ini bukan sekedar permainan, ini adalah hidup saya!!!”, kemudian Williams mencekik leher, memukul, dan menusuk dada Osborne. Osborne dirawat beberapa lama dan akhirnya selamat, sementara Williams ditangkap dan didakwa dengan penganiayaan menggunakan senjata tajam.

Penyerangan Tempat Ibadah

Seorang pemuda bernama Anthony Graziano (19 tahun) didakwa karena percobaan pembunuhan, kemudian diperparah oleh dua serangan pada gereja di New Jersey. Graziano diduga menyerang rumah-rumah ibadah menggunakan kaleng aerosol yang telah dimodif, serta bom Molotov.

Beruntung, hanya satu pendeta yang mengalami cedera dengan luka bakar di tangan. Pengacara Graziano berpendapat bahwa dia mengalami penyakit mental dan terlalu dipengaruhi oleh video game, yang katanya berperan besar pada mental kliennya. Sayangnya pengacara itu tidak bisa mengungkapkan video game yang dimainkan oleh Graziano.

Crystian Rivera

Chrystian Rivera, dari Oklohama adalah seorang remaja berusia 14 tahun yang membunuh adik kandungnya sendiri, Linda. Ketika Rivera bermain Call of Duty: Black Ops, dia mendengar adik perempuannya menangis karena terjatuh. Merasa terganggu, ia meninggalkan game-nya dan kemudian membanting adiknya dengan sangat keras.

Adiknya dirawat dirumah sakit setelah orang tuanya datang malam itu juga. Linda meninggal 3 hari kemudian, dengan tulang tengkorak retak dan pembekuan darah. Rivera diadili dan dihukum sebagai tersangka, dan bertempat di pusat peradilan anak.

Tragedi Raynham

Pada tahun 2010 di Raynham Massachusetts, 2 orang remaja berusia 12 dan 16 tahun dituduh mencoba membakar sebuah garasi dan sebuah gedung apartemen dengan bom molotov yang terbuat dari botol beer. Seorang pria yang melihat api di garasi pada pukul 4:00 melaporkan kejadiannya kepada Polisi, kemudian polisi menangkapnya dan menemukan bom Motolotov ketiga yang dibuat tetapi belum sempat digunakan. 

Dari pengakuan tersangka yang berusia 16 tahun mengaku memang membuat bom , dan mencuri 5 galon bensin. Sedangkan kawannya yang berusia 12 tahun mengatakan bahwa mereka mendapat ide gila tersebut dari game Grand Theft Auto, yang mereka telah mereka mainkan malam itu.

Julien Barreaux 

Julien Barreaux adalah seorang pemuda berusia 20 tahun dari Cambrai , Perancis. Saat Barreaux sedang bermain game Counter-Strike online, dia mendapati bahwa karakternya dibunuh oleh pemain lain yang bersenjatakan pisau. Kemudian Barreaux menghabiskan waktu tujuh bulan untuk merencanakan balas dendam terhadap orang yang membunuh karakternya.

Ia menemukan bahwa pemain yang membunuh karakternya adalah orang yang ternyata hanya beberapa mil jauhnya dari lokasi tempat tinggal Barreaux, yang bernama Mikhael. Dia datang ke rumah Mikhael, ketika Mikhael membuka pintu, Barreaux menusuk pada dadanya. Selang satu jam kemudian ia kemudian ditangkap. Untungnya, Mikhael selamat, sedangkan Barreaux dihukum dua tahun penjara.

Kim Yoo - chul dan Choi Mi -sun

Pasangan Korea Selatan ini adalah pecandu game online, dan mereka mempunyai seoarang anak. Sayangnya, anak mereka lahir prematur. Lebih sayangnya, orang tuanya menjadi lebih terobsesi untuk merawat bayi virtual merek , Anima, dan mulai mengabaikan anak mereka yang sebenarnya. Mereka hanya akan menghampiri setiap 12 jam atau lebih untuk memberi makan anak nyata mereka, tetapi menghabiskan sebagian besar hidup mereka di sebuah warnet dan tak satu pun dari mereka memiliki pekerjaan.

Suatu hari, mereka menemukan putri mereka tewas, dan otopsi mengungkapkan bahwa ia kekurangan gizi akibat kelalaian dari orang tua. Pasangan itu melarikan diri ke rumah orang tua Choi Mi -sun, tapi kemudian mereka ditangkap.

Will dan Josh Buckner

Will dan Josh Buckner adalah remaja yang berusia 13 dan 15 tahun. Mereka melukai dan membunuh pengendara kendaraan bermotor dengan menembakkan korban dengan senapan. Mereka mengaku meniru adegan seperti pada Grand Theft Auto 3, yang mana pemain harus membunuh orang sebanyak mungkin dengan senapan.

Mereka mengklaim bahwa mereka "tidak pernah bermaksud untuk menyakiti siapa pun" Kemudian keduanya ditahan dan menghabiskan beberapa bulan pada kantor penahanan remaja bagian kejahatan. Setelah kejadian ini, orang tua mereka mencoba untuk mendapatkan asuransi untuk menutupi biaya kerusakan yang telah mereka timbulkan. Tetapi perusahaan asuransi menolaknya.

Racun Hu Ange 

Hu Ange, seorang pria 21 tahun asal Cina diberi 50.000 yuan ( $ 7,353 ) oleh orang tuanya sebagai modal untuk berinvestasi dalam bisnis seafood. Namun, ia malah menghabiskan uangnya untuk bermain game online Legend Instead. Ia menjadi sangat terpengaruh oleh permainannya, dan beberapa bulan setelah ia mendapat uang dari orang tuanya, ia memutuskan untuk meracuni mereka. 

ada 14 Juli 2007, Hu Ange membeli 20 bungkus tetramina, yang digunakan untuk meracuni orang tuanya. Dan ternyata usaha tersebut gagal, kemudian ia membeli 45 paket lagi untuk dicampur dengan daging sapi dan meracuni kedua orangtuanya pada tanggal 24 Juli. Ketika Ibunya berteriak minta bantuan, tapi ia terus bermain game dan membiarkan orang tuanya meninggal. Dia dijatuhi hukuman mati, tetapi dengan alasan sakit mental. Kecanduan internet dinyatakan sebagai penyakit mental di China pada waktu sekarang ini.

Ionut Savin

Ionut Savin (15 tahun) adalah seoarang remaja pecandu game Counter Strike. Dia menjadi begitu terobsesi dan berhenti bergaul dengan teman-temannya dalam kehidupan nyata. Ia tidak masuk sekolah selama 200 hari.

Menanggapi kecanduan yang dialami putranya, ibunya memotong koneksi internetnya. Ketika ibu melakukannya, Savin langsung menikamnya 17 kali, setelah itu ia mengambil semua uang di dalam rumah, dan pergi ke sebuah warnet selama 4 jam.

Kemudian ayahnya menelepon polisi. Pada saat Savine kembali ke rumah, dia berkata "Aku pikir aku salah satu yang Anda cari." Dia kemudian menjalani pemeriksaan kejiwaan dan dihukum hingga 12 tahun penjara.Namun para ahli mengatakan bahwa jumlah luka tusukan menunjukkan gangguan mental.

Gevin Allen Prince

Gevin Allen Prince adalah seorang remaja yang berusia 15 tahun. Ia ditangkap karena dakwaan membunuh neneknya pada tahun 2011. Kejadian itu bermula saat sang nenek meminta Gevin untuk berhenti bermain video game, kemudian Gevin malah menikam wanita 77 tahun itu dengan pedang samurai yang ia punya.

Polisi melumpuhkan Gevin dengan senapan angin. Ini adalah ketiga kalinya ia ditangkap dalam tiga bulan karena kekerasan, dan ia sudah punya pedang lain yang sudah disita.

Terimakasih Telah Berkunjung, Have FUN
Back To Top
ADA Voucher Belanja Gratis Klik Gambar dibawah ini
Agen Bola